Minggu, 12 Januari 2020

Kisah Misteri : TERJEBAK DI LIFT


#HorrorHitters #YSH2
#CermisLM #FeliLM

TERJEBAK DI LIFT
(sumber foto : boombastis.com)

Malam ini tepat malam keempat aku bertugas shift malam sebagai seorang staf maintenance atau teknisi yg bernaung di bawah Building Management yg mengoperasikan gedung perkantoran setinggi dua puluhan lantai yg usianya cukup tua, mungkin hampir sama dengan umurku.
Aku baru saja lulus dari STM dan atas kebaikan hati pimpinan perusahaan di mana ayahku telah bekerja sebagai sopirnya selama 15 tahun lebih, maka aku mendapat kesempatan untuk bekerja di kantornya mulai dua bulanan lalu.
Tentu saja sebagai teknisi pemula di level terendah dan kapan pun dapat diberhentikan jika tidak menunjukkan kinerja yg baik. Meski begitu, aku dan ayahku sama sekali tak keberatan. Di masa ekonomi negara masih terdera efek krisis moneter tahun 98 kemarin, bagi orang kecil sepertiku langsung mendapat pekerjaan rasanya bagaikan mendapat durian runtuh.

"To, kamu standby ya. Saya keliling dulu," kata Pak Pardi, teknisi senior satu bagian yg bertugas berdua denganku malam ini. Jam dinding menunjukkan waktu hampir tengah malam.
Ia mengambil senter dan Handy Talkie, lalu melangkah keluar Ruang Maintenance yg terletak di Basemen gedung dan menuju lift untuk kemudian ia akan naik sampai lantai Penthouse lalu memeriksa lantai demi lantai dan turun melalui tangga darurat sampai kembali lagi ke pos kami semula di Ruang Maintenance atau di kantor ini lebih sering disebut Engineering.

"Nggak takut, Pak? Keliling sendirian gitu," tanyaku saat pertama kali bertugas bersamanya.
"Dulu awal-awal iya, sekarang dah biasa," jawabnya enteng.
Aku sendiri sampai sekarang belum diberi tugas seperti yg dilakukan Pak Pardi ini. Lagipula, belum tentu aku berani. Bayangkan saja, tengah malam jalan sendirian di dalam gedung yg sebagian besar lampunya telah dimatikan. Dua puluh lantai!
Tetapi mungkin tak lama lagi aku juga akan menjalani tugas serupa. Aku telah bertekad apapun tugas yg diberikan padaku akan aku laksanakan sebaik-baiknya. Dan kini aku kebagian jatah standby di ruangan, mengamati lampu-lampu indikator fungsi-fungsi gedung yg penting seperti kelistrikan, penerangan, alarm kebakaran dan lift.
"Biar nggak ngantuk, kamu boleh nonton TV. Tapi sekali-sekali kamu perhatikan indikator siapa tahu ada yg nggak beres," pesan Pak Pardi waktu itu.
"Kalau yg ini TV apa, Pak?" Aku mengamati beberapa layar serupa televisi tetapi berukuran lebih kecil di meja samping kursi kami menghadap.
"Oh, itu monitor lift. Tapi tengah malam gini jarang sekali ada yg pakai lift. Kecuali karyawan lantai lima belas yg kadang lembur sampai pagi."
"Oh ya, itu di samping kamu ada intercom lift ya. Siapa tahu ada lift yg macet dan orang yg di dalem manggil teknisi," sambungnya sebelum kemudian ia menjelaskan lagi satu demi satu kegunaan indikator-indikator di ruangan kami, mempertegas materi yang telah aku terima ketika masa orientasi di awal mulai bekerja sebulan lalu.

"Engineering monitor?" Suara yg mendadak keluar dari Handy Talkie mengagetkan lamunanku.
Pasti dari Posko, batinku.
Aku bergegas meraih HT di meja di hadapanku, "Masuk, Posko."
"Anto, ya?" balasnya.
"Correct, Pak...Mmm, Pak siapa ini?"
Pak Jamal, security di pos depan atau disebut Posko, menyebutkan namanya lalu kami berkomunikasi tentang kondisi keamanan di sekitar aku berada. Juga dengan Pak Pardi yang melaporkan ia baru saja turun dari lantai Penthouse menuju lantai 20.
Sebentar kemudian suasana kembali hening.
Aneh, mataku terasa mulai berat. Kantuk mulai mendera padahal biasanya aku kuat terjaga sampai pagi.
Aku meraih lembaran koran harian pagi dan membaca-baca beberapa topik berita yg tentunya telah berlalu, hanya sekedar agar aku tetap terjaga. Ditemani volume rendah suara televisi yg menayangkan film barat, entah apa judulnya.
Sesekali mataku melirik ke arah monitor CCTV lift, dimana hanya satu lift saja yg dioperasikan dari empat lift yg tersedia untuk mengakomodir para tenant yg masih menggunakan ruangan kantor mereka. Terutama di lantai lima belas yg disewa oleh salah satu perusahaan kontraktor dimana jam kerja mereka terkadang hampir dua puluh empat jam.
Sedikit lewat dari pukul satu dini hari, kulihat aktivitas lift semakin padat seiring pulangnya para karyawan tenant tersebut.

Rasa kantukku semakin parah sampai beberapa kali aku terlelap sekejap dan terjaga kembali. Untunglah, tak lama kemudian Pak Pardi menghubungiku via HT.
Rupanya ia menemukan ada beberapa lampu penerangan koridor di lantai atas yg tidak menyala normal sehingga ia mesti memeriksa lebih lanjut untuk menemukan sumber kerusakan. Kemungkinan dikarenakan ada circuit yg tidak berfungsi dengan baik saat perpindahan daya ke Genset saat terjadi pemadaman listrik PLN tadi sore. "Jangan lupa kamu catat di buku Log!"
"Siap, Pak." Aku segera melaksanakan instruksinya walau mataku terasa sangat berat.
"Ada lagi, Pak?"
"Semoga nggak ada. Oh ya, kamu lihatin lift ya! Takut nge-trip, maklum gedung udah lumayan tua."
Aku melirik ke monitor lift dan lampu indikator yg menyala normal. "Sementara aman, Pak. Karyawan lantai lima belas juga sepertinya udah pada turun semua."
"Ya udah. Kamu standby pokoknya!" pesannya sebelum menutup pembicaraan.
"Siap, Pak!" Apapun yg terjadi, aku harus tetap terjaga. Kuseruput habis kopiku lalu berdiri merenggangkan tubuh dan berjalan kecil di dalam ruangan. Setelah merasa agak segar, aku duduk kembali dan menatap layar televisi dan monitor lift secara bergantian. Begitu terus kuulangi beberapa kali. Dan terus.

Tuutt!
Aku mendadak terbangun oleh nada nyaring yg berulang-ulang terdengar di telingaku.
Astaga! Aku ketiduran!
Kulihat lampu tanda panggilan intercom lift menyala dan suara wanita memanggil-manggil. "Tolong! Teknisi...siapa aja..tolong!"
Segera saja aku mendekatkan mulutku ke microphone dan menekan tombol bicara, "Selamat malam, Bu. Di sini teknisi."
"Tolong! Tolong! Saya kejebak. Liftnya mati." teriaknya histeris. Dari layar monitor terlihat seorang wanita berambut panjang tengah berbicara sambil memukul-mukul dinding lift.
"Baik, Bu. Tenang, kami segera menolong Ibu," jawabku dengan nada setenang mungkin walaupun aku tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Gimana sih ini?! Tolong..! Ya ampun, kok nggak ada yg jawab...?!" Ia semakin histeris. "Tolong..!"
Aku rasa kemungkinan ia sangat panik sehingga tak mendengar respon dariku. Segera kuraih HT dan memanggil Pak Pardi namun tak ada jawaban. Begitu juga dengan Pak Jamal di Posko.
Kini aku yg mulai panik. Apalagi kulihat sekarang semua lampu indikator dalam keadaan padam. Hanya monitor lift itu saja yg menyala. Aneh sekali!
"Tolong! Saya terjebak, liftnya macet di lantai lima. Tolong! Pintunya nggak mau kebuka..."
Kembali aku memanggil Pak Pardi dan Pak Jamal tanpa hasil. Tak ada yg menjawab panggilanku. Hanya nada statis yg terdengar di HT setiap aku selesai memencet tombol bicara.
Sementara wanita yg terjebak dalam lift itu tiada henti berteriak memanggil dan membunyikan tanda darurat meminta pertolongan.

Nggak ada jalan lain. Aku mesti tolong dia!
Tapi gimana..?!
Lalu aku teringat pernah menyaksikan Pak Ruslan, Kepala Teknisi, melakukan perawatan lift bersama vendor penyuplai lift di gedung ini.
Iya, kunci itu...
Aku segera menyambar anak kunci panel lift yg tergantung di papan penyimpanan anak-anak kunci penting di dinding. Kemudian berlari secepat mungkin menerobos masuk ruang tangga darurat dan melangkahi beberapa anak tangga sekaligus pada usahaku naik ke lantai lima. Lantai demi lantai kulewati hingga aku sampai pada pintu darurat yg menghubungkan ruang tangga darurat dan koridor lantai lima di mana lift itu berada.
Tapi...

Aku terkejut sesaat memasuki koridor, suasana dan dekorasinya terasa asing. Berbeda dengan yg kuingat terakhir kali aku melintasi lantai lima ini. Entah sejak papan karpet berwarna krem yg melapisi lantai koridor dicopot, menyisakan lantai berwarna mengkilap di bawah penerangan lampu.
Ah, tak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Aku harus segera menolong wanita tadi.
Tak sampai sepuluh langkah aku berlari, sampailah aku di hadapan empat pintu lift dengan posisi dua lift yg bersebelahan saling berhadapan dengan dua lift lainnya.
Lho..?!
Lebih terkejut lagi, kini aku tak mengenali pintu lift di depanku. Model dan warnanya sangat berbeda dari tipikal lift di gedung ini yg seragam mulai dari lantai terbawah hingga lantai teratas. Tepian atau jamb liftnya pun telah berubah total dari yg sehari-hari kulihat terbuat dari bahan stainless mengkilap, kini berbahan batu marmer krem bercorak.
Tak urung aku menjadi ragu antara apakah aku tengah bermimpi atau memang ada renovasi kilat di lantai ini yg tak aku ketahui, dan itu mustahil.

"Toloong..! Toloong..!"
Namun suara seperti suara pukulan atau gedoran dari balik pintu lift yg terdengar bertubi-tubi diiringi sayup suara teriakan wanita dari dalamnya, mengembalikan fokus pikiranku.
"Tenang, Ibu! Saya teknisi. Sabar ya..!"
Sebenarnya aku tidak memiliki pengetahuan apalagi skill memperbaiki lift tapi aku tak bias berpangkutangan melihat situasi darurat seperti ini.
Kuraih obeng dari sakuku untuk mencongkel plat penutup panel tombol lift yg tertempel di dinding tengah antara dua pintu lift dengan harapan setelah terbuka nanti aku akan mencoba meng-override atau mengambil alih aliran daya lift secara manual sebelum aku membuka paksa pintu lift menggunakan anak kunci yg telah aku bawa.
Secara logika saja, aku tak mau lift bergerak naik atau turun secara tiba-tiba jika control-nya tidak kita kuasai.
Kucoba berkali-kali tetapi plat panel tersebut tak kunjung terbuka. Tenaga yg kukerahkan seperti tak berpengaruh apa-apa ketika aku mendorong dan mencongkelnya. Aneh!
Jangan-jangan karena model panel ini tidak bisa dibuka hanya dengan obeng begitu saja. Pandanganku beralih ke pintu lift. Di dekat sudut atas pintu terdapat semacam lubang kunci kecil untuk membuka paksa pintu lift secara manual. Walaupun ragu namun aku mencoba memasukkan anak kunci yg kupegang.
Benar saja. Tidak cocok. Bahkan sama sekali tidak bisa masuk.

"Pak! Ada yg di luar kah? Toloong..!" Wanita di dalam itu terus berteriak.
"Iya, Bu. Sabar sebentar!" teriakku membalas sembari memukul-mukulkan telapak tanganku di pintu memberi isyarat kepadanya.
"Pak? Bapaak! Syukurlah ada orang.." Walaupun sayup di telinga, aku dapat mendengarnya berteriak menjawab.
"Tolong, Pak. Saya udah kejebak dari tadi.."
"Tenang, Bu. Kami sedang usahakan Ibu segera keluar," teriakku lagi mencoba menenangkannya.
Dengan ujung jari-jariku kucoba membuka pintu melalui celah vertikal yg hampir rapat antara kedua daun pintu lift. Tapi percuma dan sia-sia, sekeras apapun aku berusaha.
Lalu kucoba sekali lagi memanggil Pak Pardi dan Pak Jamal. Lagi dan lagi. Tanpa hasil.

"Pak..Paak..! Gimana, Pak? Kapan saya bisa keluar dari sini?" Ia kembali berseru.
Aku sadar tak ada yg dapat kulakukan lagi sekarang. Aku jatuh terduduk di lantai. Putus asa.
"Pak, tolong, Pak. Masa saya harus mati kehabisan nafas di dalem lift kaya gini..?" Ia meratap.
Ya Tuhan, aku harus gimana?
Aku berpikir sejenak, kuabaikan sementara teriakan dan ratapan wanita itu. Mau tak mau aku harus mencari orang lain yang dapat menolong.
Lalu aku berdiri dan mendekatkan kembali tubuhku ke pintu lift.
"Ibu... Maaf, boleh saya tahu nama Ibu?" teriakku dari celah pintu.
"Hah? Kenapa?" Ia membalasku.
"Nama Ibu siapa?"
"Sinta. Kenapa, Pak?" jawabnya.
"Bu Sinta, saya Anto, teknisi. Ibu boleh tunggu sebentar ya..saya mau-..."
"Apaa..?! Tunggu? Saya udah mau mati iniii...!" Teriaknya memotong kalimatku.
"Te-Tenang, Bu. Sabar, Bu.."
"Sabar? Sabar gimana maksudmu?! Udah dari tadi saya kejebak kaya gini, kamu masih suruh saya sabar?!" Ia semakin emosi.
Aku terdiam, bingung apa yg harus aku jawab kepadanya.
Lalu terdengar tangisnya, "Tolong, Mas Anto...Tolong saya.."
"Kami sedang berusaha menolong, Bu."
"Tolong, Mas..." Ratapannya terhenti tiba-tiba.
Lalu terdengar suara berdebam seperti benda jatuh di dalam sana.
"Bu..! Bu Sinta..!" panggilku.
Tak ada jawaban dari dalam.
Astaga! Dia pingsan?!

Tanpa menunda lagi, kularikan tubuhku cepat kembali ke ruang tangga darurat dan menuruni tangga menuju ke basemen. Siapa tahu sekarang Pak Pardi sudah kembali ke ruangan. Bisa saja sedari tadi daya baterai HT miliknya lemah sehingga ia tidak menerima panggilanku.
Beberapa saat kemudian aku telah mencapai Ruang Maintenance. Dentuman bunyi pintu beradu dengan meja di sebelahnya terdengar kencang sekali saat aku menghambur masuk ke dalam ruangan.
Ah, syukurlah Pak Pardi telah kembali.
Kulihat ia berbaring membelakangiku di atas meja kayu di sisi ruangan dengan sehelai sarung bermotif kotak-kotak menutupi sebagian tubuhnya.
Setahuku bukan kebiasaanya tidur di jam piket seperti ini. Ia selalu disiplin. Apakah dia sedang sakit?
Buru-buru aku menepuk pundaknya lalu menggoyangkan bahunya untuk membangunkannya. Satu dua kali tak berhasil. Ia tetap terlelap. Tubuhnya pun tak bergerak seperti batu saja.
Kali ini kucoba lebih kencang sembari setengah berteriak di dekat telinganya,” Pak, Pak Pardi. Bangun..”
Berhasil!
Ia menggeliat lalu berbalik badan.
Pandangan kami pun bersirobok.
Ia mengucek matanya dan beberapa kali berkerjap memastikan pandangannya.
Aku pun demikian.

“Haan…Haan…Hantuu..!” Ia berteriak kencang sekali.
Tubuhnya terhempas jatuh dari pinggiran meja ke lantai. Refleks, aku menunduk untuk menolongnya.
Namun ia meronta-ronta dan bergerak bagaikan tikus yang tersudut oleh kucing, berkali-kali ia mencoba bangkit dan terpeleset kembali.
Matanya membeliak ketakutan melihatku. Wajahnya pucat pasi.

Siapa kamu? Kamu bukan Pak Pardi!
Kutatap pemuda sebayaku itu. Seragam berwarna abu-abu yang dikenakannya berbeda sekali dengan biru tua di tubuhku.
Dan aku baru menyadari kalau isi ruangan ini berbeda. Warna catnya, perletakan meja kursi, dan semua isinya. Semua berbeda!
Astaga!
Dimana aku? Siapa dia?

Tuutt!
Nada nyaring itu terdengar lagi
Sebuah lampu menyala berkedip-kedip di panel dekat meja ketika terdengar suara wanita memanggil-manggil. "Tolong! Tolong!"

***

Pintu lift sedikit demi sedikit terbuka dan akhirnya Sinta dapat bernafas lega setelah hampir satu jam ia terkurung di lift ini. Bahkan sepertinya sempat sekejap ia kehilangan kesadaran saking paniknya.
Beberapa pria berseragam teknisi membantunya keluar dari dalam lift karena ternyata posisi lift berhenti di perbatasan lantai empat dan lima.
Masih dengan badan gemetaran, singkat cerita Sinta dibantu mencapai mobilnya yang diparkir di basemen meskipun harus menggunakan akses tangga darurat. Mungkin dalam beberapa waktu ke depan ia akan menghindari naik lift, apalagi jika sendirian.
Sebelum mobilnya melaju, salah seorang teknisi yang tadi menolongnya berjalan mendekatinya.
Dengan takut-takut, pria itu berkata,” Ma-maaf, Bu. Boleh saya bicara?”
“Iya. Kenapa?” jawabnya jutek. Ia ingin segera pulang dan melupakan kejadian barusan.
“Maafkan saya, Bu. Tadi sepertinya saya sempat ketiduran..” ucap pria itu pelan.
“Oh, pantes lama! Kalian gimana sih, kerja nggak profesional?!
“Iya, Bu. Saya minta maaf sekali sama Ibu.” Ia menunduk meminta maaf.
Sinta tergetar hatinya. “Hmm. Kamu yang namanya Anto bukan?”
“Bu-bukan, Bu. Saya Romi.”
Sinta melempar pandangan ke dua orang teknisi lain yang berdiri agak jauh dari mereka sedang berbicara. “Itu Anto?”
Romi, teknisi di hadapannya menggeleng. “Nggak ada yang namanya Anto, Bu.”
“Lho, tadi yang pertama sekali datang itu Anto. Saya cukup jelas kok dengar namanya. Habis itu baru kalian yang datang.”
“Tapi, Bu. Kami bertiga nggak ada yang namanya Anto.”
“Jangan bercanda kamu!”
“Be-bener, Bu.”

Tiba-tiba Sinta teringat cerita yang pernah ia dengar dari office boy kantornya. Konon sekian tahun yang lalu di gedung kantor yang kini telah direnovasi ini, pernah terjadi kecelakaan kerja dimana seorang teknisi muda ditemukan meninggal keracunan asap genset yang bocor di basemen. Di ruangan itu juga kah?!

“Bu, saya Anto, teknisi. Ibu tunggu sebentar ya…”
Suara itu terdengar lagi.
Sangat jelas.
Dari bagian belakang mobilnya.

(The End)


Minggu, 01 Desember 2019

Kisah Misteri - RAINY NIGHT

(Rainy Night)

Ok, tadi udah intermezzo sama kisah Gang Terlarang yaa. Hehe.
Kali ini saya mau cerita pengalaman pribadi lebih dari 20 tahun yang lalu.
Gini ceritanya...
Sewaktu masih duduk di kelas 2 SMA, saya berpacaran dengan gadis lain sekolah yang usianya setahun di bawah saya alias adik kelas.
Singkat cerita, suatu malam minggu saya datang ngapel ke rumah doi. Sejak berangkat dari rumah, saya lihat cuaca agak mendung tetapi karena hasrat ingin bertemu maka saya tetap berangkat.
Saat sampai rumah doi, tidak berapa lama kemudian hujan turun seperti ditumpahkan dari langit. Petir menyambar-nyambar disambut bunyi guruh / geludug yang menggelegar.
Batal lah rencana kami keluar makan mie pangsit di alun-alun. Berganti dengan mengobrol di kursi teras rumahnya sembari memandangi tetes demi tetes hujan yang membasahi bumi. Sedaapp…
Dan celakanya, hujan tidak reda sedikitpun sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam lebih. Pertanda waktu malam mingguan selesai.
Saya pun pamitan ke doi, tetapi dicegah olehnya.
“Ntar dulu, masih hujan deres begini,” ucapnya.
Tunggu punya tunggu, hingga menjelang pukul sepuluh malam hujan masih belum reda juga.
Tiba-tiba…
Gelap.
Lampu yang menerangi teras mendadak mati.
Namun sinar terang dari dalam rumah menyelinap di sela-sela pintu depan, pertanda bukan pemadaman listrik oleh PLN.
Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengerti arti dari matinya lampu teras tersebut.
Jatah bertamu sudah habis.
Akhirnya, diiringi doi yang khawatir terhadap saya tetapi lebih takut kepada orang tuanya, maka saya pun pamit pulang.
Hebatnya lagi, ternyata saya tidak membawa jas hujan, sehingga mau tidak mau saya mesti berbasah-basahan menembus hujan.
Mengendarai motor BMW (bebek merah warnanya) yang untungnya tidak kambuh batuknya saat kehujanan.
Oh ya, komplek rumah doi dan komplek rumah saya berjarak sekitar 5 kilometer jika melalui jalan raya utama. Memangkas jarak lebih dekat sekitar separuhnya jika melalui jalan tembus / alternatif. Karena sekujur tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan, saya putuskan untuk menyingkat waktu melalui jalan tembus tersebut.
Di masa itu, kondisi jalan tembus itu masih gelap tanpa penerangan jalan karena berada di antara persawahan. Rumah penduduk pun hanya ada di pangkal dan ujung jalan yang panjangnya sekitar 1 kilometer
Dapat dibayangkan dalam kondisi hujan deras dan jalan yang gelap, sepi pula, saya melaju menembus hujan tanpa ada satu pun kendaraan lain.
Jujur saja, sebelum melewati jalan itu hati saya sempat gentar juga. Bukan apa-apa, takut BMW saya mogok kemasukan air hujan.
Seram kan sendirian menuntun motor di tengah hujan deras melewati jalan yang gelap gulita.
Nah..
Saat di tengah jalan itu,
Bruukk..
Tiba-tiba motor saya terhentak seolah ada beban yang tiba-tiba mendarat di jok belakang motor.
Waduh...
Benak saya mulai berpikir hal yang menyeramkan tetapi saya mencoba mengalihkan pikiran itu.
Mungkin saja motor kemasukan air sehingga membuat mesin “mberebet” atau batuk sesaat.
Saya pun melaju terus menembus hujan.
Dan keanehan berlanjut..
Laju motor menjadi berat sekali, biarpun sudah menarik gas sampai mesin meraung.
Seperti ada seseorang yang membonceng dengan berat tubuh di atas rata-rata.
Sekujur tubuh saya pun merinding, antara kedinginan dan ketakutan bercampur aduk jadi satu.
Dengan takut-takut saya beranikan diri menoleh ke belakang, ke arah boncengan.
Tetapi tidak ada siapapun atau apapun di situ.
Namun kemudian dari perasaan yang menjalar di punggung dan belakang telinga saya, memberitahu dengan cukup jelas bahwa ada "seseorang" yang ikut membonceng di belakang.
Berwarna putih, berambut panjang.
Apes sekali malam itu rasanya...
Sudah diusir pulang oleh camer, badan basah kuyup kehujanan, dan di tengah jalan ketiban sial ditumpangin "seseorang" lagi...
Akhirnya, saya menambah gas motor saya sambil berkata,
"Maaf Mbak, saya mau pulang, kalau kamu mau ikut silahkan nggak papa..tapi tolong jangan ganggu yaa..."
Dan tepat menjelang ujung jalan sepi itu,
Wuusss….
Tiba-tiba motor saya langsung terasa ringan sekali.
Dalam sekejap beban di belakang tubuh saya menghilang.
Saya memutar kepala sekali lagi.
Hanya terlihat jalan gelap dan riuh hujan yang ada di sana.
Fiuuhh…
Lega sekali rasanya ketika memasuki gerbang komplek perumahan tempat saya tinggal.
Belakangan saya berpikir,
Mungkinkah "dia" bersimpati dan mau “puk-puk” saya yang baru diusir dari rumah pacar?
Kalau benar, terima kasih ya Mbak…

Kisah Misteri - TERJEBAK


(TERJEBAK)
 
Jarum jam arloji di tangan telah menunjukkan waktu menjelang tengah malam ketika aku selesai menempatkan mobil yang kukendarai di lokasi parkir di depan hotel D.
Sudah kali kesekian aku datang ke kota kecil di pesisir selatan pulau Jawa ini menunaikan tugas dari kantor pusat perusahaan tempatku bekerja untuk melakukan "stock opname" material di salah satu proyeknya di sini. Dan aku selalu menginap di tempat ini. Hotel kecil kelas melati, sederhana namun nyaman.
Biasanya tak pernah selarut ini aku sampai di sini namun kemacetan di salah satu titik jalur selatan akibat kecelakaan lalu lintas menghambat perjalananku.

Aku meraih tas dan bergegas keluar dari mobil menuju lobi hotel. Suasana sangat sepi baik di halaman hotel maupun di jalan raya depannya. Tipikal kota kecil pada umumnya dimana ritme kehidupan berjalan lebih santai dibandingkan kota besar apalagi ibukota.

Dengan langkah cepat aku melintasi lobi yang sunyi.
Ya iya lah sepi, siapa juga tamu hotel yang mau keluar tengah malam begini?
"Malam, Mas Yanto. Maaf kemaleman nih," sapaku pada petugas hotel yang setahuku bernama Yanto. Ia duduk seorang diri di balik meja resepsionis.
"Kemaren saya udah booking sama Mbak Dian ya," lanjutku.
Ia tersenyum datar sembari menyerahkan kunci kamar di atas meja.
"Terima kasih ya, Mas." Aku segera beranjak ke kamar nomor 216 sesuai angka pada gantungan kunci di tanganku.

Lho..?
Di dalam kamar mandi kamar, aku memutar-mutar kran shower beberapa kali tanpa hasil. Maksud hati menyegarkan tubuh setelah seharian penuh menginjak pedal gas dan rem, namun bahkan setetes air pun tidak menetes keluar dari shower di tanganku.
Damn!
Kesal namun tak berdaya, aku pun hanya menggosok gigi dan mencuci muka menggunakan sisa air mineral botolan dalam tasku.
Tadinya aku hendak mengajukan komplain ke resepsionis tetapi kurasa percuma saja di tengah malam seperti ini. Apalagi di setiap kamar tidak ada pesawat telepon, sehingga jika tamu hotel ingin komplain atau membutuhkan sesuatu, ia mesti langsung mendatangi resepsionis. Malas rasanya harus turun naik tangga dari lantai dua dimana kamarku berada.
Akhirnya, setelah berganti baju aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan langsung terlelap beberapa menit kemudian.

Tut..tut..tut...
Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon genggam AMPS milikku dari meja di sebelah, tepat di dekat posisi kepalaku berada. Aku melirik arloji. Pukul dua lewat tiga puluh.
Simon? Ada apa dia telpon jam segini? batinku melihat barisan angka yang tertera di layar telepon.

"Halo.." sapaku malas.
"Halo, Bang Sam?"
"Iya lah, ini Sam. Siapa lagi?"
"Abang udah di mana? Dari tadi banyak yang telepon nyariin."
"Udah di hotel. Baru sampai tengah malam tadi, kena macet parah di jalan."
"Tapi nggak ada yang telpon kok. Baru kamu ini, Mon," lanjutku.
"Oh, gitu. Mungkin nggak ada sinyal ya. Syukurlah Abang dah sampai."
"Memang ada apa pada nyari aku?"
Tuuuuuttt...
"Asem, putus..." umpatku. Kucoba menelepon balik namun tidak ada nada sambung yang terdengar.
Susah sinyal kali di sini

Mungkin terbangun karena terkejut membuatku haus. Aku meraih botol air mineral di meja. Kosong. Isinya telah habis kupakai tadi.
Menimbang-nimbang sesaat, kuputuskan untuk keluar kamar mencari air minum.
Suasana sangat hening di luar. Lantai koridor antar kamar beralas ubin abu-abu memantulkan suara langkah kakiku.
Tok..tok..tok..

Tapi,
Ini terlalu hening, terlalu sunyi.
Suara dengkuran tamu lain atau bunyi siaran televisi yang biasanya tipis terdengar di koridor, kali ini tidak kudapati.
Bahkan tidak terdengar suara apapun.
Benar-benar senyap.

"Mas..Mas.." Aku berkeliling lobi hotel mencari Yanto ataupun petugas lainnya. Tak ada seorang pun di sini.
Begitu pun di teras depan pintu utama hotel.
Memandang jalanan, juga sepi tanpa ada satu pun kendaraan melintas.
Hanya sinar lampu bangunan lain di sekitar hotel yang terlihat.
Kerongkonganku semakin terasa kering.
"Oh iya, kayanya di mobil masih ada satu botol."
Tanganku meraih saku celana mencari kunci mobil.
"Damn! Kunci di tas."
Aku berdiri termangu di halaman.
Menimbang antara naik ke kamar untuk mengambil kunci mobil atau keluar mencari warung yang mungkin masih buka.

"Mas.." Sebuah tepukan di punggung membuatku hampir meloncat kaget.
Aku membalikkan tubuh. "Mas Yanto. Wah, aku nyari Mas dari tadi."
Ia hanya tersenyum kecil.
"Aku nyari air minum, Mas. Ada nggak ya?"
Ia mengangguk. "Ada, Mas. Di dalem."
Lalu ia berjalan mendahuluiku masuk ke lobi hotel.
"Ini, Mas. Silahkan." Ia mengulurkan segelas plastik air mineral dalam kemasan dari nampan kecil di atas meja resepsionis.
Aku terheran-heran melihatnya.
Beberapa kali aku memutari ruangan dan aku yakin benar nampan berisi air mineral kemasan itu tadi tidak ada di situ.
"Terima kasih. Kok saya nggak lihat ya tadi ada minuman di situ?"
Yanto kembali tersenyum datar.
Tak ambil pusing, aku meraih satu gelas lagi dan kembali ke kamarku di lantai dua.

Ketika melewati koridor lantai satu menuju ke tangga naik, kulihat ada dua tamu lain sedang memasuki kamar mereka masing-masing. Hanya kulihat punggung mereka sebelum pintu tertutup kembali.
"Kapan mereka lewat ya?" pikirku.

Baru saja hendak terlelap, telepon genggamku kembali berbunyi menandakan ada panggilan.
"Ah, Simon lagi."
"Halo, Halo, Bang.."
"Iya, Mon. Ada apa sih, Mon?"
"Aku disuruh Bos mastiin Abang baik-baik aja."
"Ah, si Bos itu apaan sih. Iya, aku baik-baik di sini. Tapi nggak baik juga nanti kalau kau telpon aku terus, gimana aku mau tidur..?" jawabku kesal.
"I-iya, Bang. Tapi Abang sekarang nginep di mana? Jangan-jangan di rumah Eneng yang punya warung proyek itu ya.."
"Hus, ngawur kau, Mon. Nggak lah. Ya di tempat biasa lah, Hotel D."
"Apa, Bang? Di mana?" Suaranya terdengar kaget sekali.
"Hotel D. Kenapa sih?"
"Tap-tapi, Bang..."
"Tapi apa, Mon?" kejarku kesal.
"Hotel itu kan kebakaran, Bang."
"Ah, ngaco kamu!"
"I-iya, Bang. Ta-tadi siang si Eno dari proyek telpon ke pusat. Banyak korban katanya. Itulah kenapa si Bos suruh aku hubungi Abang karena kita tahu Abang selalu nginap di situ."
Bulu kudukku merinding seketika.
Kepalaku berat sekali berusaha mencerna informasi yang kuterima ini.
"Ka-kau yakin, Mon? Kau nggak lagi ngerjain aku?"
"Sumpah, Bang."

Tiba-tiba bau sangit benda terbakar mulai tercium di hidungku.
Tok..tok..tok...
Pintuku diketok dari luar..!
Aku terpaku menatap daun pintu kamar yang mulai memerah terbakar perlahan dari sisi bawah merambat ke atas.
Simon terus memanggilku," Bang..Abang..."
Suaranya berangsur menghilang seiring kaburnya penglihatanku.
Gelap.
🌀🌀🌀

Tok..tok..tok..
"Selamat pagi, breakfast siap."
Suara ketukan disusul panggilan sarapan dari luar kamar sontak membangunkanku.
"Suara si Ayu," batinku.
Langsung terbayang salah satu alasanku selalu memilih hotel D ini, si Ayu, petugas restoran hotel merangkap room service, berwajah sesuai namanya.
Aku membuka mata, mengerjap beberapa kali. Pandanganku mengitari keseluruhan ruangan kamar. Masih seperti semula.
Lantai ubin abu-abu yang mulai kusam, langit-langit gipsum bercat krem muda dengan titik bekas kebocoran di beberapa bagian, serta lemari kayu berbau apak di sudut ruangan.
"Serem amat mimpi barusan ya.." Aku mengelus pangkal lenganku yang meremang.

Kruuuk...
Cacing dalam perutku mulai berontak protes meminta pasokan gizi. Kuingat-ingat terakhir mengisi perutku adalah kemarin sore di sebuah warung kecil tepi jalan raya setelah melewati kemacetan luar biasa akibat adanya kecelakaan lalu lintas itu.
Setelah mencuci muka dan gosok gigi ala kadarnya, aku menyeret kedua kakiku menuju restoran tempat sarapan yang terletak di sebelah lobi hotel.
Suasana di lobi dan restoran pagi ini tidak berbeda jauh dengan kunjunganku sebelumnya di hotel ini. Tidak terlalu ramai tamu, hanya berkisar belasan orang. Mereka telah duduk di kursi masing-masing menyantap sarapan mereka.
Aku mengenal salah satunya, Pak Ngatno, "sales engineer" pemasok suku cadang mesin alat berat di proyekku.
"Pagi Pak, apa kabar nih?" Aku menghampiri mejanya.
Ia mendongak cepat. "Oh, Pak Sam."
"Rupanya Bapak nginap di sini juga?"
Ia mengangguk dan melemparkan senyum agak terpaksa.
Aku membalas senyumnya. "Silahkan diteruskan, Pak. Saya ambil sarapan dulu."
Mungkin dia sedang tidak ingin berbasa-basi pagi ini.
🌀🌀🌀
Aku memenuhi piring di tanganku dengan beberapa sendok nasi goreng beserta lauk-pauknya dan mengambil tempat duduk di meja sudut dekat jendela yang menghadap ke luar hotel, ke arah jalan raya. Lalu lintas pagi ini terlihat mulai padat walaupun tidak ada apa-apanya dibandingkan pagi hari di Jakarta.
"Pagi, Mas Sam." Suara lembut menawan itu mengejutkanku.
"Eh, Ayu.." Aku memandangi gadis cantik yang sedang membawa nampan berisi secangkir kopi di sebelahku ini.
"Silahkan kopinya, Mas. Spesial dari Ayu." Ia mengerling sekejap sebelum berlalu.
Aku memandangi tubuhnya dari belakang hingga menghilang di balik pintu dapur. Tubuh yang pernah menghabiskan malam bersamaku.

Aku makan dengan cepat. Dentingan logam sendok beradu dengan piring di hadapanku memenuhi kesunyian restoran ini.
Tunggu...
Sunyi..?
Aku menghentikan gerakanku.
Kulemparkan pandangan menyapu sekeliling ruangan.
Benar-benar sunyi. Sepi. Senyap.
Para tamu lainnya, termasuk Pak Ngatno, mereka hanya duduk diam. Mematung menghadap ke depan.
Perasaanku mulai tidak enak.

Tiba-tiba telepon genggamku kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tak kukenal.
"Halo.." sapaku.
"Halo, ini Pak Sam?" Suara seorang wanita di seberang menjawabku. Sepertinya aku mengenalnya.
"Iya, ini Sam. Eno ya?"
"I-iya, Pak. Maaf, Bapak sedang dimana ya?"
"Breakfast di hotel."
"Maaf Pak, di hotel mana ya? Kata Pak Simon, Bapak..."
Aku cepat menyelanya, "Di Hotel D. Kalian ini kenapa sih?"
Eno terdiam.
"Eh, Eno! Kau kok malah diam?"
"Tap-tapi, Pak. Hotel D udah kebakar habis, Pak.." Ia menjawab histeris.
"Kalian jangan aneh-aneh deh! Ini aku ada di Hotel D, lagi sarapan!"
"Ng-nggak mungkin, Pak."
"Nggak mungkin gimana?"
"Saya sekarang ada di depan hotel, Pak."
"Bener kebakar semua, Pak," lanjutnya.
Whaat..?!
Berarti...?!
Bulu kudukku meremang seketika.

"Mas, kopinya belum diminum?"
Entah sejak kapan Ayu sudah berdiri di sampingku. Tubuhnya setengah menunduk berucap pelan di samping telingaku.
"I-iya, se-sebentar la-gi," jawabku gugup.
Ia menyentuhkan jemarinya di lenganku.
Lalu menatapku.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi.
Saat kepalaku menoleh ke belakang mengikutinya, tubuh Ayu menghilang begitu saja di koridor antar meja restoran. Lenyap bagai menguap di udara.
Kali ini sekujur tubuhku merinding tidak terkira.

Tiba-tiba kata-kata Mbah Sarno, supervisor lapangan seniorku, terngiang di telingaku.
"Terkadang mereka tidak menyadari keberadaannya sebagai hantu. Mereka masih merasa, berpikir dan berlaku seperti manusia selagi hidup."
Mbah Sarno merupakan "living legend" andalan perusahaan setiap kali membuka lahan proyek di pelosok terpencil ataupun di tengah hutan yang jarang terjamah manusia. Banyak sekali kisah misteri yang ia ceritakan pada kami para yuniornya.
"Kalau kamu bertemu yang seperti itu, bersikaplah tenang seolah tak ada apa-apa. Jangan tunjukkan rasa takut kita karena energi yang kita pancarkan selagi takut akan memicu kesadaran mereka," jelasnya suatu waktu padaku.
"Dan segeralah pergi, tinggalkan mereka atau tempat dimana kamu berada. Atau kamu akan turut terjebak bersama kenyataan semu yang tercipta."
🌀🌀🌀
Kutatap layar teleponku. Mati.
Pasti baterainya kehabisan daya.
Aku melihat ke arah mereka lagi.
Para tamu lain di sekitarku.
Mereka masih duduk diam di kursinya.
Walaupun lututku gemetar, aku putuskan harus segera keluar dari tempat ini.
Aku tak mau terjebak di sini.
Aku berdiri perlahan tanpa suara.
Mereka masih tetap pada posisinya.
Hanya Pak Ngatno yang menoleh memandang ke arahku.
Aku melangkah sebiasa mungkin menyusuri koridor di antara deretan meja dan kursi dimana mereka duduk.
"Mari, Pak. Saya duluan." Aku melambai pada Pak Ngatno.
Entah ia membalas lambaianku atau tidak, aku tak perduli.
Aku tetap melangkah.
Pintu utama.
Ya.
Aku memusatkan konsentrasi menuju pintu itu.
Langkahku semakin cepat.
Tetapi...

"Mas, buru-buru sekali?"
Yanto, petugas hotel semalam, telah berdiri di hadapanku.
Tatapannya penuh selidik.
"I-iya, Mas. I-itu, ada perlu," jawabku gugup.
Aku sadar kini bahwa yang kuhadapi sedari semalam bukanlah manusia.
Hantu.
Lalu ia terkekeh.
"Mas sudah tahu ya? Hehehe..."
Ia melangkah mendekat..!
"Tahu? Ta-tahu apa, Mas?"
"Ini.."
Ia menjulurkan tangan kanannya meraihku.
Kulit tangannya gosong menghitam. Bau rambut dan daging terbakar seketika menyeruak.
Dan bukan hanya tangan, tetapi kini sekujur tubuhnya..!
Kulit hangus itu terkelupas di beberapa bagian menunjukkan sisa daging dan darah berwarna merah.
"Aaaaaa,,,!!"
Aku berteriak sejadi-jadinya.
Secepat kilat aku berlari keluar lobi hotel nahas itu.
"Mas Sam, tunggu, Mas.." Kudengar suara merdu Ayu memburu di belakangku.
Aku menutup erat kedua telingaku.
Aku terus berlari.

Halaman hotel ini terasa jauh sekali.
Rasanya aku telah berusaha berlari sekuat tenaga secepat-cepatnya.
Tetapi aku masih berada di teras hotel.
Belum keluar ke halamannya.
Aku beranikan diri menengok ke belakang.
Mereka, sekumpulan makhluk yang hangus terbakar, melangkah tertatih mengejarku.
Salah satunya Ayu.
Wajahnya tidak terbakar seluruhnya.
Ia memanggil-manggilku dengan separuh bibirnya yang meleleh, satu bola mata yang terlepas dari rongganya.
"Mas Sam..Mas..."
Aku mempercepat lariku dan menatap lurus keluar.
Dapat kurasakan jemari tangan seseorang atau lebih, meraih bagian belakang bajuku. Berusaha menarik, merenggutku.
"Sedikit lagi..!" teriakku.
Wuusss...
Kurasakan tubuhku bagaikan menembus sebuah tabir yang tak terlihat.
Kini ringan sekali langkahku.
Aku terus berlari menuju mobilku.

Tetapi...

🌀🌀🌀

Kriing..kriiing...

"Halo, selamat pagi."
"Selamat pagi. Apakah saya berbicara dengan Bapak Simon?"
"Iya betul, Pak. Saya Simon. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
"Kami dari kepolisian, Pak. Maaf mengganggu pagi buta begini."
"Polisi..Mmm, ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Begini, Pak. Kami ingin menginformasikan..mmm.."
"Ada apa ya, Pak?"
"Maaf, bisakah Bapak datang ke kantor kami di Purworejo?"
"Lho, mengenai apa ya, Pak? Kok mendadak sekali?"
"Mmm, ini mengenai rekan anda."
"Oh, siapa ya, Pak?"
"Bapak Samuel Hasiholan."
"Kenapa dengan dia, Pak? Kebetulan saya juga sedang mencari dia."
"Beliau mengalami kecelakaan mobil kemarin sore. Lebih lanjutnya silahkan Bapak ke kantor atau bisa juga ke Rumah Sakit X. Ini nomor kami yang dapat dihubungi..."
"Tu-tunggu, Pak. Maksud Bapak, Bapak Sam kecelakaan? Kemarin sore?"
"Benar, Pak."
"Ta-tapi, Pak...Saya semalam bicara dengan dia.."
"Maaf, Pak. Saya rasa tidak mungkin karena...mmm.."
"Karena apa, Pak?"
"Beliau..mmm...menjadi salah satu korban tabrakan beruntun. Dan saat ini..mmm..maaf, jenazahnya telah dibawa ke rumah sakit."
"Apaa...?!!"

~~ Rest In Peace, Sam ~~

(The End)

Kisah Misteri - BERMALAM DI KOS TEMAN

(BERMALAM DI KOS TEMAN)

Jogja, end 90's
Ketika itu sekitar semester enam (kalau tidak salah ingat) dimana kami anak-anak teknik sipil disibukkan dengan tugas dan praktikum yang menggunung di kampus.
Di salah satu mata tugas, saya bergabung di kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang mahasiswa termasuk saya.
Suatu malam, kami bertiga menyusun materi tugas tersebut di kos teman kelompok saya, sebut saja Ayu.
Saking sibuknya (sebenarnya lebih banyak mengobrol dan bercanda) tanpa terasa waktu telah larut malam. Si Beauty, rekan kelompok saya yang lain, pamit pulang ke kosnya yang terletak tidak jauh dari kos si Ayu. Kemudian si Ayu menawarkan saya untuk menginap di kosnya, kebetulan ada kamar kosong milik temannya yang sedang pulang kampung (saya juga kenal dengan temannya itu, si Charming).
Oh ya, saya lupa bilang, kos2an si Ayu boleh dibilang agak "bebas" waktu itu dan memang kos campur pria dan wanita.
Tapi tolong jangan ngeres ya. Nothing happened. Hehe.
Singkat kata, saya masuk ke kamar si Charming itu.
Kamarnya terletak agak di sudut belakang, tidak terlalu jauh dengan kamar mandi, sedangkan kamar si Ayu tadi selisih dua kamar lebih ke deretan tengah.
Setelah memindahkan beberapa baju perempuan milik si Charming yang berantakan di kasur, saya pun merebahkan diri dan tidak berapa lama pun terlelap.

"Duk..duk.."
Entah berapa lama saya tertidur, telinga saya samar-samar mendengar suara mirip seperti orang memukul lemari kayu.
"Duk..duk.."

Saya membuka mata dan melihat ke sekeliling. Menajamkan pendengaran namun tidak terdengar suara apa-apa, hanya bunyi jangkrik di luar kamar.
Saya pun kembali tidur.

"Duk..duk.."
Suara itu kembali terdengar.
Kali ini lebih keras.

Saya pun bangkit dari posisi berbaring, duduk di kasur sembari mencari asal suara.
Tepat di arah kaki saya, di ujung kasur terdapat sebuah lemari kayu tinggi dengan ukiran di sekeliling bingkai pintunya, seperti lemari kuno.
Dalam hati saya berpikir apakah dari lemari itu sumber suara tadi.
Karena beberapa kali mengalami kejadian memyeramkan di kos saya sendiri, dengan perasaan kurang enak alias merinding, saya memberanikan diri berdiri dan membuka lemari itu.
Ternyata dalam keadaan terkunci. Pasti si Charming mengunci lemari itu sebelum pulang kampung.
Ah, mungkin salah dengar. Begitu pikir saya kemudian.
Saya pun kembali tidur.

"Ssstt..."
"Sssstt.."
Kali ini suara orang berdesis yang membangunkan tidur saya.
Ketika membuka mata, pandangan saya tepat mengarah ke lemari kayu itu.
Ke arah sumber suara.

"Duk..duk..."
Di mana sesosok wanita berbaju putih duduk di atas lemari itu.
Rambutnya hitam panjang menutupi wajahnya yang menunduk.
Kakinya bergoyang-goyang membentur pintu lemari.
"Duk..duk..."

Saya terpaku beberapa saat.
Sekejap kemudian hanya satu yang ada di pikiran saya. Lariii...
Tetapi jangankan lari, untuk bangkit dari tempat tidur pun saya tak berdaya sama sekali.
Otak memerintahkan untuk bangkit dan lari namun sekujur tubuh saya tak dapat digerakkan. Dan mata saya terus menatap hantu wanita di atas lemari itu, tak bisa menoleh atau memejamkan mata, walaupun ingin.

Perlahan, kepala hantu wanita itu mendongak dari semula menunduk, terlihat dari rambut panjangnya yang bergerak ke atas.
Perlahan.

Kemudian...
Tepat sebelum wajahnya tersingkap dari balik rambut panjangnya...plaass...
Ia lenyap.
Yang terlihat hanya ruang kosong di antara bagian atas lemari dan plafon kamar.

Secepat kilat saya bangkit dari tempat tidur dengan nafas tersengal-sengal ketakutan.
Lalu tergopoh-gopoh menjangkau kunci pintu bermaksud keluar dari kamar menyeramkan itu.
"Damn..!"
Anak kunci macet tidak bisa diputar.
Saya coba dan coba lagi. Tetap macet.
Setengah putus asa saya menggoyang-goyang handel memaksa untuk membuka pintu.
Sia-sia.

"Duk..Duk.."
"Duk..Duk.."
Bulu kuduk saya meremang kembali.
Kaos di tubuh terasa dingin oleh keringat
Suara lemari itu lagi..!
Saya semakin panik.
Sementara kunci terkutuk itu tetap tak mau terbuka.

"Hhhhhh...Hhhhh..."
Tiba-tiba terdengar jelas sekali suara seseorang mendesah.
Hawa dingin merayapi punggung saya yang membelakangi ruangan kamar.
Saya memfokuskan pandangan ke arah pintu, tak berani menoleh ke asal suara desahan itu.
"Hhhhh..Hhhhh..."
Detik berikutnya, ia telah berdiri di sebelah saya.
Terlihat dari sudut mata, mungkin ia hanya berjarak dua atau tiga langkah di sebelah kanan saya.
Kini saya tersudut oleh dinding kamar di sisi kiri, sosok hantu wanita itu di sisi lain dan pintu di depan saya.
Tubuh saya kembali terpaku.
Gemetaran sembari memejamkan mata tanpa berani sedikitpun menoleh ke arahnya.
"Hhhhh...Hhhhh..."
Terdengar desahannya kembali.
Semakin dekat.
Hawa dingin semakin menyerbu tubuh saya.
Astaga..!
Semakin dekat.
"Hhhhh...Hhhhh..."
Dan kini ia meraih lengan kanan saya yang tertekuk keatas menutupi wajah saya.
Ia menggenggamnya.
Dingin.
"Aaaaaaaa..!!!"

Kisah Misteri - ROMANTIKA CUCIAN

(Romantika Cucian)

Selamat malam jumat sobat tercinta. Malam ini saya ingin membagikan cerita misteri yang terjadi di kos-kosan saya semasa kuliah dulu. Mungkin sebagian sobat pernah membaca cerita saya sebelumnya tentang betapa horornya kos itu?
Baiklah, saya rewind sedikit ya adegan terakhir yang terjadi :
👻👻👻
Sampai di kos sudah hampir jam sembilan malam, setelah melemparkan tas ke kamar sambil langsung meraih gayung yang berisi peralatan mandi, kemudian berlari ke kamar mandi yang terletak di sudut belakang kos. Saya masuk ke kamar mandi sebelah kiri, favorit saya, yang lebih lancar aliran air kerannya.
Baru saja hendak menyiramkan air ke badan, tiba tiba..
Dueeng !!
Terdengar suara kencang dari kamar mandi sebelah. Suara keras dari daun pintu kayu berlapis seng yang beradu dengan kusen kamar mandi saat ditutup dengan tergesa-gesa.
Siapa sih nutup pintu kenceng amat? Ngga bisa dibuka tau rasa, gerutu saya.
Selesai mandi yang singkat, tidak sampai lima menit, sambil mengeringkan badan dengan handuk saya tajamkan telinga ke arah kamar mandi sebelah.
Kok dari tadi gak ada suara jebar jebur? Oh, paling lagi pup, batin saya.
Begitu keluar kamar mandi, saya tengok kamar mandi sebelah itu, ternyata pintu dalam kondisi masih terbuka sama seperti saat sebelum saya mandi.
Dan…lantainya dalam keadaan kering sama sekali.
Langsung merinding seketika.
Setengah berlari, masih dengan setengah telanjang hanya tertutup handuk dari pinggang kebawah, saya bertanya pada si D yang saat itu sedang duduk merokok di depan kamarnya, sebelum lorong menuju kamar mandi.
“D, kamu liat ngga siapa yang barusan make kamar mandi?”
“Ya kamu yang mandi kan?” jawabnya
“Bukan, maksudnya ada yang lain ngga?”
“Engga ada sih, emang kenapa?”
“Aku barusan mandi, terus ada yang masuk di sebelah, nutup pintunya kenceng banget lagi” jelas saya cepat.
“Lha, bukannya kamu tadi yang nutup pintu kenceng banget?” dia balik bertanya.
Dueeng !!
Kembali suara itu terdengar lagi….
Kami berdua berpandangan sejenak, kemudian buru-buru lari…
Tragisnya, ikatan handuk tidak berkompromi…
Setaaaannnn…!!!!
* * * * * *
Nah, adegan di atas itu terjadi di pojok belakang sisi utara kos kami. Belakangan saya tahu dari rekan senior kalau yang menghuni “wilayah” itu adalah hantu yang berbentuk pocong, dan amazingnya tidak hanya satu..!!
Selanjutnya di kisah sekarang saya akan menceritakan salah satu kejadian yang terjadi di wilayah seberangnya yaitu pojok belakang sisi selatan kos kami, dimana di situlah terletak sebidang ruang terbuka yang menjadi tempat mencuci pakaian.
Suatu malam, rekan saya sebut saja si Ab, sedang mencuci pakaian di tempat tersebut. Dia terpaksa mencuci malam-malam (sekitar jam 21-an) karena stok pakaiannya telah menipis dan beberapa hari sebelumnya ia tidak sempat mencuci karena kesibukan kuliah.
“Ab, kok nyuci malam-malam?” sapa saya saat berjalan melewati koridor yang berbatasan dengan ruang cuci tersebut.
“Iya nih, daleman habis” Ia menoleh sambil nyengir. Ia berjongkok di depan papan penggilasan dan ember berisi rendaman cucian yang aromanya dapat tercium sampai taman di tengah kos. Wueekk.
“Oh, itu cucian kamu, Ab? Berapa hari direndemnya tuh?”
“Hehe. Baru seminggu..” kembali ia nyengir memamerkan barisan giginya yang berkilau disinari rembulan. Haiyah.
“Memang kelihatan remang-remang gini?”
“Yah, lumayan lah, daripada besok nggak pake si-di”
Saya meraih batang rokok terakhir dari saku lalu menyulut dan menghisapnya untuk mengatasi aroma memabukkan itu seraya duduk di dinding pendek yang membatasi ruang cucian itu. “Yang lain pada kemana, Ab? Kok sepi?”
“Ngga tau, Yos. Lagi pada makan di Babarsari kali” jawabnya.
Sebentar kemudian saya dan Ab terlibat obrolan ringan sembari ia tetap menyikat dan mengucek pakaiannya dalam posisi membelakangi saya.
Tidak berapa lama rokok yang saya hisap telah habis kemudian saya meninggalkan si Ab untuk mengambil rokok di kamar. Bikin kopi sekalian ah, pikir saya saat di kamar. Akhirnya, saya memanaskan air di heater berbentuk teko plastik andalan anak kos dan menyeduh segelas kopi.
Saat kembali ke ruang cuci itu lagi sekitar sepuluh menit kemudian sambil membawa kopi yang saya buat, di tengah taman saya mendapati si Ab tergopoh-gopoh menyongsong saya dengan tangan dan wajah belepotan busa sabun. Celana pendek jins yang menutupi tubuh bagian bawahnya basah kuyup.
“Kamu ngapain, Ab?” tanya saya heran.
“Yos, sialan kamu ninggalin” umpatnya dengan wajah pucat.
“Lha, kan tadi aku bilang mau ngambil rokok”
“Ah, ngga. Kamu ngga bilang gitu”
“Bilang kok, kamu aja ngga denger. Memang kenapa sih?” tanya saya keheranan.
“Aku dari tadi nyuci sambil ngobrol sama kamu kan. Tapi aku heran kok lama-lama kamu njawabnya cuma bilang Iya atau Hmm-hmm gitu” jawabnya.
“Oh ya?”
“Nah, barusan aku kesel kan sama jawabanmu. Aku noleh ke belakang…” jelasnya terputus.
Saya merinding mendengar ceritanya. “Heh..terus..?”
Si Ab cepat menggandeng lengan saya dan berjalan ke depan kamar saya. “Ternyata, bukan kamu..tapi bayangan hitam besar berdiri di deket tembok yang kamu duduk itu..Aku langsung nyusruk ke cucian depanku, ketakutan. Terus lari kesini…”
“Ojo guyon ah, Ab” tegur saya merinding.
“Tenan iki. Masa aku mau basah-basahan gini bercandain kamu..” jawabnya ngotot.
Kemudian
"Byuuurr...”
Terdengar suara air dituang atau lebih tepatnya dibalikkan dari embernya.
“Setaaaaannn…..!!!”
Dan esok harinya, dengan terpaksa saya pinjami si Ab si-di saya.
Hiks….
* disclaimer : foto memang nggak nyambung sama cerita. Cuma mau pamer kaos aja.