Kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang saya alami saat saya kos di sebuah kota industri di Jawa Timur sekitar delapan belas tahun lalu.
Tahun 2000, setelah lulus kuliah saya mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kontraktor industri oil & gas dan ditempatkan di proyek mereka di kota G sebagai asisten lapangan alias tukang disuruh suruh. Hehehe, maklum fresh graduate.
Karena bukan karyawan tetap alias hanya kontrak proyek maka saya tidak mendapatkan fasilitas mess karyawan dan mesti mencari kos sendiri di hari pertama pulang bekerja, sudah malam pula. Untungnya berkat bantuan seorang rekan di sana, saya mendapat kos di tengah perkampungan tidak jauh dari lokasi kawasan industri dimana proyek saya berada.
Dapat sekilas saya ceritakan, kos saya itu berupa sebuah rumah berisi sepuluh kamar dengan konfigurasi lima kamar berderet saling berhadapan. Setelah deretan kamar tersebut, di bagian belakang rumah terdapat ruangan dapur berseberangan dengan kamar yang berfungsi sebagai gudang. Lalu di belakangnya terdapat dua ruangan kamar mandi yang berhadapan dengan tempat mencuci. Terakhir adalah halaman belakang tempat menjemur.
Dari basa basi sekilas dengan empunya kos, mayoritas penghuni kos tersebut adalah keluarga muda. Hanya saya dan seorang penghuni kos lain yang masih berstatus bujangan.
Singkat kata, saking lelahnya saya melewati malam pertama di kamar kos itu hanya beralaskan selembar matras. Keesokan paginya, saya bangun sebelum pukul lima pagi dan segera beranjak ke kamar mandi karena jam masuk di proyek adalah paling lambat pukul 6.45 pagi.
Ternyata suasana di belakang sudah hiruk pikuk, dimana para wanita sedang memasak di dapur dan mencuci pakaian di depan kamar mandi yang tertutup. Dari balik pintu terdengar suara gayung beradu dengan air dan dinding bak mandi berkali-kali pertanda ada orang di dalamnya. Dengan agak tidak sabar saya berdiri menunggu giliran memakai kamar mandi. Hampir tidak saya pedulikan pemandangan pagi itu dimana ibu-ibu muda tak jauh di depan saya sedang mencuci pakaian di lantai dengan berbusana daster yang agak tersingkap.
Malam harinya, sepulang kerja saya sampai di kos sekitar jam sepuluh malam. Suasana di dalam rumah itu sudah sepi. Para penghuninya telah terlelap di dalam kamar masing-masing. Untunglah setiap penghuni kos diberi kunci pintu utama sehingga saya tidak perlu mengganggu penghuni lain untuk membukakan pintu.
Dengan terburu-buru saya menuju ke belakang dan mandi. Sebelum masuk, saya melirik ruang kamar mandi di sebelah yang berbatasan dengan dinding belakang rumah dalam keadaan kosong. Pintu belakang yang membatasi ruang belakang dengan halaman tempat jemuran juga tertutup. Penerangan ruang belakang yang temaram agak menciutkan nyali tetapi didorong rasa gerah di tubuh maka saya tetap meneruskan niat saya untuk mandi. Saat mengeringkan tubuh, terdengar di luar suara orang melangkah, sepertinya mengarah ke belakang. Beberapa detik kemudian saya selesai lalu keluar dari kamar mandi. Spontan saya menoleh ke arah pintu belakang mencaritahu asal suara langkah tadi. Tampak pintu tersebut mengayun tertutup dan terlihat sekelebat sosok seseorang di luar. “Oh, ada yang jemur baju,” batin saya.
Kebetulan.
Sembari mandi tadi, saya mencuci pakaian dalam dan sekarang telah siap jemur. Saya menyusul membuka pintu belakang bermaksud menjemur handuk dan pakaian dalam tadi. Tetapi..
Lho? Pintu terkunci? Anak kuncinya pun masih berada di dalam lubang penguncinya.
Tanpa pikir panjang, saya lari ketakutan ke dalam kamar. Biarpun pernah beberapa kali mengalami hal menyeramkan tetapi tidak membuat saya berani atau kebal menghadapinya. Tetap saja takut. Untungnya, kelelahan membuat saya tertidur tidak berapa lama kemudian.
Beberapa hari kemudian, saat itu sabtu malam dimana sore harinya kami para pekerja proyek menerima amplop gajian. Setelah makan dan mengobrol ala kadarnya dengan penghuni lain di warung dekat kos, saya kembali ke kamar dan memutuskan untuk tidur cepat. Membalas dendam terforsir lembur setiap hari. Apesnya, tengah malam saya terbangun oleh alarm darurat dalam tubuh. Sakitnya perut melilit mengalahkan rasa takut saya. Untungnya dari kamar sebelah terdengar suara Mas A dan Mas B mengobrol sehingga menambah keberanian saya meluncur ke belakang.
Kran air kamar mandi sengaja saya nyalakan supaya saya tidak mendengar jika ada suara aneh di luar. Selesai menunaikan panggilan alam, saya bergegas kembali. Sejak kejadian malam itu, saya menghindari berlama-lama di daerah kamar mandi dan sekitarnya.
Baru saja melangkah melewati ruang dapur di sebelah kiri, langkah saya terhenti.
Sudut mata saya menangkap ada seseorang berbaju putih panjang berdiri di dalam ruang dapur yang tak berpintu. Ia berdiri membelakangi saya. Celakanya, kaki saya seperti terpaku di lantai. Tak dapat bergerak.
Klek ! Terdengar suara pintu terbuka di belakang.
Sreek..sreek…
Suara langkah kaki diseret !
“Mas…,” Wanita itu memanggil. Dekat sekali.
Mati aku ! Lari..!
“Huaa..!” Saya menghambur lari ketika “paku” di kaki saya terlepas tiba-tiba.
“Mas Yos kenapa to?” panggil wanita di belakang saya.
He..?
Dengan takut-takut saya menoleh.
Astaga, rupanya Mbak C, istri dari Mas D penghuni kamar paling depan. Dia memandangi saya dengan heran sembari menenteng ember kosong di tangan.
“Eh, Mbak. I-itu..” Saya cengengesan. Melirik ke dapur, sosok putih tadi telah lenyap. Fiuuhh..
“Itu apa, Mas?” Ia celingukan.
“Ng-Nggak papa, Mbak. Mari..” Saya masuk ke kamar dan kembali terlelap.
“Mas..” Ia menggoyangkan kaki saya.
Lho, sejak kapan Mbak C masuk kedalam kamar? Kurang ajar sekali!
“Mas..”
Gila Mbak ini! Bisa dibunuh kita berdua sama Mas D.
“Mas..”
Saya susah payah membuka mata.
Ia duduk bersimpuh di dekat tubuh saya, searah pinggang.
Bukan..bukan Mbak C.
Sesosok wanita berbusana kain putih panjang.Rambut panjang menutupi sebagian wajah.
Ia yang saya lihat di dapur.
Wajahnya pucat dan tanpa ekspresi.
Matanya memandang tajam.
Bibirnya terbuka perlahan.
“Mas..”
Ia bergeser mendekat. Semakin dekat.
Aku berteriak sekuat-kuatnya.
Meronta.
Mengangkat tubuh.
Melompat.
Dan berlari.
Tetapi...
Itu hanya perintah di pikiran saja.
Tubuh saya sama sekali tidak merespon.
Terdiam kaku.
Bahkan memejamkan mata pun tak bisa.
Perempuan itu memandangi saya.
Pandangan kami beradu.
Kedua bola matanya melotot seram.
Membelalak.
Kulit wajahnya pucat sekali.
Perlahan, ia menunduk.
Mencondongkan tubuh bagian atasnya ke arah wajah saya.
Dan sekarang, kedua bola matanya menghilang.
Berganti dua rongga hitam gelap di wajahnya.
Tunggu...
Ia...
Ia tersenyum !!
Garis bibirnya melebar.
Semakin lebar.
Ti..Tidaak..!
Rekahan horisontal yang terbentuk oleh garis pertemuan bibir atas dan bawah itu kini mencapai kedua sisi pipinya.
Terus melebar.
He..he..he...
Ia terkekeh mengerikan.
Sementara ia terus bergerak merunduk memperkecil jarak antara wajah kami.
Saya terus meronta dan berteriak...dalam sunyi.
Di dalam kengerian nan mencekam itu, terlintas dalam benak saya tuk mengucap doa, memohon pertolongan dan perlindungan-Nya.
Apesnya, ternyata tak mudah mengucap doa sempurna dalam situasi seperti itu.
Akhirnya hanya kalimat pendek "Tuhan, tolong saya", berulang-ulang terucap.
Itu pun dalam hati.
Perempuan itu tersentak.
Gerakannya terhenti.
Terlihat ia tidak suka ataupun marah dengan apa yang barusan saya lakukan.
Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri.
Semakin cepat.
Dan cepat.
Lalu..
Plaass...
Tiba-tiba ia menghilang dari pandangan.
“Ah, kamu mimpi kali tuh. Kecapekan,” ucap Mas A penghuni kamar sebelah, keesokan malam sepulang kerja di teras rumah kos.
Saya tidak tahu apakah saya kemudian tertidur atau pingsan saat perempuan misterius itu menghilang malam itu.
Tersadar oleh suara kesibukan pagi dari luar kamar, saya secepat kilat mandi dan bergegas mengejar waktu berangkat ke proyek. Lho, hari minggu kok masuk? Jadwal proyek yang ketat membuat tiada hari tanpa bekerja. Dan bagi kami pekerja kontrak, masuk kerja di hari minggu adalah berkah tersendiri. Uang makan dan lembur yang didapat dua kali lipat dari hari kerja biasa.
Apes. Mobil L-300 antar jemput karyawan sudah berlalu sekian menit ketika saya sampai di titik penjemputan. D*mn! Terpaksa uang makan terpakai untuk ongkos becak karena tidak ada angkutan umum yang boleh masuk ke kawasan industri selain becak.
Saya menggaruk rambut di kepala mendengar ucapan Mas A barusan. “Nggak, Mas. Beneran kok.”
“Memang Mas nggak pernah ngalamin hal aneh-aneh selama di sini?”
“Ng-Nggak sih. Cuma…”
“Cuma apa, Mas?”
“Ng…”
“Halah, udah mbok nggak usah nakut-nakutin anak baru.” Mas B tiba-tiba muncul di bibir pintu utama memotong perkataan Mas A.
“Udah, nggak ada apa-apa kok di sini. Buktinya kamar kos penuh semua kan?” lanjutnya dengan tatapan mata tak biasa pada Mas A.
Mas A menghisap dan menghembuskan kembali asap rokok kretek di tangannya. “Iya, bener. Dah, tenang aja, Yos. Mimpi aja itu.”
Mungkin benar ucapan Mas A dan Mas B.
Malam itu saya lewati tanpa insiden berarti, juga malam-malam berikutnya. Tidak ada gangguan atau hal-hal menyeramkan seperti malam minggu yang lalu. Hanya suara dengkuran entah dari kamar sebelah atau seberang terdengar bersahutan, terkadang ditingkahi desahan dan bisikan mesra dari kamar lain. Hehe…
Entah hari apa, saya tidak ingat, malam itu saya menjemur cucian pakaian di halaman belakang. Sekilas di kamar tadi, waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Sebenarnya takut juga mencuci dan menjemur malam-malam begini tetapi persediaan pakaian apalagi dalaman sudah limited. Apa boleh buat.
Dapat saya gambarkan, halaman belakang tempat menjemur berupa halaman berlantai tanah berbatu yang tidak terlalu luas. Sekitar delapan kali empat meter persegi. Dibatasi oleh dinding bata berplester kamprot (tidak rapi/mulus) setinggi dua meteran dengan hiasan lumut di sana-sini. Di luarnya, beberapa pohon besar berdiri dekat dinding tersebut menjulurkan sebagian dahan dan ranting masuk ke halaman belakang itu. Mereka bergoyang dan berderak tertiup angin menimbulkan bayangan layaknya tangan-tangan raksasa yang melambai di kegelapan malam. Penerangan tidak seberapa yang dihasilkan oleh sinar lampu pijar ber-watt rendah semakin membuat gentar jika harus berlama-lama sendirian di situ.
Bergerak cepat di antara pakaian penghuni kos lain yang masih tergantung di barisan tali jemuran, saya mencari spot kosong dan menggantungkan pakaian basah milik saya. Tiba di barisan paling belakang dekat dengan dinding pembatas belakang, saya mendengar pintu penghubung ruang belakang dengan halaman tempat jemuran terbuka. Saya melirik ke arah asal suara tersebut tetapi pandangan saya terhalang oleh pakaian-pakaian yang dijemur. Hmm, pasti Mbak C.
Hampir genap sebulan tinggal di kos itu sedikit banyak menjadikan saya hafal dengan kebiasaan beberapa penghuninya. Seperti Mbak C yang biasa mencuci dan menjemur di malam hari atau Mbak E dan F yang hampir selalu bertemu saya sedang menunduk menyikat cucian saat pagi hari di depan kamar mandi dengan pose menggetarkan jantung.
Langkah kaki Mbak C terdengar di sisi berlawanan dari tempat saya berdiri. Diikuti suara gerakannya memeras, mengibas dan menjemur pakaian. Saya pun meneruskan kegiatan yang tertunda. Sempat timbul tanda tanya dalam hati, jemuran kan penuh, mau jemur dimana lagi dia?
“Banyak cuciannya, Mbak? Penuh, lho..” sapa saya berbasa-basi. Ia tidak menjawab. Hanya terdengar suara perasan air beberapa kali dan terlihat bayangan tubuhnya bergerak di sudut itu.
Saya bergeser dan melirik ke sisi Mbak C berdiri.
Lho..? Kosong?
Tak ada seorang pun di situ!
Padahal saya yakin benar tidak salah dengar dan salah lihat.
Bulu kuduk saya kembali meremang.
“Mbak..,” panggil saya lagi memastikan.
“Mbak..”
Tak ada jawaban.
Karena memang tak ada seorang pun bersama saya di halaman itu.
Oh, D*mn..!
Saya beringsut takut.
Menyerbu masuk kedalam rumah.
Tapi…
Langkah saya langsung terhenti.
Ia..
Ia ada di situ.
Berdiri di ambang pintu dapur.
Sama seperti malam itu.
Berbaju putih lusuh, berambut panjang.
Kedua matanya hanya berupa rongga kosong, hitam gelap.
Bibirnya yang robek hingga bawah telinga, merekah tersenyum.
“Mas…”
Tangannya terangkat.
Menggapai.
Dan waktu serasa terhenti saat makhluk berwujud perempuan itu mendekat.
Melayang.