Bagian 1
Telepon Tengah Malam
Jogja, menjelang akhir 90-an.
Aku
sebenarnya ragu dengan rumah kos ini, biarpun besar dan dekat dengan kampus.
Kesan
pertama, muram dan kurang terawat.
Mungkin karena pohon besar itu, yang meninggalkan daun-daunnya berserakan di halaman bangunan yang luas. Lapisan cat berwarna krem pada sebagian dinding bangunan telah berlumut, sebagian lagi mengelupas. Angka empat pada penanda nomor rumah di pilar pintu gerbang terhuyung miring.
Mungkin karena pohon besar itu, yang meninggalkan daun-daunnya berserakan di halaman bangunan yang luas. Lapisan cat berwarna krem pada sebagian dinding bangunan telah berlumut, sebagian lagi mengelupas. Angka empat pada penanda nomor rumah di pilar pintu gerbang terhuyung miring.
Tapi
apa daya, bisnis Papa mengalami kesulitan sejak enam bulan lalu membuatku kini
harus meninggalkan nyamannya kamar mewah di asrama putri yang sebelumnya
kutempati. Mama sudah tak sanggup meneruskan membayar sewanya. Bahkan, aku
masih cukup beruntung tetap bisa meneruskan kuliah. Dengan berhemat sana sini
tentunya.
Dan
sampailah aku disini.
"Cari
siapa, Mbak?"
Seorang nenek tua tiba-tiba menyapa
mengejutkanku. Perawakannya pendek dan gempal, dengan rambut beruban yang
digelung. Sinar matanya teduh bersahabat. Mengingatkanku pada Mbok Dar,
pembantu di rumah yang sudah ikut keluarga kami sejak Papa masih remaja.
"Mbak, cari sia-?"
Aku
tergagap menjawab, "Ma-maaf, Bu. Apa betul ini kos-kosan Bu Santi?"
"Iya.
Betul, Mbak. Ada apa ya?" jawabnya sopan lalu terbungkuk-bungkuk membuka kunci
gerbang.
"Saya
anak temannya Bu Santi. Kemaren ibu saya sudah nelpon kalau saya mau
kesini"
"Oh.
Ayo mari masuk, Mbak. Kebetulan Bu Santi ada"
"Mbak,
siapa namanya? Biar Mbok kasih tau ke Ibu." lanjutnya setelah mengunci
gerbang kembali.
"Saya
Feli, kalau Nenek..?" kuulurkan tangan hendak menjabatnya. Dia menatap
tanganku, kemudian beralih ke wajahku. Sekilas kulihat keraguan di dirinya.
"Eh.
Maaf, Mbak. Tangan Mbok Jum kotor. Ayo, mari Mbok antar ke dalam". Dia
menampik halus jabatan tanganku.
Kusampirkan
tasku di bahu, melangkah memasuki halaman mengikuti Mbok Jum melewati pohon
besar tadi. Beberapa helai daun kering berjatuhan di rambut dan bajuku.
Dan dari dekat, penampilan rumah ini
semakin membuatku ragu. Bangunan rumah dua lantai bergaya klasik, atau mungkin
memang sudah berumur. Balkon besar di lantai dua menjorok ke depan ditopang dua
pilar dengan profil garis-garis vertikal diakhiri lengkungan melingkar di
ujungnya, bewarna kusam.
Di lantai dasar, jendela kaca besar
berornamen mengapit pintu depan berdaun ganda yang tak kalah besarnya.
Langit-langit teras terkelupas dan berlubang di beberapa tempat, tanda tak
terawat.
Mama kok punya
temen yang rumahnya serem gini ya?
Mbok
Jum membuka salah satu daun pintu depan dan mempersilahkanku masuk "Silahkan,
Mbak"
Wooww...gilaa..
Berbeda
sekali dengan kondisi bagian luar rumah, di dalam tampak bersih dan cukup
mewah. Lantai terasso berwarna krem kekuningan mendominasi luas ruangan yang
menurutku ruang utama, ditambah perpaduan meja besar dan kursi kayu dengan
guci-guci berukuran setinggi pinggang, menghilangkan kesan burukku tadi.
Ada
satu benda yang membuatku tertegun, jam lonceng besar di sudut ruangan, mirip
seperti di rumah Opa.
"Ada
siapa, Mbok?" suara seorang wanita setengah baya mengejutkanku, diikuti
langkahnya menuruni tangga oval di sisi
ruangan utama.
"Ini,
Bu. Yang kemaren Ibu pesen mau ada tamu yang dateng" jawab Mbok Jum.
Wanita
itu merapihkan kimono tidurnya, melihatku dan tersenyum. Dia menatapku beberapa
saat, membuatku salah tingkah.
"Kamu Feli ya..? Inget nggak sama
Tante?" Ia melangkah menjabat tanganku erat.
"Eh..iya,
Tante. Saya Feli"
"Dulu
sekali, kamu pernah kesini sama Mama Papamu. Waktu kamu masih kecil. Masa nggak
inget?"
Kucoba
mengingat-ingat, tapi tak menemukan sedikit pun memori itu. "Mmm..maaf, Tante.
Aku nggak inget" jawabku kemudian.
Dia
kembali tersenyum. Digamitnya lenganku dan menyeretku duduk di sofa.
"Ya udah, nggak papa. Gimana Mamamu,
sehat?"
"Sehat,
Tante"
"Kalau
Papa?"
"Baik
juga"
"Syukurlah
semua baik. Papa masih usaha kontraktor?" lanjutnya.
"Mmm..masih,
Tante. Tapi kantornya udah tutup, sekarang Papa ngantor di rumah" jawabku
muram.
Kekacauan
politik dan tragedi bulan Mei lalu benar-benar memukul usaha yang telah
dirintis Papa sejak muda. Satu demi satu asetnya harus dijual untuk menutupi
kerugian beberapa proyeknya yang ikut terkena imbas kerusuhan.
Bagaimana
tidak, para pemilik perusahaan klien Papa banyak yang lari keluar negeri bahkan
ada yang menjadi korban kerusuhan, sedangkan upah tukang dan hutang Bank tetap
harus dilunasi.
Dia menghela nafas sejenak, mungkin tahu
kekurangnyamananku menjawab. Aku yakin Mama juga sudah menceritakan keadaan
kami kepadanya.
# # #
Tak
terasa satu minggu sudah aku tinggal di sini.
Tak kusangka, di dalam rumah ini ada sepuluh kamar yang dikoskan, terletak di belakang bangunan rumah utama terpisahkan oleh dapur. Dan semua kamar kosnya terisi penuh. Karena pertemanannya dengan Mama, Tante Santi memberikan potongan harga khusus buatku untuk tinggal di kos itu.
Tak kusangka, di dalam rumah ini ada sepuluh kamar yang dikoskan, terletak di belakang bangunan rumah utama terpisahkan oleh dapur. Dan semua kamar kosnya terisi penuh. Karena pertemanannya dengan Mama, Tante Santi memberikan potongan harga khusus buatku untuk tinggal di kos itu.
Beruntungnya
lagi, kamar yang kutempati terletak paling dekat dengan dapur atau bangunan
utama. Penghuni kamar sebelah, berurutan ke kanan, Lia, Devi, Mita dan Maria. Sedangkan
di deretan seberang, ada Fay dan Rita yang kukenal, tiga lainnya jarang pulang
ke kos.
Dari
kesemuanya, Lia dan Fay yang paling akrab denganku karena kami sepantaran. Mereka
yang membantuku merapikan barang-barang di kamar saat hari pindahan, sehari
setelah kedatanganku pertama kali di rumah Tante Santi ini.
Melalui
cerita mereka, kutahu Tante Santi tinggal dan mengelola kos ini dibantu Mbok
Jum yang sudah lama bekerja padanya. Untuk urusan mencuci pakaian, ada tukang
cuci yang setiap hari datang pagi dan pulang setelah lewat tengah hari.
"Tante
Santi tuh udah lama ditinggal mati suaminya, anaknya ada dua. Sudah berkeluarga
semua, tinggal di Surabaya dan Medan" cerita Lia suatu saat.
"Tapi dia udah tenang hidupnya,
warisan suaminya banyak. Makanya dia bisa punya banyak kos-kosan. Ada empat lagi
selain di sini, belum lagi ruko yang dikontrakin"
"Wah,
hebat ya" jawabku.
"Memangnya
Mama kamu nggak pernah cerita tentang Tante Santi?" Fay ikut nimbrung.
"Enggak
tuh, Mama cuma bilang ada temen Mama yang punya kos-kosan" jawabku, tak
ingin mereka bertanya lebih jauh hubungan Mama dengan Tante Santi, apalagi
alasanku sebenarnya pindah kesini.
"Pokoknya
kamu bakal betah deh disini. Tante orangnya nggak bawel, yang penting jam
sepuluh malem udah nggak boleh ada tamu. Jam sebelas kalau malem minggu"
lanjut Fay.
"Iya,
Fel, ini aja kita dikasih duplikat kunci gerbang sama pintu depan kan. Biar
kalau kita pulang pacaran kemaleman masih bisa masuk, kaya si Fay tuh. Iya kan,
Fay. Hahahaha...". Lia tertawa terbahak-bahak.
"Enak
aja. Kamu tuh yang suka nyelundupin Mas-mu ke kamar" tangkis Fay bengis.
Bantal
melayang ke mukanya dilanjutkan gulingku yang innocent jadi korban lemparan. "Sssstt...Gila Lu ya. Ngomong
pake Toa sekalian". Lia sewot.
Sakit nih bocah
berdua.
"Oh
ya, ada satu yang perlu kamu tau. Kamu liat di meja deket pintu dapur ada
telepon kan? Nah, udah jadi tugas yang kamarnya terdekat yang menjawab kalo ada
telepon.". Lia dan Fay tersenyum penuh arti.
"Lho,
emang ada aturan gitu ya?"
"Ada,
dong. Apalagi kamu anak baru. Hihihi.."
"Nggak
gitu juga, sih. Maksudnya kalau telepon bunyi, kamarmu kan paling deket, jadi
paling keberisikan. Mau nggak mau kamu mesti angkat" jelas Fay lagi.
Aku hanya bisa manggut-manggut pasrah.
# # #
Malam
itu.
Kriing...
Kriiing...
Kriing…
Aku
hampir terjatuh dari kasurku, saking kencangnya bunyi telepon itu. Kulirik jam
di dinding.
Busyet, jam
duabelas, siapa sih malem malem gini telpon..?
Kriing...
Kriiing...
Kriing…
Kututup
kepalaku memakai bantal, berharap Lia atau Fay atau siapa saja anak kos yang
lain mau mengangkat telepon itu. Setelah beberapa deringan, kemudian hening.
Fiuuuhhh...bobo
lagi, aah.
Belum
sempat menarik selimut untuk meneruskan tidur,
Kriing...
Kriiing…
Kriing…
Damn! Bunyi lagi…
Dengan malas-malasan aku turun dari kasur,
membuka kunci pintu dan melangkah keluar kamar.
Suasana
sepi sekali diluar.
Kriing…
Langsung
kuangkat telepon itu.
"Halo..."
Hanya
hening yang terdengar.
To be continue.....
To be continue.....