Minggu, 12 Januari 2020

Kisah Misteri : TERJEBAK DI LIFT


#HorrorHitters #YSH2
#CermisLM #FeliLM

TERJEBAK DI LIFT
(sumber foto : boombastis.com)

Malam ini tepat malam keempat aku bertugas shift malam sebagai seorang staf maintenance atau teknisi yg bernaung di bawah Building Management yg mengoperasikan gedung perkantoran setinggi dua puluhan lantai yg usianya cukup tua, mungkin hampir sama dengan umurku.
Aku baru saja lulus dari STM dan atas kebaikan hati pimpinan perusahaan di mana ayahku telah bekerja sebagai sopirnya selama 15 tahun lebih, maka aku mendapat kesempatan untuk bekerja di kantornya mulai dua bulanan lalu.
Tentu saja sebagai teknisi pemula di level terendah dan kapan pun dapat diberhentikan jika tidak menunjukkan kinerja yg baik. Meski begitu, aku dan ayahku sama sekali tak keberatan. Di masa ekonomi negara masih terdera efek krisis moneter tahun 98 kemarin, bagi orang kecil sepertiku langsung mendapat pekerjaan rasanya bagaikan mendapat durian runtuh.

"To, kamu standby ya. Saya keliling dulu," kata Pak Pardi, teknisi senior satu bagian yg bertugas berdua denganku malam ini. Jam dinding menunjukkan waktu hampir tengah malam.
Ia mengambil senter dan Handy Talkie, lalu melangkah keluar Ruang Maintenance yg terletak di Basemen gedung dan menuju lift untuk kemudian ia akan naik sampai lantai Penthouse lalu memeriksa lantai demi lantai dan turun melalui tangga darurat sampai kembali lagi ke pos kami semula di Ruang Maintenance atau di kantor ini lebih sering disebut Engineering.

"Nggak takut, Pak? Keliling sendirian gitu," tanyaku saat pertama kali bertugas bersamanya.
"Dulu awal-awal iya, sekarang dah biasa," jawabnya enteng.
Aku sendiri sampai sekarang belum diberi tugas seperti yg dilakukan Pak Pardi ini. Lagipula, belum tentu aku berani. Bayangkan saja, tengah malam jalan sendirian di dalam gedung yg sebagian besar lampunya telah dimatikan. Dua puluh lantai!
Tetapi mungkin tak lama lagi aku juga akan menjalani tugas serupa. Aku telah bertekad apapun tugas yg diberikan padaku akan aku laksanakan sebaik-baiknya. Dan kini aku kebagian jatah standby di ruangan, mengamati lampu-lampu indikator fungsi-fungsi gedung yg penting seperti kelistrikan, penerangan, alarm kebakaran dan lift.
"Biar nggak ngantuk, kamu boleh nonton TV. Tapi sekali-sekali kamu perhatikan indikator siapa tahu ada yg nggak beres," pesan Pak Pardi waktu itu.
"Kalau yg ini TV apa, Pak?" Aku mengamati beberapa layar serupa televisi tetapi berukuran lebih kecil di meja samping kursi kami menghadap.
"Oh, itu monitor lift. Tapi tengah malam gini jarang sekali ada yg pakai lift. Kecuali karyawan lantai lima belas yg kadang lembur sampai pagi."
"Oh ya, itu di samping kamu ada intercom lift ya. Siapa tahu ada lift yg macet dan orang yg di dalem manggil teknisi," sambungnya sebelum kemudian ia menjelaskan lagi satu demi satu kegunaan indikator-indikator di ruangan kami, mempertegas materi yang telah aku terima ketika masa orientasi di awal mulai bekerja sebulan lalu.

"Engineering monitor?" Suara yg mendadak keluar dari Handy Talkie mengagetkan lamunanku.
Pasti dari Posko, batinku.
Aku bergegas meraih HT di meja di hadapanku, "Masuk, Posko."
"Anto, ya?" balasnya.
"Correct, Pak...Mmm, Pak siapa ini?"
Pak Jamal, security di pos depan atau disebut Posko, menyebutkan namanya lalu kami berkomunikasi tentang kondisi keamanan di sekitar aku berada. Juga dengan Pak Pardi yang melaporkan ia baru saja turun dari lantai Penthouse menuju lantai 20.
Sebentar kemudian suasana kembali hening.
Aneh, mataku terasa mulai berat. Kantuk mulai mendera padahal biasanya aku kuat terjaga sampai pagi.
Aku meraih lembaran koran harian pagi dan membaca-baca beberapa topik berita yg tentunya telah berlalu, hanya sekedar agar aku tetap terjaga. Ditemani volume rendah suara televisi yg menayangkan film barat, entah apa judulnya.
Sesekali mataku melirik ke arah monitor CCTV lift, dimana hanya satu lift saja yg dioperasikan dari empat lift yg tersedia untuk mengakomodir para tenant yg masih menggunakan ruangan kantor mereka. Terutama di lantai lima belas yg disewa oleh salah satu perusahaan kontraktor dimana jam kerja mereka terkadang hampir dua puluh empat jam.
Sedikit lewat dari pukul satu dini hari, kulihat aktivitas lift semakin padat seiring pulangnya para karyawan tenant tersebut.

Rasa kantukku semakin parah sampai beberapa kali aku terlelap sekejap dan terjaga kembali. Untunglah, tak lama kemudian Pak Pardi menghubungiku via HT.
Rupanya ia menemukan ada beberapa lampu penerangan koridor di lantai atas yg tidak menyala normal sehingga ia mesti memeriksa lebih lanjut untuk menemukan sumber kerusakan. Kemungkinan dikarenakan ada circuit yg tidak berfungsi dengan baik saat perpindahan daya ke Genset saat terjadi pemadaman listrik PLN tadi sore. "Jangan lupa kamu catat di buku Log!"
"Siap, Pak." Aku segera melaksanakan instruksinya walau mataku terasa sangat berat.
"Ada lagi, Pak?"
"Semoga nggak ada. Oh ya, kamu lihatin lift ya! Takut nge-trip, maklum gedung udah lumayan tua."
Aku melirik ke monitor lift dan lampu indikator yg menyala normal. "Sementara aman, Pak. Karyawan lantai lima belas juga sepertinya udah pada turun semua."
"Ya udah. Kamu standby pokoknya!" pesannya sebelum menutup pembicaraan.
"Siap, Pak!" Apapun yg terjadi, aku harus tetap terjaga. Kuseruput habis kopiku lalu berdiri merenggangkan tubuh dan berjalan kecil di dalam ruangan. Setelah merasa agak segar, aku duduk kembali dan menatap layar televisi dan monitor lift secara bergantian. Begitu terus kuulangi beberapa kali. Dan terus.

Tuutt!
Aku mendadak terbangun oleh nada nyaring yg berulang-ulang terdengar di telingaku.
Astaga! Aku ketiduran!
Kulihat lampu tanda panggilan intercom lift menyala dan suara wanita memanggil-manggil. "Tolong! Teknisi...siapa aja..tolong!"
Segera saja aku mendekatkan mulutku ke microphone dan menekan tombol bicara, "Selamat malam, Bu. Di sini teknisi."
"Tolong! Tolong! Saya kejebak. Liftnya mati." teriaknya histeris. Dari layar monitor terlihat seorang wanita berambut panjang tengah berbicara sambil memukul-mukul dinding lift.
"Baik, Bu. Tenang, kami segera menolong Ibu," jawabku dengan nada setenang mungkin walaupun aku tak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Gimana sih ini?! Tolong..! Ya ampun, kok nggak ada yg jawab...?!" Ia semakin histeris. "Tolong..!"
Aku rasa kemungkinan ia sangat panik sehingga tak mendengar respon dariku. Segera kuraih HT dan memanggil Pak Pardi namun tak ada jawaban. Begitu juga dengan Pak Jamal di Posko.
Kini aku yg mulai panik. Apalagi kulihat sekarang semua lampu indikator dalam keadaan padam. Hanya monitor lift itu saja yg menyala. Aneh sekali!
"Tolong! Saya terjebak, liftnya macet di lantai lima. Tolong! Pintunya nggak mau kebuka..."
Kembali aku memanggil Pak Pardi dan Pak Jamal tanpa hasil. Tak ada yg menjawab panggilanku. Hanya nada statis yg terdengar di HT setiap aku selesai memencet tombol bicara.
Sementara wanita yg terjebak dalam lift itu tiada henti berteriak memanggil dan membunyikan tanda darurat meminta pertolongan.

Nggak ada jalan lain. Aku mesti tolong dia!
Tapi gimana..?!
Lalu aku teringat pernah menyaksikan Pak Ruslan, Kepala Teknisi, melakukan perawatan lift bersama vendor penyuplai lift di gedung ini.
Iya, kunci itu...
Aku segera menyambar anak kunci panel lift yg tergantung di papan penyimpanan anak-anak kunci penting di dinding. Kemudian berlari secepat mungkin menerobos masuk ruang tangga darurat dan melangkahi beberapa anak tangga sekaligus pada usahaku naik ke lantai lima. Lantai demi lantai kulewati hingga aku sampai pada pintu darurat yg menghubungkan ruang tangga darurat dan koridor lantai lima di mana lift itu berada.
Tapi...

Aku terkejut sesaat memasuki koridor, suasana dan dekorasinya terasa asing. Berbeda dengan yg kuingat terakhir kali aku melintasi lantai lima ini. Entah sejak papan karpet berwarna krem yg melapisi lantai koridor dicopot, menyisakan lantai berwarna mengkilap di bawah penerangan lampu.
Ah, tak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Aku harus segera menolong wanita tadi.
Tak sampai sepuluh langkah aku berlari, sampailah aku di hadapan empat pintu lift dengan posisi dua lift yg bersebelahan saling berhadapan dengan dua lift lainnya.
Lho..?!
Lebih terkejut lagi, kini aku tak mengenali pintu lift di depanku. Model dan warnanya sangat berbeda dari tipikal lift di gedung ini yg seragam mulai dari lantai terbawah hingga lantai teratas. Tepian atau jamb liftnya pun telah berubah total dari yg sehari-hari kulihat terbuat dari bahan stainless mengkilap, kini berbahan batu marmer krem bercorak.
Tak urung aku menjadi ragu antara apakah aku tengah bermimpi atau memang ada renovasi kilat di lantai ini yg tak aku ketahui, dan itu mustahil.

"Toloong..! Toloong..!"
Namun suara seperti suara pukulan atau gedoran dari balik pintu lift yg terdengar bertubi-tubi diiringi sayup suara teriakan wanita dari dalamnya, mengembalikan fokus pikiranku.
"Tenang, Ibu! Saya teknisi. Sabar ya..!"
Sebenarnya aku tidak memiliki pengetahuan apalagi skill memperbaiki lift tapi aku tak bias berpangkutangan melihat situasi darurat seperti ini.
Kuraih obeng dari sakuku untuk mencongkel plat penutup panel tombol lift yg tertempel di dinding tengah antara dua pintu lift dengan harapan setelah terbuka nanti aku akan mencoba meng-override atau mengambil alih aliran daya lift secara manual sebelum aku membuka paksa pintu lift menggunakan anak kunci yg telah aku bawa.
Secara logika saja, aku tak mau lift bergerak naik atau turun secara tiba-tiba jika control-nya tidak kita kuasai.
Kucoba berkali-kali tetapi plat panel tersebut tak kunjung terbuka. Tenaga yg kukerahkan seperti tak berpengaruh apa-apa ketika aku mendorong dan mencongkelnya. Aneh!
Jangan-jangan karena model panel ini tidak bisa dibuka hanya dengan obeng begitu saja. Pandanganku beralih ke pintu lift. Di dekat sudut atas pintu terdapat semacam lubang kunci kecil untuk membuka paksa pintu lift secara manual. Walaupun ragu namun aku mencoba memasukkan anak kunci yg kupegang.
Benar saja. Tidak cocok. Bahkan sama sekali tidak bisa masuk.

"Pak! Ada yg di luar kah? Toloong..!" Wanita di dalam itu terus berteriak.
"Iya, Bu. Sabar sebentar!" teriakku membalas sembari memukul-mukulkan telapak tanganku di pintu memberi isyarat kepadanya.
"Pak? Bapaak! Syukurlah ada orang.." Walaupun sayup di telinga, aku dapat mendengarnya berteriak menjawab.
"Tolong, Pak. Saya udah kejebak dari tadi.."
"Tenang, Bu. Kami sedang usahakan Ibu segera keluar," teriakku lagi mencoba menenangkannya.
Dengan ujung jari-jariku kucoba membuka pintu melalui celah vertikal yg hampir rapat antara kedua daun pintu lift. Tapi percuma dan sia-sia, sekeras apapun aku berusaha.
Lalu kucoba sekali lagi memanggil Pak Pardi dan Pak Jamal. Lagi dan lagi. Tanpa hasil.

"Pak..Paak..! Gimana, Pak? Kapan saya bisa keluar dari sini?" Ia kembali berseru.
Aku sadar tak ada yg dapat kulakukan lagi sekarang. Aku jatuh terduduk di lantai. Putus asa.
"Pak, tolong, Pak. Masa saya harus mati kehabisan nafas di dalem lift kaya gini..?" Ia meratap.
Ya Tuhan, aku harus gimana?
Aku berpikir sejenak, kuabaikan sementara teriakan dan ratapan wanita itu. Mau tak mau aku harus mencari orang lain yang dapat menolong.
Lalu aku berdiri dan mendekatkan kembali tubuhku ke pintu lift.
"Ibu... Maaf, boleh saya tahu nama Ibu?" teriakku dari celah pintu.
"Hah? Kenapa?" Ia membalasku.
"Nama Ibu siapa?"
"Sinta. Kenapa, Pak?" jawabnya.
"Bu Sinta, saya Anto, teknisi. Ibu boleh tunggu sebentar ya..saya mau-..."
"Apaa..?! Tunggu? Saya udah mau mati iniii...!" Teriaknya memotong kalimatku.
"Te-Tenang, Bu. Sabar, Bu.."
"Sabar? Sabar gimana maksudmu?! Udah dari tadi saya kejebak kaya gini, kamu masih suruh saya sabar?!" Ia semakin emosi.
Aku terdiam, bingung apa yg harus aku jawab kepadanya.
Lalu terdengar tangisnya, "Tolong, Mas Anto...Tolong saya.."
"Kami sedang berusaha menolong, Bu."
"Tolong, Mas..." Ratapannya terhenti tiba-tiba.
Lalu terdengar suara berdebam seperti benda jatuh di dalam sana.
"Bu..! Bu Sinta..!" panggilku.
Tak ada jawaban dari dalam.
Astaga! Dia pingsan?!

Tanpa menunda lagi, kularikan tubuhku cepat kembali ke ruang tangga darurat dan menuruni tangga menuju ke basemen. Siapa tahu sekarang Pak Pardi sudah kembali ke ruangan. Bisa saja sedari tadi daya baterai HT miliknya lemah sehingga ia tidak menerima panggilanku.
Beberapa saat kemudian aku telah mencapai Ruang Maintenance. Dentuman bunyi pintu beradu dengan meja di sebelahnya terdengar kencang sekali saat aku menghambur masuk ke dalam ruangan.
Ah, syukurlah Pak Pardi telah kembali.
Kulihat ia berbaring membelakangiku di atas meja kayu di sisi ruangan dengan sehelai sarung bermotif kotak-kotak menutupi sebagian tubuhnya.
Setahuku bukan kebiasaanya tidur di jam piket seperti ini. Ia selalu disiplin. Apakah dia sedang sakit?
Buru-buru aku menepuk pundaknya lalu menggoyangkan bahunya untuk membangunkannya. Satu dua kali tak berhasil. Ia tetap terlelap. Tubuhnya pun tak bergerak seperti batu saja.
Kali ini kucoba lebih kencang sembari setengah berteriak di dekat telinganya,” Pak, Pak Pardi. Bangun..”
Berhasil!
Ia menggeliat lalu berbalik badan.
Pandangan kami pun bersirobok.
Ia mengucek matanya dan beberapa kali berkerjap memastikan pandangannya.
Aku pun demikian.

“Haan…Haan…Hantuu..!” Ia berteriak kencang sekali.
Tubuhnya terhempas jatuh dari pinggiran meja ke lantai. Refleks, aku menunduk untuk menolongnya.
Namun ia meronta-ronta dan bergerak bagaikan tikus yang tersudut oleh kucing, berkali-kali ia mencoba bangkit dan terpeleset kembali.
Matanya membeliak ketakutan melihatku. Wajahnya pucat pasi.

Siapa kamu? Kamu bukan Pak Pardi!
Kutatap pemuda sebayaku itu. Seragam berwarna abu-abu yang dikenakannya berbeda sekali dengan biru tua di tubuhku.
Dan aku baru menyadari kalau isi ruangan ini berbeda. Warna catnya, perletakan meja kursi, dan semua isinya. Semua berbeda!
Astaga!
Dimana aku? Siapa dia?

Tuutt!
Nada nyaring itu terdengar lagi
Sebuah lampu menyala berkedip-kedip di panel dekat meja ketika terdengar suara wanita memanggil-manggil. "Tolong! Tolong!"

***

Pintu lift sedikit demi sedikit terbuka dan akhirnya Sinta dapat bernafas lega setelah hampir satu jam ia terkurung di lift ini. Bahkan sepertinya sempat sekejap ia kehilangan kesadaran saking paniknya.
Beberapa pria berseragam teknisi membantunya keluar dari dalam lift karena ternyata posisi lift berhenti di perbatasan lantai empat dan lima.
Masih dengan badan gemetaran, singkat cerita Sinta dibantu mencapai mobilnya yang diparkir di basemen meskipun harus menggunakan akses tangga darurat. Mungkin dalam beberapa waktu ke depan ia akan menghindari naik lift, apalagi jika sendirian.
Sebelum mobilnya melaju, salah seorang teknisi yang tadi menolongnya berjalan mendekatinya.
Dengan takut-takut, pria itu berkata,” Ma-maaf, Bu. Boleh saya bicara?”
“Iya. Kenapa?” jawabnya jutek. Ia ingin segera pulang dan melupakan kejadian barusan.
“Maafkan saya, Bu. Tadi sepertinya saya sempat ketiduran..” ucap pria itu pelan.
“Oh, pantes lama! Kalian gimana sih, kerja nggak profesional?!
“Iya, Bu. Saya minta maaf sekali sama Ibu.” Ia menunduk meminta maaf.
Sinta tergetar hatinya. “Hmm. Kamu yang namanya Anto bukan?”
“Bu-bukan, Bu. Saya Romi.”
Sinta melempar pandangan ke dua orang teknisi lain yang berdiri agak jauh dari mereka sedang berbicara. “Itu Anto?”
Romi, teknisi di hadapannya menggeleng. “Nggak ada yang namanya Anto, Bu.”
“Lho, tadi yang pertama sekali datang itu Anto. Saya cukup jelas kok dengar namanya. Habis itu baru kalian yang datang.”
“Tapi, Bu. Kami bertiga nggak ada yang namanya Anto.”
“Jangan bercanda kamu!”
“Be-bener, Bu.”

Tiba-tiba Sinta teringat cerita yang pernah ia dengar dari office boy kantornya. Konon sekian tahun yang lalu di gedung kantor yang kini telah direnovasi ini, pernah terjadi kecelakaan kerja dimana seorang teknisi muda ditemukan meninggal keracunan asap genset yang bocor di basemen. Di ruangan itu juga kah?!

“Bu, saya Anto, teknisi. Ibu tunggu sebentar ya…”
Suara itu terdengar lagi.
Sangat jelas.
Dari bagian belakang mobilnya.

(The End)


5 komentar:

  1. Swlamat malam Om....apakah ada email om?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya minta izin untuk mengangkat cerita2 om dalam channel YT saya, apa dizinkan?

      Hapus
  2. Saya akan masukan nama narasumber penulis dalam deskripsi

    BalasHapus
  3. Termasuk novel "Telepon Tengah Malam" jika dizinkan, saya ucapkan terima kasih byk.

    BalasHapus
  4. Email saya doyotkeren@gmail.com

    BalasHapus