Jumat, 04 Mei 2018

Kisah Misteri : TELEPON TENGAH MALAM


Bagian 1
Telepon Tengah Malam


Jogja, menjelang akhir 90-an.
Aku sebenarnya ragu dengan rumah kos ini, biarpun besar dan dekat dengan kampus.
Kesan pertama, muram dan kurang terawat.
Mungkin karena pohon besar itu, yang meninggalkan daun-daunnya berserakan di halaman bangunan yang luas. Lapisan cat berwarna krem pada sebagian dinding bangunan telah berlumut, sebagian lagi mengelupas. Angka empat pada penanda nomor rumah di pilar pintu gerbang terhuyung miring.
Tapi apa daya, bisnis Papa mengalami kesulitan sejak enam bulan lalu membuatku kini harus meninggalkan nyamannya kamar mewah di asrama putri yang sebelumnya kutempati. Mama sudah tak sanggup meneruskan membayar sewanya. Bahkan, aku masih cukup beruntung tetap bisa meneruskan kuliah. Dengan berhemat sana sini tentunya.
Dan sampailah aku disini.

"Cari siapa, Mbak?"
Seorang nenek tua tiba-tiba menyapa mengejutkanku. Perawakannya pendek dan gempal, dengan rambut beruban yang digelung. Sinar matanya teduh bersahabat. Mengingatkanku pada Mbok Dar, pembantu di rumah yang sudah ikut keluarga kami sejak Papa masih remaja.

"Mbak, cari sia-?"
Aku tergagap menjawab, "Ma-maaf, Bu. Apa betul ini kos-kosan Bu Santi?"
"Iya. Betul, Mbak. Ada apa ya?" jawabnya sopan lalu terbungkuk-bungkuk membuka kunci gerbang.
"Saya anak temannya Bu Santi. Kemaren ibu saya sudah nelpon kalau saya mau kesini"
"Oh. Ayo mari masuk, Mbak. Kebetulan Bu Santi ada"
"Mbak, siapa namanya? Biar Mbok kasih tau ke Ibu." lanjutnya setelah mengunci gerbang kembali.

"Saya Feli, kalau Nenek..?" kuulurkan tangan hendak menjabatnya. Dia menatap tanganku, kemudian beralih ke wajahku. Sekilas kulihat keraguan di dirinya.
"Eh. Maaf, Mbak. Tangan Mbok Jum kotor. Ayo, mari Mbok antar ke dalam". Dia menampik halus jabatan tanganku.
Kusampirkan tasku di bahu, melangkah memasuki halaman mengikuti Mbok Jum melewati pohon besar tadi. Beberapa helai daun kering berjatuhan di rambut dan bajuku.

Dan dari dekat, penampilan rumah ini semakin membuatku ragu. Bangunan rumah dua lantai bergaya klasik, atau mungkin memang sudah berumur. Balkon besar di lantai dua menjorok ke depan ditopang dua pilar dengan profil garis-garis vertikal diakhiri lengkungan melingkar di ujungnya, bewarna kusam.
Di lantai dasar, jendela kaca besar berornamen mengapit pintu depan berdaun ganda yang tak kalah besarnya. Langit-langit teras terkelupas dan berlubang di beberapa tempat, tanda tak terawat.
Mama kok punya temen yang rumahnya serem gini ya?

Mbok Jum membuka salah satu daun pintu depan dan mempersilahkanku masuk "Silahkan, Mbak"
Wooww...gilaa..
Berbeda sekali dengan kondisi bagian luar rumah, di dalam tampak bersih dan cukup mewah. Lantai terasso berwarna krem kekuningan mendominasi luas ruangan yang menurutku ruang utama, ditambah perpaduan meja besar dan kursi kayu dengan guci-guci berukuran setinggi pinggang, menghilangkan kesan burukku tadi.
Ada satu benda yang membuatku tertegun, jam lonceng besar di sudut ruangan, mirip seperti di rumah Opa.

"Ada siapa, Mbok?" suara seorang wanita setengah baya mengejutkanku, diikuti langkahnya menuruni tangga  oval di sisi ruangan utama.
"Ini, Bu. Yang kemaren Ibu pesen mau ada tamu yang dateng" jawab Mbok Jum.
Wanita itu merapihkan kimono tidurnya, melihatku dan tersenyum. Dia menatapku beberapa saat, membuatku salah tingkah.
"Kamu Feli ya..? Inget nggak sama Tante?" Ia melangkah menjabat tanganku erat.
"Eh..iya, Tante. Saya Feli"
"Dulu sekali, kamu pernah kesini sama Mama Papamu. Waktu kamu masih kecil. Masa nggak inget?"

Kucoba mengingat-ingat, tapi tak menemukan sedikit pun memori itu. "Mmm..maaf, Tante. Aku nggak inget" jawabku kemudian.
Dia kembali tersenyum. Digamitnya lenganku dan menyeretku duduk di sofa.
 "Ya udah, nggak papa. Gimana Mamamu, sehat?"
"Sehat, Tante"
"Kalau Papa?"
"Baik juga"
"Syukurlah semua baik. Papa masih usaha kontraktor?" lanjutnya.
"Mmm..masih, Tante. Tapi kantornya udah tutup, sekarang Papa ngantor di rumah" jawabku muram.

Kekacauan politik dan tragedi bulan Mei lalu benar-benar memukul usaha yang telah dirintis Papa sejak muda. Satu demi satu asetnya harus dijual untuk menutupi kerugian beberapa proyeknya yang ikut terkena imbas kerusuhan.
Bagaimana tidak, para pemilik perusahaan klien Papa banyak yang lari keluar negeri bahkan ada yang menjadi korban kerusuhan, sedangkan upah tukang dan hutang Bank tetap harus dilunasi.
Dia menghela nafas sejenak, mungkin tahu kekurangnyamananku menjawab. Aku yakin Mama juga sudah menceritakan keadaan kami kepadanya.

# # #

Tak terasa satu minggu sudah aku tinggal di sini.
Tak kusangka, di dalam rumah ini ada sepuluh kamar yang dikoskan, terletak di belakang bangunan rumah utama terpisahkan oleh dapur. Dan semua kamar kosnya terisi penuh. Karena pertemanannya dengan Mama, Tante Santi memberikan potongan harga khusus buatku untuk tinggal di kos itu.
Beruntungnya lagi, kamar yang kutempati terletak paling dekat dengan dapur atau bangunan utama. Penghuni kamar sebelah, berurutan ke kanan, Lia, Devi, Mita dan Maria. Sedangkan di deretan seberang, ada Fay dan Rita yang kukenal, tiga lainnya jarang pulang ke kos.

Dari kesemuanya, Lia dan Fay yang paling akrab denganku karena kami sepantaran. Mereka yang membantuku merapikan barang-barang di kamar saat hari pindahan, sehari setelah kedatanganku pertama kali di rumah Tante Santi ini.
Melalui cerita mereka, kutahu Tante Santi tinggal dan mengelola kos ini dibantu Mbok Jum yang sudah lama bekerja padanya. Untuk urusan mencuci pakaian, ada tukang cuci yang setiap hari datang pagi dan pulang setelah lewat tengah hari.
"Tante Santi tuh udah lama ditinggal mati suaminya, anaknya ada dua. Sudah berkeluarga semua, tinggal di Surabaya dan Medan" cerita Lia suatu saat.
"Tapi dia udah tenang hidupnya, warisan suaminya banyak. Makanya dia bisa punya banyak kos-kosan. Ada empat lagi selain di sini, belum lagi ruko yang dikontrakin"

"Wah, hebat ya" jawabku.
"Memangnya Mama kamu nggak pernah cerita tentang Tante Santi?" Fay ikut nimbrung.
"Enggak tuh, Mama cuma bilang ada temen Mama yang punya kos-kosan" jawabku, tak ingin mereka bertanya lebih jauh hubungan Mama dengan Tante Santi, apalagi alasanku sebenarnya pindah kesini.
"Pokoknya kamu bakal betah deh disini. Tante orangnya nggak bawel, yang penting jam sepuluh malem udah nggak boleh ada tamu. Jam sebelas kalau malem minggu" lanjut Fay.
"Iya, Fel, ini aja kita dikasih duplikat kunci gerbang sama pintu depan kan. Biar kalau kita pulang pacaran kemaleman masih bisa masuk, kaya si Fay tuh. Iya kan, Fay. Hahahaha...". Lia tertawa terbahak-bahak.
"Enak aja. Kamu tuh yang suka nyelundupin Mas-mu ke kamar" tangkis Fay bengis.

Bantal melayang ke mukanya dilanjutkan gulingku yang innocent jadi korban lemparan. "Sssstt...Gila Lu ya. Ngomong pake Toa sekalian". Lia sewot.
Sakit nih bocah berdua.

"Oh ya, ada satu yang perlu kamu tau. Kamu liat di meja deket pintu dapur ada telepon kan? Nah, udah jadi tugas yang kamarnya terdekat yang menjawab kalo ada telepon.". Lia dan Fay tersenyum penuh arti.
"Lho, emang ada aturan gitu ya?"
"Ada, dong. Apalagi kamu anak baru. Hihihi.."
"Nggak gitu juga, sih. Maksudnya kalau telepon bunyi, kamarmu kan paling deket, jadi paling keberisikan. Mau nggak mau kamu mesti angkat" jelas Fay lagi.
Aku hanya bisa manggut-manggut pasrah.

# # #

Malam itu.

Kriing...
Kriiing...
Kriing…

Aku hampir terjatuh dari kasurku, saking kencangnya bunyi telepon itu. Kulirik jam di dinding.
Busyet, jam duabelas, siapa sih malem malem gini telpon..?

Kriing...
Kriiing...
Kriing…

Kututup kepalaku memakai bantal, berharap Lia atau Fay atau siapa saja anak kos yang lain mau mengangkat telepon itu. Setelah beberapa deringan, kemudian  hening.
Fiuuuhhh...bobo lagi, aah.

Belum sempat menarik selimut untuk meneruskan tidur,

Kriing...
Kriiing…
Kriing…

Damn! Bunyi lagi…

 Dengan malas-malasan aku turun dari kasur, membuka kunci pintu dan melangkah keluar kamar.

Suasana sepi sekali diluar.
Kriing…

Langsung kuangkat telepon itu.
"Halo..."
Hanya hening yang terdengar.


To be continue.....