#HorrorHitters #YSH2
#CermisLM #FeliLM
TERJEBAK DI LIFT
(sumber foto :
boombastis.com)
Malam ini tepat malam keempat aku bertugas
shift malam sebagai seorang staf maintenance atau teknisi yg bernaung di bawah Building
Management yg mengoperasikan gedung perkantoran setinggi dua puluhan lantai
yg usianya cukup tua, mungkin hampir sama dengan umurku.
Aku baru saja lulus dari STM dan atas kebaikan
hati pimpinan perusahaan di mana ayahku telah bekerja sebagai sopirnya selama
15 tahun lebih, maka aku mendapat kesempatan untuk bekerja di kantornya mulai
dua bulanan lalu.
Tentu saja sebagai teknisi pemula di level
terendah dan kapan pun dapat diberhentikan jika tidak menunjukkan kinerja yg
baik. Meski begitu, aku dan ayahku sama sekali tak keberatan. Di masa ekonomi
negara masih terdera efek krisis moneter tahun 98 kemarin, bagi orang kecil
sepertiku langsung mendapat pekerjaan rasanya bagaikan mendapat durian runtuh.
"To, kamu standby ya. Saya keliling
dulu," kata Pak Pardi, teknisi senior satu bagian yg bertugas berdua
denganku malam ini. Jam dinding menunjukkan waktu hampir tengah malam.
Ia mengambil senter dan Handy Talkie,
lalu melangkah keluar Ruang Maintenance yg terletak di Basemen gedung
dan menuju lift untuk kemudian ia akan naik sampai lantai Penthouse lalu
memeriksa lantai demi lantai dan turun melalui tangga darurat sampai kembali
lagi ke pos kami semula di Ruang Maintenance atau di kantor ini lebih
sering disebut Engineering.
"Nggak takut, Pak? Keliling sendirian
gitu," tanyaku saat pertama kali bertugas bersamanya.
"Dulu awal-awal iya, sekarang dah
biasa," jawabnya enteng.
Aku sendiri sampai sekarang belum diberi tugas
seperti yg dilakukan Pak Pardi ini. Lagipula, belum tentu aku berani. Bayangkan
saja, tengah malam jalan sendirian di dalam gedung yg sebagian besar lampunya
telah dimatikan. Dua puluh lantai!
Tetapi mungkin tak lama lagi aku juga akan
menjalani tugas serupa. Aku telah bertekad apapun tugas yg diberikan padaku
akan aku laksanakan sebaik-baiknya. Dan kini aku kebagian jatah standby di
ruangan, mengamati lampu-lampu indikator fungsi-fungsi gedung yg penting
seperti kelistrikan, penerangan, alarm kebakaran dan lift.
"Biar nggak ngantuk, kamu boleh nonton TV.
Tapi sekali-sekali kamu perhatikan indikator siapa tahu ada yg nggak
beres," pesan Pak Pardi waktu itu.
"Kalau yg ini TV apa, Pak?" Aku
mengamati beberapa layar serupa televisi tetapi berukuran lebih kecil di meja
samping kursi kami menghadap.
"Oh, itu monitor lift. Tapi tengah malam
gini jarang sekali ada yg pakai lift. Kecuali karyawan lantai lima belas yg
kadang lembur sampai pagi."
"Oh ya, itu di samping kamu ada intercom
lift ya. Siapa tahu ada lift yg macet dan orang yg di dalem manggil
teknisi," sambungnya sebelum kemudian ia menjelaskan lagi satu demi satu
kegunaan indikator-indikator di ruangan kami, mempertegas materi yang telah aku
terima ketika masa orientasi di awal mulai bekerja sebulan lalu.
"Engineering monitor?" Suara
yg mendadak keluar dari Handy Talkie mengagetkan lamunanku.
Pasti dari Posko, batinku.
Aku bergegas meraih HT di meja di hadapanku,
"Masuk, Posko."
"Anto, ya?" balasnya.
"Correct, Pak...Mmm, Pak siapa
ini?"
Pak Jamal, security di pos depan atau disebut
Posko, menyebutkan namanya lalu kami berkomunikasi tentang kondisi keamanan di
sekitar aku berada. Juga dengan Pak Pardi yang melaporkan ia baru saja turun
dari lantai Penthouse menuju lantai 20.
Sebentar kemudian suasana kembali hening.
Aneh, mataku terasa mulai berat. Kantuk mulai
mendera padahal biasanya aku kuat terjaga sampai pagi.
Aku meraih lembaran koran harian pagi dan
membaca-baca beberapa topik berita yg tentunya telah berlalu, hanya sekedar
agar aku tetap terjaga. Ditemani volume rendah suara televisi yg menayangkan
film barat, entah apa judulnya.
Sesekali mataku melirik ke arah monitor CCTV
lift, dimana hanya satu lift saja yg dioperasikan dari empat lift yg tersedia untuk
mengakomodir para tenant yg masih menggunakan ruangan kantor mereka.
Terutama di lantai lima belas yg disewa oleh salah satu perusahaan kontraktor
dimana jam kerja mereka terkadang hampir dua puluh empat jam.
Sedikit lewat dari pukul satu dini hari,
kulihat aktivitas lift semakin padat seiring pulangnya para karyawan tenant tersebut.
Rasa kantukku semakin parah sampai beberapa
kali aku terlelap sekejap dan terjaga kembali. Untunglah, tak lama kemudian Pak
Pardi menghubungiku via HT.
Rupanya ia menemukan ada beberapa lampu
penerangan koridor di lantai atas yg tidak menyala normal sehingga ia mesti
memeriksa lebih lanjut untuk menemukan sumber kerusakan. Kemungkinan
dikarenakan ada circuit yg tidak berfungsi dengan baik saat perpindahan
daya ke Genset saat terjadi pemadaman listrik PLN tadi sore.
"Jangan lupa kamu catat di buku Log!"
"Siap, Pak." Aku segera melaksanakan
instruksinya walau mataku terasa sangat berat.
"Ada lagi, Pak?"
"Semoga nggak ada. Oh ya, kamu lihatin
lift ya! Takut nge-trip, maklum gedung udah lumayan tua."
Aku melirik ke monitor lift dan lampu indikator
yg menyala normal. "Sementara aman, Pak. Karyawan lantai lima belas juga
sepertinya udah pada turun semua."
"Ya udah. Kamu standby pokoknya!"
pesannya sebelum menutup pembicaraan.
"Siap, Pak!" Apapun yg terjadi, aku
harus tetap terjaga. Kuseruput habis kopiku lalu berdiri merenggangkan tubuh
dan berjalan kecil di dalam ruangan. Setelah merasa agak segar, aku duduk
kembali dan menatap layar televisi dan monitor lift secara bergantian. Begitu
terus kuulangi beberapa kali. Dan terus.
Tuutt!
Aku mendadak terbangun oleh nada nyaring yg
berulang-ulang terdengar di telingaku.
Astaga! Aku ketiduran!
Kulihat lampu tanda panggilan intercom
lift menyala dan suara wanita memanggil-manggil. "Tolong! Teknisi...siapa
aja..tolong!"
Segera saja aku mendekatkan mulutku ke microphone
dan menekan tombol bicara, "Selamat malam, Bu. Di sini teknisi."
"Tolong! Tolong! Saya kejebak. Liftnya
mati." teriaknya histeris. Dari layar monitor terlihat seorang wanita
berambut panjang tengah berbicara sambil memukul-mukul dinding lift.
"Baik, Bu. Tenang, kami segera menolong
Ibu," jawabku dengan nada setenang mungkin walaupun aku tak tahu harus
berbuat apa saat ini.
"Gimana sih ini?! Tolong..! Ya ampun, kok
nggak ada yg jawab...?!" Ia semakin histeris. "Tolong..!"
Aku rasa kemungkinan ia sangat panik sehingga
tak mendengar respon dariku. Segera kuraih HT dan memanggil Pak Pardi namun tak
ada jawaban. Begitu juga dengan Pak Jamal di Posko.
Kini aku yg mulai panik. Apalagi kulihat
sekarang semua lampu indikator dalam keadaan padam. Hanya monitor lift itu saja
yg menyala. Aneh sekali!
"Tolong! Saya terjebak, liftnya macet di
lantai lima. Tolong! Pintunya nggak mau kebuka..."
Kembali aku memanggil Pak Pardi dan Pak Jamal
tanpa hasil. Tak ada yg menjawab panggilanku. Hanya nada statis yg terdengar di
HT setiap aku selesai memencet tombol bicara.
Sementara wanita yg terjebak dalam lift itu
tiada henti berteriak memanggil dan membunyikan tanda darurat meminta
pertolongan.
Nggak ada jalan lain. Aku mesti tolong
dia!
Tapi gimana..?!
Lalu aku teringat pernah menyaksikan Pak
Ruslan, Kepala Teknisi, melakukan perawatan lift bersama vendor penyuplai
lift di gedung ini.
Iya, kunci itu...
Aku segera menyambar anak kunci panel lift yg
tergantung di papan penyimpanan anak-anak kunci penting di dinding. Kemudian
berlari secepat mungkin menerobos masuk ruang tangga darurat dan melangkahi
beberapa anak tangga sekaligus pada usahaku naik ke lantai lima. Lantai demi
lantai kulewati hingga aku sampai pada pintu darurat yg menghubungkan ruang
tangga darurat dan koridor lantai lima di mana lift itu berada.
Tapi...
Aku terkejut sesaat memasuki koridor, suasana
dan dekorasinya terasa asing. Berbeda dengan yg kuingat terakhir kali aku
melintasi lantai lima ini. Entah sejak papan karpet berwarna krem yg melapisi
lantai koridor dicopot, menyisakan lantai berwarna mengkilap di bawah
penerangan lampu.
Ah, tak ada waktu untuk memikirkan hal
itu. Aku harus segera menolong wanita tadi.
Tak sampai sepuluh langkah aku berlari,
sampailah aku di hadapan empat pintu lift dengan posisi dua lift yg
bersebelahan saling berhadapan dengan dua lift lainnya.
Lho..?!
Lebih terkejut lagi, kini aku tak mengenali
pintu lift di depanku. Model dan warnanya sangat berbeda dari tipikal lift di
gedung ini yg seragam mulai dari lantai terbawah hingga lantai teratas. Tepian
atau jamb liftnya pun telah berubah total dari yg sehari-hari kulihat
terbuat dari bahan stainless mengkilap, kini berbahan batu marmer krem
bercorak.
Tak urung aku menjadi ragu antara apakah aku
tengah bermimpi atau memang ada renovasi kilat di lantai ini yg tak aku
ketahui, dan itu mustahil.
"Toloong..! Toloong..!"
Namun suara seperti suara pukulan atau gedoran
dari balik pintu lift yg terdengar bertubi-tubi diiringi sayup suara teriakan
wanita dari dalamnya, mengembalikan fokus pikiranku.
"Tenang, Ibu! Saya teknisi. Sabar
ya..!"
Sebenarnya aku tidak memiliki pengetahuan
apalagi skill memperbaiki lift tapi
aku tak bias berpangkutangan melihat situasi darurat seperti ini.
Kuraih obeng dari sakuku untuk mencongkel plat
penutup panel tombol lift yg tertempel di dinding tengah antara dua pintu lift
dengan harapan setelah terbuka nanti aku akan mencoba meng-override atau
mengambil alih aliran daya lift secara manual sebelum aku membuka paksa
pintu lift menggunakan anak kunci yg telah aku bawa.
Secara logika saja, aku tak mau lift bergerak
naik atau turun secara tiba-tiba jika control-nya tidak kita
kuasai.
Kucoba berkali-kali tetapi plat panel tersebut
tak kunjung terbuka. Tenaga yg kukerahkan seperti tak berpengaruh apa-apa
ketika aku mendorong dan mencongkelnya. Aneh!
Jangan-jangan karena model panel ini tidak bisa
dibuka hanya dengan obeng begitu saja. Pandanganku beralih ke pintu lift. Di
dekat sudut atas pintu terdapat semacam lubang kunci kecil untuk membuka paksa
pintu lift secara manual. Walaupun ragu namun aku mencoba memasukkan anak kunci
yg kupegang.
Benar saja. Tidak cocok. Bahkan sama sekali
tidak bisa masuk.
"Pak! Ada yg di luar kah? Toloong..!"
Wanita di dalam itu terus berteriak.
"Iya, Bu. Sabar sebentar!" teriakku
membalas sembari memukul-mukulkan telapak tanganku di pintu memberi isyarat
kepadanya.
"Pak? Bapaak! Syukurlah ada orang.." Walaupun
sayup di telinga, aku dapat mendengarnya berteriak menjawab.
"Tolong, Pak. Saya udah kejebak dari
tadi.."
"Tenang, Bu. Kami sedang usahakan Ibu
segera keluar," teriakku lagi mencoba menenangkannya.
Dengan ujung jari-jariku kucoba membuka pintu
melalui celah vertikal yg hampir rapat antara kedua daun pintu lift. Tapi
percuma dan sia-sia, sekeras apapun aku berusaha.
Lalu kucoba sekali lagi memanggil Pak Pardi dan
Pak Jamal. Lagi dan lagi. Tanpa hasil.
"Pak..Paak..! Gimana, Pak? Kapan saya bisa
keluar dari sini?" Ia kembali berseru.
Aku sadar tak ada yg dapat kulakukan lagi
sekarang. Aku jatuh terduduk di lantai. Putus asa.
"Pak, tolong, Pak. Masa saya harus mati
kehabisan nafas di dalem lift kaya gini..?" Ia meratap.
Ya Tuhan, aku harus gimana?
Aku berpikir sejenak, kuabaikan sementara
teriakan dan ratapan wanita itu. Mau tak mau aku harus mencari orang lain yang
dapat menolong.
Lalu aku berdiri dan mendekatkan kembali
tubuhku ke pintu lift.
"Ibu... Maaf, boleh saya tahu nama
Ibu?" teriakku dari celah pintu.
"Hah? Kenapa?" Ia membalasku.
"Nama Ibu siapa?"
"Sinta. Kenapa, Pak?" jawabnya.
"Bu Sinta, saya Anto, teknisi. Ibu boleh
tunggu sebentar ya..saya mau-..."
"Apaa..?! Tunggu? Saya udah mau mati
iniii...!" Teriaknya memotong kalimatku.
"Te-Tenang, Bu. Sabar, Bu.."
"Sabar? Sabar gimana maksudmu?! Udah dari
tadi saya kejebak kaya gini, kamu masih suruh saya sabar?!" Ia semakin
emosi.
Aku terdiam, bingung apa yg harus aku jawab
kepadanya.
Lalu terdengar tangisnya, "Tolong, Mas
Anto...Tolong saya.."
"Kami sedang berusaha menolong, Bu."
"Tolong, Mas..." Ratapannya terhenti
tiba-tiba.
Lalu terdengar suara berdebam seperti benda
jatuh di dalam sana.
"Bu..! Bu Sinta..!" panggilku.
Tak ada jawaban dari dalam.
Astaga! Dia pingsan?!
Tanpa menunda lagi,
kularikan tubuhku cepat kembali ke ruang tangga darurat dan menuruni tangga
menuju ke basemen. Siapa tahu sekarang Pak Pardi sudah kembali ke ruangan. Bisa
saja sedari tadi daya baterai HT miliknya lemah sehingga ia tidak menerima
panggilanku.
Beberapa saat
kemudian aku telah mencapai Ruang Maintenance. Dentuman bunyi pintu beradu
dengan meja di sebelahnya terdengar kencang sekali saat aku menghambur masuk ke
dalam ruangan.
Ah, syukurlah Pak
Pardi telah kembali.
Kulihat ia berbaring
membelakangiku di atas meja kayu di sisi ruangan dengan sehelai sarung bermotif
kotak-kotak menutupi sebagian tubuhnya.
Setahuku bukan kebiasaanya
tidur di jam piket seperti ini. Ia selalu disiplin. Apakah dia sedang sakit?
Buru-buru aku menepuk
pundaknya lalu menggoyangkan bahunya untuk membangunkannya. Satu dua kali tak
berhasil. Ia tetap terlelap. Tubuhnya pun tak bergerak seperti batu saja.
Kali ini kucoba
lebih kencang sembari setengah berteriak di dekat telinganya,” Pak, Pak Pardi.
Bangun..”
Berhasil!
Ia menggeliat lalu
berbalik badan.
Pandangan kami pun
bersirobok.
Ia mengucek matanya
dan beberapa kali berkerjap memastikan pandangannya.
Aku pun demikian.
“Haan…Haan…Hantuu..!”
Ia berteriak kencang sekali.
Tubuhnya terhempas
jatuh dari pinggiran meja ke lantai. Refleks, aku menunduk untuk menolongnya.
Namun ia
meronta-ronta dan bergerak bagaikan tikus yang tersudut oleh kucing,
berkali-kali ia mencoba bangkit dan terpeleset kembali.
Matanya membeliak
ketakutan melihatku. Wajahnya pucat pasi.
Siapa kamu? Kamu bukan Pak Pardi!
Kutatap pemuda
sebayaku itu. Seragam berwarna abu-abu yang dikenakannya berbeda sekali dengan
biru tua di tubuhku.
Dan aku baru
menyadari kalau isi ruangan ini berbeda. Warna catnya, perletakan meja kursi,
dan semua isinya. Semua berbeda!
Astaga!
Dimana aku? Siapa dia?
Tuutt!
Nada nyaring itu terdengar lagi
Sebuah lampu menyala berkedip-kedip di panel
dekat meja ketika terdengar suara wanita memanggil-manggil. "Tolong! Tolong!"
***
Pintu lift sedikit demi sedikit terbuka dan
akhirnya Sinta dapat bernafas lega setelah hampir satu jam ia terkurung di lift
ini. Bahkan sepertinya sempat sekejap ia kehilangan kesadaran saking paniknya.
Beberapa pria berseragam teknisi membantunya keluar
dari dalam lift karena ternyata posisi lift berhenti di perbatasan lantai empat
dan lima.
Masih dengan badan gemetaran, singkat cerita
Sinta dibantu mencapai mobilnya yang diparkir di basemen meskipun harus
menggunakan akses tangga darurat. Mungkin dalam beberapa waktu ke depan ia akan
menghindari naik lift, apalagi jika sendirian.
Sebelum mobilnya melaju, salah seorang teknisi
yang tadi menolongnya berjalan mendekatinya.
Dengan takut-takut, pria itu berkata,” Ma-maaf,
Bu. Boleh saya bicara?”
“Iya. Kenapa?” jawabnya jutek. Ia ingin segera pulang dan melupakan kejadian barusan.
“Maafkan saya, Bu. Tadi sepertinya saya sempat
ketiduran..” ucap pria itu pelan.
“Oh, pantes lama! Kalian gimana sih, kerja
nggak profesional?!
“Iya, Bu. Saya minta maaf sekali sama Ibu.” Ia
menunduk meminta maaf.
Sinta tergetar hatinya. “Hmm. Kamu yang namanya
Anto bukan?”
“Bu-bukan, Bu. Saya Romi.”
Sinta melempar pandangan ke dua orang teknisi
lain yang berdiri agak jauh dari mereka sedang berbicara. “Itu Anto?”
Romi, teknisi di hadapannya menggeleng. “Nggak
ada yang namanya Anto, Bu.”
“Lho, tadi yang pertama sekali datang itu Anto.
Saya cukup jelas kok dengar namanya. Habis itu baru kalian yang datang.”
“Tapi, Bu. Kami bertiga nggak ada yang namanya
Anto.”
“Jangan bercanda kamu!”
“Be-bener, Bu.”
Tiba-tiba Sinta teringat cerita yang pernah ia
dengar dari office boy kantornya.
Konon sekian tahun yang lalu di gedung kantor yang kini telah direnovasi ini,
pernah terjadi kecelakaan kerja dimana seorang teknisi muda ditemukan meninggal
keracunan asap genset yang bocor di basemen. Di ruangan itu juga kah?!
“Bu, saya Anto, teknisi. Ibu tunggu sebentar ya…”
Suara itu terdengar lagi.
Sangat jelas.
Dari bagian belakang mobilnya.
(The End)
