(Rainy Night)
Ok, tadi udah intermezzo sama kisah Gang Terlarang yaa. Hehe.
Kali ini saya mau cerita pengalaman pribadi lebih dari 20 tahun yang lalu.
Gini ceritanya...
Sewaktu masih duduk di kelas 2 SMA, saya berpacaran dengan gadis lain
sekolah yang usianya setahun di bawah saya alias adik kelas.
Singkat
cerita, suatu malam minggu saya datang ngapel ke rumah doi. Sejak
berangkat dari rumah, saya lihat cuaca agak mendung tetapi karena hasrat
ingin bertemu maka saya tetap berangkat.
Saat sampai rumah doi,
tidak berapa lama kemudian hujan turun seperti ditumpahkan dari langit.
Petir menyambar-nyambar disambut bunyi guruh / geludug yang menggelegar.
Batal lah rencana kami keluar makan mie pangsit di alun-alun. Berganti
dengan mengobrol di kursi teras rumahnya sembari memandangi tetes demi
tetes hujan yang membasahi bumi. Sedaapp…
Dan celakanya, hujan
tidak reda sedikitpun sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam
lebih. Pertanda waktu malam mingguan selesai.
Saya pun pamitan ke doi, tetapi dicegah olehnya.
“Ntar dulu, masih hujan deres begini,” ucapnya.
Tunggu punya tunggu, hingga menjelang pukul sepuluh malam hujan masih belum reda juga.
Tiba-tiba…
Gelap.
Lampu yang menerangi teras mendadak mati.
Namun sinar terang dari dalam rumah menyelinap di sela-sela pintu depan, pertanda bukan pemadaman listrik oleh PLN.
Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengerti arti dari matinya lampu teras tersebut.
Jatah bertamu sudah habis.
Akhirnya, diiringi doi yang khawatir terhadap saya tetapi lebih takut kepada orang tuanya, maka saya pun pamit pulang.
Hebatnya lagi, ternyata saya tidak membawa jas hujan, sehingga mau tidak mau saya mesti berbasah-basahan menembus hujan.
Mengendarai motor BMW (bebek merah warnanya) yang untungnya tidak kambuh batuknya saat kehujanan.
Oh ya, komplek rumah doi dan komplek rumah saya berjarak sekitar 5
kilometer jika melalui jalan raya utama. Memangkas jarak lebih dekat
sekitar separuhnya jika melalui jalan tembus / alternatif. Karena
sekujur tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan, saya putuskan untuk
menyingkat waktu melalui jalan tembus tersebut.
Di masa itu,
kondisi jalan tembus itu masih gelap tanpa penerangan jalan karena
berada di antara persawahan. Rumah penduduk pun hanya ada di pangkal dan
ujung jalan yang panjangnya sekitar 1 kilometer
Dapat dibayangkan
dalam kondisi hujan deras dan jalan yang gelap, sepi pula, saya melaju
menembus hujan tanpa ada satu pun kendaraan lain.
Jujur saja, sebelum melewati jalan itu hati saya sempat gentar juga. Bukan apa-apa, takut BMW saya mogok kemasukan air hujan.
Seram kan sendirian menuntun motor di tengah hujan deras melewati jalan yang gelap gulita.
Nah..
Saat di tengah jalan itu,
Bruukk..
Tiba-tiba motor saya terhentak seolah ada beban yang tiba-tiba mendarat di jok belakang motor.
Waduh...
Benak saya mulai berpikir hal yang menyeramkan tetapi saya mencoba mengalihkan pikiran itu.
Mungkin saja motor kemasukan air sehingga membuat mesin “mberebet” atau batuk sesaat.
Saya pun melaju terus menembus hujan.
Dan keanehan berlanjut..
Laju motor menjadi berat sekali, biarpun sudah menarik gas sampai mesin meraung.
Seperti ada seseorang yang membonceng dengan berat tubuh di atas rata-rata.
Sekujur tubuh saya pun merinding, antara kedinginan dan ketakutan bercampur aduk jadi satu.
Dengan takut-takut saya beranikan diri menoleh ke belakang, ke arah boncengan.
Tetapi tidak ada siapapun atau apapun di situ.
Namun kemudian dari perasaan yang menjalar di punggung dan belakang
telinga saya, memberitahu dengan cukup jelas bahwa ada "seseorang" yang
ikut membonceng di belakang.
Berwarna putih, berambut panjang.
Apes sekali malam itu rasanya...
Sudah diusir pulang oleh camer, badan basah kuyup kehujanan, dan di tengah jalan ketiban sial ditumpangin "seseorang" lagi...
Akhirnya, saya menambah gas motor saya sambil berkata,
"Maaf Mbak, saya mau pulang, kalau kamu mau ikut silahkan nggak papa..tapi tolong jangan ganggu yaa..."
Dan tepat menjelang ujung jalan sepi itu,
Wuusss….
Tiba-tiba motor saya langsung terasa ringan sekali.
Dalam sekejap beban di belakang tubuh saya menghilang.
Saya memutar kepala sekali lagi.
Hanya terlihat jalan gelap dan riuh hujan yang ada di sana.
Fiuuhh…
Lega sekali rasanya ketika memasuki gerbang komplek perumahan tempat saya tinggal.
Belakangan saya berpikir,
Mungkinkah "dia" bersimpati dan mau “puk-puk” saya yang baru diusir dari rumah pacar?
Kalau benar, terima kasih ya Mbak…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar