Minggu, 01 Desember 2019

Kisah Misteri - TERJEBAK


(TERJEBAK)
 
Jarum jam arloji di tangan telah menunjukkan waktu menjelang tengah malam ketika aku selesai menempatkan mobil yang kukendarai di lokasi parkir di depan hotel D.
Sudah kali kesekian aku datang ke kota kecil di pesisir selatan pulau Jawa ini menunaikan tugas dari kantor pusat perusahaan tempatku bekerja untuk melakukan "stock opname" material di salah satu proyeknya di sini. Dan aku selalu menginap di tempat ini. Hotel kecil kelas melati, sederhana namun nyaman.
Biasanya tak pernah selarut ini aku sampai di sini namun kemacetan di salah satu titik jalur selatan akibat kecelakaan lalu lintas menghambat perjalananku.

Aku meraih tas dan bergegas keluar dari mobil menuju lobi hotel. Suasana sangat sepi baik di halaman hotel maupun di jalan raya depannya. Tipikal kota kecil pada umumnya dimana ritme kehidupan berjalan lebih santai dibandingkan kota besar apalagi ibukota.

Dengan langkah cepat aku melintasi lobi yang sunyi.
Ya iya lah sepi, siapa juga tamu hotel yang mau keluar tengah malam begini?
"Malam, Mas Yanto. Maaf kemaleman nih," sapaku pada petugas hotel yang setahuku bernama Yanto. Ia duduk seorang diri di balik meja resepsionis.
"Kemaren saya udah booking sama Mbak Dian ya," lanjutku.
Ia tersenyum datar sembari menyerahkan kunci kamar di atas meja.
"Terima kasih ya, Mas." Aku segera beranjak ke kamar nomor 216 sesuai angka pada gantungan kunci di tanganku.

Lho..?
Di dalam kamar mandi kamar, aku memutar-mutar kran shower beberapa kali tanpa hasil. Maksud hati menyegarkan tubuh setelah seharian penuh menginjak pedal gas dan rem, namun bahkan setetes air pun tidak menetes keluar dari shower di tanganku.
Damn!
Kesal namun tak berdaya, aku pun hanya menggosok gigi dan mencuci muka menggunakan sisa air mineral botolan dalam tasku.
Tadinya aku hendak mengajukan komplain ke resepsionis tetapi kurasa percuma saja di tengah malam seperti ini. Apalagi di setiap kamar tidak ada pesawat telepon, sehingga jika tamu hotel ingin komplain atau membutuhkan sesuatu, ia mesti langsung mendatangi resepsionis. Malas rasanya harus turun naik tangga dari lantai dua dimana kamarku berada.
Akhirnya, setelah berganti baju aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan langsung terlelap beberapa menit kemudian.

Tut..tut..tut...
Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon genggam AMPS milikku dari meja di sebelah, tepat di dekat posisi kepalaku berada. Aku melirik arloji. Pukul dua lewat tiga puluh.
Simon? Ada apa dia telpon jam segini? batinku melihat barisan angka yang tertera di layar telepon.

"Halo.." sapaku malas.
"Halo, Bang Sam?"
"Iya lah, ini Sam. Siapa lagi?"
"Abang udah di mana? Dari tadi banyak yang telepon nyariin."
"Udah di hotel. Baru sampai tengah malam tadi, kena macet parah di jalan."
"Tapi nggak ada yang telpon kok. Baru kamu ini, Mon," lanjutku.
"Oh, gitu. Mungkin nggak ada sinyal ya. Syukurlah Abang dah sampai."
"Memang ada apa pada nyari aku?"
Tuuuuuttt...
"Asem, putus..." umpatku. Kucoba menelepon balik namun tidak ada nada sambung yang terdengar.
Susah sinyal kali di sini

Mungkin terbangun karena terkejut membuatku haus. Aku meraih botol air mineral di meja. Kosong. Isinya telah habis kupakai tadi.
Menimbang-nimbang sesaat, kuputuskan untuk keluar kamar mencari air minum.
Suasana sangat hening di luar. Lantai koridor antar kamar beralas ubin abu-abu memantulkan suara langkah kakiku.
Tok..tok..tok..

Tapi,
Ini terlalu hening, terlalu sunyi.
Suara dengkuran tamu lain atau bunyi siaran televisi yang biasanya tipis terdengar di koridor, kali ini tidak kudapati.
Bahkan tidak terdengar suara apapun.
Benar-benar senyap.

"Mas..Mas.." Aku berkeliling lobi hotel mencari Yanto ataupun petugas lainnya. Tak ada seorang pun di sini.
Begitu pun di teras depan pintu utama hotel.
Memandang jalanan, juga sepi tanpa ada satu pun kendaraan melintas.
Hanya sinar lampu bangunan lain di sekitar hotel yang terlihat.
Kerongkonganku semakin terasa kering.
"Oh iya, kayanya di mobil masih ada satu botol."
Tanganku meraih saku celana mencari kunci mobil.
"Damn! Kunci di tas."
Aku berdiri termangu di halaman.
Menimbang antara naik ke kamar untuk mengambil kunci mobil atau keluar mencari warung yang mungkin masih buka.

"Mas.." Sebuah tepukan di punggung membuatku hampir meloncat kaget.
Aku membalikkan tubuh. "Mas Yanto. Wah, aku nyari Mas dari tadi."
Ia hanya tersenyum kecil.
"Aku nyari air minum, Mas. Ada nggak ya?"
Ia mengangguk. "Ada, Mas. Di dalem."
Lalu ia berjalan mendahuluiku masuk ke lobi hotel.
"Ini, Mas. Silahkan." Ia mengulurkan segelas plastik air mineral dalam kemasan dari nampan kecil di atas meja resepsionis.
Aku terheran-heran melihatnya.
Beberapa kali aku memutari ruangan dan aku yakin benar nampan berisi air mineral kemasan itu tadi tidak ada di situ.
"Terima kasih. Kok saya nggak lihat ya tadi ada minuman di situ?"
Yanto kembali tersenyum datar.
Tak ambil pusing, aku meraih satu gelas lagi dan kembali ke kamarku di lantai dua.

Ketika melewati koridor lantai satu menuju ke tangga naik, kulihat ada dua tamu lain sedang memasuki kamar mereka masing-masing. Hanya kulihat punggung mereka sebelum pintu tertutup kembali.
"Kapan mereka lewat ya?" pikirku.

Baru saja hendak terlelap, telepon genggamku kembali berbunyi menandakan ada panggilan.
"Ah, Simon lagi."
"Halo, Halo, Bang.."
"Iya, Mon. Ada apa sih, Mon?"
"Aku disuruh Bos mastiin Abang baik-baik aja."
"Ah, si Bos itu apaan sih. Iya, aku baik-baik di sini. Tapi nggak baik juga nanti kalau kau telpon aku terus, gimana aku mau tidur..?" jawabku kesal.
"I-iya, Bang. Tapi Abang sekarang nginep di mana? Jangan-jangan di rumah Eneng yang punya warung proyek itu ya.."
"Hus, ngawur kau, Mon. Nggak lah. Ya di tempat biasa lah, Hotel D."
"Apa, Bang? Di mana?" Suaranya terdengar kaget sekali.
"Hotel D. Kenapa sih?"
"Tap-tapi, Bang..."
"Tapi apa, Mon?" kejarku kesal.
"Hotel itu kan kebakaran, Bang."
"Ah, ngaco kamu!"
"I-iya, Bang. Ta-tadi siang si Eno dari proyek telpon ke pusat. Banyak korban katanya. Itulah kenapa si Bos suruh aku hubungi Abang karena kita tahu Abang selalu nginap di situ."
Bulu kudukku merinding seketika.
Kepalaku berat sekali berusaha mencerna informasi yang kuterima ini.
"Ka-kau yakin, Mon? Kau nggak lagi ngerjain aku?"
"Sumpah, Bang."

Tiba-tiba bau sangit benda terbakar mulai tercium di hidungku.
Tok..tok..tok...
Pintuku diketok dari luar..!
Aku terpaku menatap daun pintu kamar yang mulai memerah terbakar perlahan dari sisi bawah merambat ke atas.
Simon terus memanggilku," Bang..Abang..."
Suaranya berangsur menghilang seiring kaburnya penglihatanku.
Gelap.
🌀🌀🌀

Tok..tok..tok..
"Selamat pagi, breakfast siap."
Suara ketukan disusul panggilan sarapan dari luar kamar sontak membangunkanku.
"Suara si Ayu," batinku.
Langsung terbayang salah satu alasanku selalu memilih hotel D ini, si Ayu, petugas restoran hotel merangkap room service, berwajah sesuai namanya.
Aku membuka mata, mengerjap beberapa kali. Pandanganku mengitari keseluruhan ruangan kamar. Masih seperti semula.
Lantai ubin abu-abu yang mulai kusam, langit-langit gipsum bercat krem muda dengan titik bekas kebocoran di beberapa bagian, serta lemari kayu berbau apak di sudut ruangan.
"Serem amat mimpi barusan ya.." Aku mengelus pangkal lenganku yang meremang.

Kruuuk...
Cacing dalam perutku mulai berontak protes meminta pasokan gizi. Kuingat-ingat terakhir mengisi perutku adalah kemarin sore di sebuah warung kecil tepi jalan raya setelah melewati kemacetan luar biasa akibat adanya kecelakaan lalu lintas itu.
Setelah mencuci muka dan gosok gigi ala kadarnya, aku menyeret kedua kakiku menuju restoran tempat sarapan yang terletak di sebelah lobi hotel.
Suasana di lobi dan restoran pagi ini tidak berbeda jauh dengan kunjunganku sebelumnya di hotel ini. Tidak terlalu ramai tamu, hanya berkisar belasan orang. Mereka telah duduk di kursi masing-masing menyantap sarapan mereka.
Aku mengenal salah satunya, Pak Ngatno, "sales engineer" pemasok suku cadang mesin alat berat di proyekku.
"Pagi Pak, apa kabar nih?" Aku menghampiri mejanya.
Ia mendongak cepat. "Oh, Pak Sam."
"Rupanya Bapak nginap di sini juga?"
Ia mengangguk dan melemparkan senyum agak terpaksa.
Aku membalas senyumnya. "Silahkan diteruskan, Pak. Saya ambil sarapan dulu."
Mungkin dia sedang tidak ingin berbasa-basi pagi ini.
🌀🌀🌀
Aku memenuhi piring di tanganku dengan beberapa sendok nasi goreng beserta lauk-pauknya dan mengambil tempat duduk di meja sudut dekat jendela yang menghadap ke luar hotel, ke arah jalan raya. Lalu lintas pagi ini terlihat mulai padat walaupun tidak ada apa-apanya dibandingkan pagi hari di Jakarta.
"Pagi, Mas Sam." Suara lembut menawan itu mengejutkanku.
"Eh, Ayu.." Aku memandangi gadis cantik yang sedang membawa nampan berisi secangkir kopi di sebelahku ini.
"Silahkan kopinya, Mas. Spesial dari Ayu." Ia mengerling sekejap sebelum berlalu.
Aku memandangi tubuhnya dari belakang hingga menghilang di balik pintu dapur. Tubuh yang pernah menghabiskan malam bersamaku.

Aku makan dengan cepat. Dentingan logam sendok beradu dengan piring di hadapanku memenuhi kesunyian restoran ini.
Tunggu...
Sunyi..?
Aku menghentikan gerakanku.
Kulemparkan pandangan menyapu sekeliling ruangan.
Benar-benar sunyi. Sepi. Senyap.
Para tamu lainnya, termasuk Pak Ngatno, mereka hanya duduk diam. Mematung menghadap ke depan.
Perasaanku mulai tidak enak.

Tiba-tiba telepon genggamku kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tak kukenal.
"Halo.." sapaku.
"Halo, ini Pak Sam?" Suara seorang wanita di seberang menjawabku. Sepertinya aku mengenalnya.
"Iya, ini Sam. Eno ya?"
"I-iya, Pak. Maaf, Bapak sedang dimana ya?"
"Breakfast di hotel."
"Maaf Pak, di hotel mana ya? Kata Pak Simon, Bapak..."
Aku cepat menyelanya, "Di Hotel D. Kalian ini kenapa sih?"
Eno terdiam.
"Eh, Eno! Kau kok malah diam?"
"Tap-tapi, Pak. Hotel D udah kebakar habis, Pak.." Ia menjawab histeris.
"Kalian jangan aneh-aneh deh! Ini aku ada di Hotel D, lagi sarapan!"
"Ng-nggak mungkin, Pak."
"Nggak mungkin gimana?"
"Saya sekarang ada di depan hotel, Pak."
"Bener kebakar semua, Pak," lanjutnya.
Whaat..?!
Berarti...?!
Bulu kudukku meremang seketika.

"Mas, kopinya belum diminum?"
Entah sejak kapan Ayu sudah berdiri di sampingku. Tubuhnya setengah menunduk berucap pelan di samping telingaku.
"I-iya, se-sebentar la-gi," jawabku gugup.
Ia menyentuhkan jemarinya di lenganku.
Lalu menatapku.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi.
Saat kepalaku menoleh ke belakang mengikutinya, tubuh Ayu menghilang begitu saja di koridor antar meja restoran. Lenyap bagai menguap di udara.
Kali ini sekujur tubuhku merinding tidak terkira.

Tiba-tiba kata-kata Mbah Sarno, supervisor lapangan seniorku, terngiang di telingaku.
"Terkadang mereka tidak menyadari keberadaannya sebagai hantu. Mereka masih merasa, berpikir dan berlaku seperti manusia selagi hidup."
Mbah Sarno merupakan "living legend" andalan perusahaan setiap kali membuka lahan proyek di pelosok terpencil ataupun di tengah hutan yang jarang terjamah manusia. Banyak sekali kisah misteri yang ia ceritakan pada kami para yuniornya.
"Kalau kamu bertemu yang seperti itu, bersikaplah tenang seolah tak ada apa-apa. Jangan tunjukkan rasa takut kita karena energi yang kita pancarkan selagi takut akan memicu kesadaran mereka," jelasnya suatu waktu padaku.
"Dan segeralah pergi, tinggalkan mereka atau tempat dimana kamu berada. Atau kamu akan turut terjebak bersama kenyataan semu yang tercipta."
🌀🌀🌀
Kutatap layar teleponku. Mati.
Pasti baterainya kehabisan daya.
Aku melihat ke arah mereka lagi.
Para tamu lain di sekitarku.
Mereka masih duduk diam di kursinya.
Walaupun lututku gemetar, aku putuskan harus segera keluar dari tempat ini.
Aku tak mau terjebak di sini.
Aku berdiri perlahan tanpa suara.
Mereka masih tetap pada posisinya.
Hanya Pak Ngatno yang menoleh memandang ke arahku.
Aku melangkah sebiasa mungkin menyusuri koridor di antara deretan meja dan kursi dimana mereka duduk.
"Mari, Pak. Saya duluan." Aku melambai pada Pak Ngatno.
Entah ia membalas lambaianku atau tidak, aku tak perduli.
Aku tetap melangkah.
Pintu utama.
Ya.
Aku memusatkan konsentrasi menuju pintu itu.
Langkahku semakin cepat.
Tetapi...

"Mas, buru-buru sekali?"
Yanto, petugas hotel semalam, telah berdiri di hadapanku.
Tatapannya penuh selidik.
"I-iya, Mas. I-itu, ada perlu," jawabku gugup.
Aku sadar kini bahwa yang kuhadapi sedari semalam bukanlah manusia.
Hantu.
Lalu ia terkekeh.
"Mas sudah tahu ya? Hehehe..."
Ia melangkah mendekat..!
"Tahu? Ta-tahu apa, Mas?"
"Ini.."
Ia menjulurkan tangan kanannya meraihku.
Kulit tangannya gosong menghitam. Bau rambut dan daging terbakar seketika menyeruak.
Dan bukan hanya tangan, tetapi kini sekujur tubuhnya..!
Kulit hangus itu terkelupas di beberapa bagian menunjukkan sisa daging dan darah berwarna merah.
"Aaaaaa,,,!!"
Aku berteriak sejadi-jadinya.
Secepat kilat aku berlari keluar lobi hotel nahas itu.
"Mas Sam, tunggu, Mas.." Kudengar suara merdu Ayu memburu di belakangku.
Aku menutup erat kedua telingaku.
Aku terus berlari.

Halaman hotel ini terasa jauh sekali.
Rasanya aku telah berusaha berlari sekuat tenaga secepat-cepatnya.
Tetapi aku masih berada di teras hotel.
Belum keluar ke halamannya.
Aku beranikan diri menengok ke belakang.
Mereka, sekumpulan makhluk yang hangus terbakar, melangkah tertatih mengejarku.
Salah satunya Ayu.
Wajahnya tidak terbakar seluruhnya.
Ia memanggil-manggilku dengan separuh bibirnya yang meleleh, satu bola mata yang terlepas dari rongganya.
"Mas Sam..Mas..."
Aku mempercepat lariku dan menatap lurus keluar.
Dapat kurasakan jemari tangan seseorang atau lebih, meraih bagian belakang bajuku. Berusaha menarik, merenggutku.
"Sedikit lagi..!" teriakku.
Wuusss...
Kurasakan tubuhku bagaikan menembus sebuah tabir yang tak terlihat.
Kini ringan sekali langkahku.
Aku terus berlari menuju mobilku.

Tetapi...

🌀🌀🌀

Kriing..kriiing...

"Halo, selamat pagi."
"Selamat pagi. Apakah saya berbicara dengan Bapak Simon?"
"Iya betul, Pak. Saya Simon. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
"Kami dari kepolisian, Pak. Maaf mengganggu pagi buta begini."
"Polisi..Mmm, ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Begini, Pak. Kami ingin menginformasikan..mmm.."
"Ada apa ya, Pak?"
"Maaf, bisakah Bapak datang ke kantor kami di Purworejo?"
"Lho, mengenai apa ya, Pak? Kok mendadak sekali?"
"Mmm, ini mengenai rekan anda."
"Oh, siapa ya, Pak?"
"Bapak Samuel Hasiholan."
"Kenapa dengan dia, Pak? Kebetulan saya juga sedang mencari dia."
"Beliau mengalami kecelakaan mobil kemarin sore. Lebih lanjutnya silahkan Bapak ke kantor atau bisa juga ke Rumah Sakit X. Ini nomor kami yang dapat dihubungi..."
"Tu-tunggu, Pak. Maksud Bapak, Bapak Sam kecelakaan? Kemarin sore?"
"Benar, Pak."
"Ta-tapi, Pak...Saya semalam bicara dengan dia.."
"Maaf, Pak. Saya rasa tidak mungkin karena...mmm.."
"Karena apa, Pak?"
"Beliau..mmm...menjadi salah satu korban tabrakan beruntun. Dan saat ini..mmm..maaf, jenazahnya telah dibawa ke rumah sakit."
"Apaa...?!!"

~~ Rest In Peace, Sam ~~

(The End)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar