(Rainy Night)
Ok, tadi udah intermezzo sama kisah Gang Terlarang yaa. Hehe.
Kali ini saya mau cerita pengalaman pribadi lebih dari 20 tahun yang lalu.
Gini ceritanya...
Sewaktu masih duduk di kelas 2 SMA, saya berpacaran dengan gadis lain
sekolah yang usianya setahun di bawah saya alias adik kelas.
Singkat
cerita, suatu malam minggu saya datang ngapel ke rumah doi. Sejak
berangkat dari rumah, saya lihat cuaca agak mendung tetapi karena hasrat
ingin bertemu maka saya tetap berangkat.
Saat sampai rumah doi,
tidak berapa lama kemudian hujan turun seperti ditumpahkan dari langit.
Petir menyambar-nyambar disambut bunyi guruh / geludug yang menggelegar.
Batal lah rencana kami keluar makan mie pangsit di alun-alun. Berganti
dengan mengobrol di kursi teras rumahnya sembari memandangi tetes demi
tetes hujan yang membasahi bumi. Sedaapp…
Dan celakanya, hujan
tidak reda sedikitpun sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam
lebih. Pertanda waktu malam mingguan selesai.
Saya pun pamitan ke doi, tetapi dicegah olehnya.
“Ntar dulu, masih hujan deres begini,” ucapnya.
Tunggu punya tunggu, hingga menjelang pukul sepuluh malam hujan masih belum reda juga.
Tiba-tiba…
Gelap.
Lampu yang menerangi teras mendadak mati.
Namun sinar terang dari dalam rumah menyelinap di sela-sela pintu depan, pertanda bukan pemadaman listrik oleh PLN.
Tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengerti arti dari matinya lampu teras tersebut.
Jatah bertamu sudah habis.
Akhirnya, diiringi doi yang khawatir terhadap saya tetapi lebih takut kepada orang tuanya, maka saya pun pamit pulang.
Hebatnya lagi, ternyata saya tidak membawa jas hujan, sehingga mau tidak mau saya mesti berbasah-basahan menembus hujan.
Mengendarai motor BMW (bebek merah warnanya) yang untungnya tidak kambuh batuknya saat kehujanan.
Oh ya, komplek rumah doi dan komplek rumah saya berjarak sekitar 5
kilometer jika melalui jalan raya utama. Memangkas jarak lebih dekat
sekitar separuhnya jika melalui jalan tembus / alternatif. Karena
sekujur tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan, saya putuskan untuk
menyingkat waktu melalui jalan tembus tersebut.
Di masa itu,
kondisi jalan tembus itu masih gelap tanpa penerangan jalan karena
berada di antara persawahan. Rumah penduduk pun hanya ada di pangkal dan
ujung jalan yang panjangnya sekitar 1 kilometer
Dapat dibayangkan
dalam kondisi hujan deras dan jalan yang gelap, sepi pula, saya melaju
menembus hujan tanpa ada satu pun kendaraan lain.
Jujur saja, sebelum melewati jalan itu hati saya sempat gentar juga. Bukan apa-apa, takut BMW saya mogok kemasukan air hujan.
Seram kan sendirian menuntun motor di tengah hujan deras melewati jalan yang gelap gulita.
Nah..
Saat di tengah jalan itu,
Bruukk..
Tiba-tiba motor saya terhentak seolah ada beban yang tiba-tiba mendarat di jok belakang motor.
Waduh...
Benak saya mulai berpikir hal yang menyeramkan tetapi saya mencoba mengalihkan pikiran itu.
Mungkin saja motor kemasukan air sehingga membuat mesin “mberebet” atau batuk sesaat.
Saya pun melaju terus menembus hujan.
Dan keanehan berlanjut..
Laju motor menjadi berat sekali, biarpun sudah menarik gas sampai mesin meraung.
Seperti ada seseorang yang membonceng dengan berat tubuh di atas rata-rata.
Sekujur tubuh saya pun merinding, antara kedinginan dan ketakutan bercampur aduk jadi satu.
Dengan takut-takut saya beranikan diri menoleh ke belakang, ke arah boncengan.
Tetapi tidak ada siapapun atau apapun di situ.
Namun kemudian dari perasaan yang menjalar di punggung dan belakang
telinga saya, memberitahu dengan cukup jelas bahwa ada "seseorang" yang
ikut membonceng di belakang.
Berwarna putih, berambut panjang.
Apes sekali malam itu rasanya...
Sudah diusir pulang oleh camer, badan basah kuyup kehujanan, dan di tengah jalan ketiban sial ditumpangin "seseorang" lagi...
Akhirnya, saya menambah gas motor saya sambil berkata,
"Maaf Mbak, saya mau pulang, kalau kamu mau ikut silahkan nggak papa..tapi tolong jangan ganggu yaa..."
Dan tepat menjelang ujung jalan sepi itu,
Wuusss….
Tiba-tiba motor saya langsung terasa ringan sekali.
Dalam sekejap beban di belakang tubuh saya menghilang.
Saya memutar kepala sekali lagi.
Hanya terlihat jalan gelap dan riuh hujan yang ada di sana.
Fiuuhh…
Lega sekali rasanya ketika memasuki gerbang komplek perumahan tempat saya tinggal.
Belakangan saya berpikir,
Mungkinkah "dia" bersimpati dan mau “puk-puk” saya yang baru diusir dari rumah pacar?
Kalau benar, terima kasih ya Mbak…
Blog ini berisi cerita-cerita horor / misteri yang berasal dari pengalaman pribadi penulis dan juga pengalaman teman / keluarga yang diceritakan pada penulis. Ingin membaca lebih banyak, silahkan berkunjung ke Wattpad dan follow akun @BielivFelixia. Selamat membaca.
Minggu, 01 Desember 2019
Kisah Misteri - TERJEBAK
(TERJEBAK)
Jarum jam arloji di tangan telah menunjukkan waktu menjelang tengah malam ketika aku selesai menempatkan mobil yang kukendarai di lokasi parkir di depan hotel D.
Sudah kali kesekian aku datang ke kota kecil di pesisir selatan pulau Jawa ini menunaikan tugas dari kantor pusat perusahaan tempatku bekerja untuk melakukan "stock opname" material di salah satu proyeknya di sini. Dan aku selalu menginap di tempat ini. Hotel kecil kelas melati, sederhana namun nyaman.
Biasanya tak pernah selarut ini aku sampai di sini namun kemacetan di salah satu titik jalur selatan akibat kecelakaan lalu lintas menghambat perjalananku.
Aku meraih tas dan bergegas keluar dari mobil menuju lobi hotel. Suasana sangat sepi baik di halaman hotel maupun di jalan raya depannya. Tipikal kota kecil pada umumnya dimana ritme kehidupan berjalan lebih santai dibandingkan kota besar apalagi ibukota.
Dengan langkah cepat aku melintasi lobi yang sunyi.
Ya iya lah sepi, siapa juga tamu hotel yang mau keluar tengah malam begini?
"Malam, Mas Yanto. Maaf kemaleman nih," sapaku pada petugas hotel yang setahuku bernama Yanto. Ia duduk seorang diri di balik meja resepsionis.
"Kemaren saya udah booking sama Mbak Dian ya," lanjutku.
Ia tersenyum datar sembari menyerahkan kunci kamar di atas meja.
"Terima kasih ya, Mas." Aku segera beranjak ke kamar nomor 216 sesuai angka pada gantungan kunci di tanganku.
Lho..?
Di dalam kamar mandi kamar, aku memutar-mutar kran shower beberapa kali tanpa hasil. Maksud hati menyegarkan tubuh setelah seharian penuh menginjak pedal gas dan rem, namun bahkan setetes air pun tidak menetes keluar dari shower di tanganku.
Damn!
Kesal namun tak berdaya, aku pun hanya menggosok gigi dan mencuci muka menggunakan sisa air mineral botolan dalam tasku.
Tadinya aku hendak mengajukan komplain ke resepsionis tetapi kurasa percuma saja di tengah malam seperti ini. Apalagi di setiap kamar tidak ada pesawat telepon, sehingga jika tamu hotel ingin komplain atau membutuhkan sesuatu, ia mesti langsung mendatangi resepsionis. Malas rasanya harus turun naik tangga dari lantai dua dimana kamarku berada.
Akhirnya, setelah berganti baju aku merebahkan diri di atas tempat tidur dan langsung terlelap beberapa menit kemudian.
Tut..tut..tut...
Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon genggam AMPS milikku dari meja di sebelah, tepat di dekat posisi kepalaku berada. Aku melirik arloji. Pukul dua lewat tiga puluh.
Simon? Ada apa dia telpon jam segini? batinku melihat barisan angka yang tertera di layar telepon.
"Halo.." sapaku malas.
"Halo, Bang Sam?"
"Iya lah, ini Sam. Siapa lagi?"
"Abang udah di mana? Dari tadi banyak yang telepon nyariin."
"Udah di hotel. Baru sampai tengah malam tadi, kena macet parah di jalan."
"Tapi nggak ada yang telpon kok. Baru kamu ini, Mon," lanjutku.
"Oh, gitu. Mungkin nggak ada sinyal ya. Syukurlah Abang dah sampai."
"Memang ada apa pada nyari aku?"
Tuuuuuttt...
"Asem, putus..." umpatku. Kucoba menelepon balik namun tidak ada nada sambung yang terdengar.
Susah sinyal kali di sini
Mungkin terbangun karena terkejut membuatku haus. Aku meraih botol air mineral di meja. Kosong. Isinya telah habis kupakai tadi.
Menimbang-nimbang sesaat, kuputuskan untuk keluar kamar mencari air minum.
Suasana sangat hening di luar. Lantai koridor antar kamar beralas ubin abu-abu memantulkan suara langkah kakiku.
Tok..tok..tok..
Tapi,
Ini terlalu hening, terlalu sunyi.
Suara dengkuran tamu lain atau bunyi siaran televisi yang biasanya tipis terdengar di koridor, kali ini tidak kudapati.
Bahkan tidak terdengar suara apapun.
Benar-benar senyap.
"Mas..Mas.." Aku berkeliling lobi hotel mencari Yanto ataupun petugas lainnya. Tak ada seorang pun di sini.
Begitu pun di teras depan pintu utama hotel.
Memandang jalanan, juga sepi tanpa ada satu pun kendaraan melintas.
Hanya sinar lampu bangunan lain di sekitar hotel yang terlihat.
Kerongkonganku semakin terasa kering.
"Oh iya, kayanya di mobil masih ada satu botol."
Tanganku meraih saku celana mencari kunci mobil.
"Damn! Kunci di tas."
Aku berdiri termangu di halaman.
Menimbang antara naik ke kamar untuk mengambil kunci mobil atau keluar mencari warung yang mungkin masih buka.
"Mas.." Sebuah tepukan di punggung membuatku hampir meloncat kaget.
Aku membalikkan tubuh. "Mas Yanto. Wah, aku nyari Mas dari tadi."
Ia hanya tersenyum kecil.
"Aku nyari air minum, Mas. Ada nggak ya?"
Ia mengangguk. "Ada, Mas. Di dalem."
Lalu ia berjalan mendahuluiku masuk ke lobi hotel.
"Ini, Mas. Silahkan." Ia mengulurkan segelas plastik air mineral dalam kemasan dari nampan kecil di atas meja resepsionis.
Aku terheran-heran melihatnya.
Beberapa kali aku memutari ruangan dan aku yakin benar nampan berisi air mineral kemasan itu tadi tidak ada di situ.
"Terima kasih. Kok saya nggak lihat ya tadi ada minuman di situ?"
Yanto kembali tersenyum datar.
Tak ambil pusing, aku meraih satu gelas lagi dan kembali ke kamarku di lantai dua.
Ketika melewati koridor lantai satu menuju ke tangga naik, kulihat ada dua tamu lain sedang memasuki kamar mereka masing-masing. Hanya kulihat punggung mereka sebelum pintu tertutup kembali.
"Kapan mereka lewat ya?" pikirku.
Baru saja hendak terlelap, telepon genggamku kembali berbunyi menandakan ada panggilan.
"Ah, Simon lagi."
"Halo, Halo, Bang.."
"Iya, Mon. Ada apa sih, Mon?"
"Aku disuruh Bos mastiin Abang baik-baik aja."
"Ah, si Bos itu apaan sih. Iya, aku baik-baik di sini. Tapi nggak baik juga nanti kalau kau telpon aku terus, gimana aku mau tidur..?" jawabku kesal.
"I-iya, Bang. Tapi Abang sekarang nginep di mana? Jangan-jangan di rumah Eneng yang punya warung proyek itu ya.."
"Hus, ngawur kau, Mon. Nggak lah. Ya di tempat biasa lah, Hotel D."
"Apa, Bang? Di mana?" Suaranya terdengar kaget sekali.
"Hotel D. Kenapa sih?"
"Tap-tapi, Bang..."
"Tapi apa, Mon?" kejarku kesal.
"Hotel itu kan kebakaran, Bang."
"Ah, ngaco kamu!"
"I-iya, Bang. Ta-tadi siang si Eno dari proyek telpon ke pusat. Banyak korban katanya. Itulah kenapa si Bos suruh aku hubungi Abang karena kita tahu Abang selalu nginap di situ."
Bulu kudukku merinding seketika.
Kepalaku berat sekali berusaha mencerna informasi yang kuterima ini.
"Ka-kau yakin, Mon? Kau nggak lagi ngerjain aku?"
"Sumpah, Bang."
Tiba-tiba bau sangit benda terbakar mulai tercium di hidungku.
Tok..tok..tok...
Pintuku diketok dari luar..!
Aku terpaku menatap daun pintu kamar yang mulai memerah terbakar perlahan dari sisi bawah merambat ke atas.
Simon terus memanggilku," Bang..Abang..."
Suaranya berangsur menghilang seiring kaburnya penglihatanku.
Gelap.
🌀🌀🌀
Tok..tok..tok..
"Selamat pagi, breakfast siap."
Suara ketukan disusul panggilan sarapan dari luar kamar sontak membangunkanku.
"Suara si Ayu," batinku.
Langsung terbayang salah satu alasanku selalu memilih hotel D ini, si Ayu, petugas restoran hotel merangkap room service, berwajah sesuai namanya.
Aku membuka mata, mengerjap beberapa kali. Pandanganku mengitari keseluruhan ruangan kamar. Masih seperti semula.
Lantai ubin abu-abu yang mulai kusam, langit-langit gipsum bercat krem muda dengan titik bekas kebocoran di beberapa bagian, serta lemari kayu berbau apak di sudut ruangan.
"Serem amat mimpi barusan ya.." Aku mengelus pangkal lenganku yang meremang.
Kruuuk...
Cacing dalam perutku mulai berontak protes meminta pasokan gizi. Kuingat-ingat terakhir mengisi perutku adalah kemarin sore di sebuah warung kecil tepi jalan raya setelah melewati kemacetan luar biasa akibat adanya kecelakaan lalu lintas itu.
Setelah mencuci muka dan gosok gigi ala kadarnya, aku menyeret kedua kakiku menuju restoran tempat sarapan yang terletak di sebelah lobi hotel.
Suasana di lobi dan restoran pagi ini tidak berbeda jauh dengan kunjunganku sebelumnya di hotel ini. Tidak terlalu ramai tamu, hanya berkisar belasan orang. Mereka telah duduk di kursi masing-masing menyantap sarapan mereka.
Aku mengenal salah satunya, Pak Ngatno, "sales engineer" pemasok suku cadang mesin alat berat di proyekku.
"Pagi Pak, apa kabar nih?" Aku menghampiri mejanya.
Ia mendongak cepat. "Oh, Pak Sam."
"Rupanya Bapak nginap di sini juga?"
Ia mengangguk dan melemparkan senyum agak terpaksa.
Aku membalas senyumnya. "Silahkan diteruskan, Pak. Saya ambil sarapan dulu."
Mungkin dia sedang tidak ingin berbasa-basi pagi ini.
🌀🌀🌀
Aku memenuhi piring di tanganku dengan beberapa sendok nasi goreng beserta lauk-pauknya dan mengambil tempat duduk di meja sudut dekat jendela yang menghadap ke luar hotel, ke arah jalan raya. Lalu lintas pagi ini terlihat mulai padat walaupun tidak ada apa-apanya dibandingkan pagi hari di Jakarta.
"Pagi, Mas Sam." Suara lembut menawan itu mengejutkanku.
"Eh, Ayu.." Aku memandangi gadis cantik yang sedang membawa nampan berisi secangkir kopi di sebelahku ini.
"Silahkan kopinya, Mas. Spesial dari Ayu." Ia mengerling sekejap sebelum berlalu.
Aku memandangi tubuhnya dari belakang hingga menghilang di balik pintu dapur. Tubuh yang pernah menghabiskan malam bersamaku.
Aku makan dengan cepat. Dentingan logam sendok beradu dengan piring di hadapanku memenuhi kesunyian restoran ini.
Tunggu...
Sunyi..?
Aku menghentikan gerakanku.
Kulemparkan pandangan menyapu sekeliling ruangan.
Benar-benar sunyi. Sepi. Senyap.
Para tamu lainnya, termasuk Pak Ngatno, mereka hanya duduk diam. Mematung menghadap ke depan.
Perasaanku mulai tidak enak.
Tiba-tiba telepon genggamku kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tak kukenal.
"Halo.." sapaku.
"Halo, ini Pak Sam?" Suara seorang wanita di seberang menjawabku. Sepertinya aku mengenalnya.
"Iya, ini Sam. Eno ya?"
"I-iya, Pak. Maaf, Bapak sedang dimana ya?"
"Breakfast di hotel."
"Maaf Pak, di hotel mana ya? Kata Pak Simon, Bapak..."
Aku cepat menyelanya, "Di Hotel D. Kalian ini kenapa sih?"
Eno terdiam.
"Eh, Eno! Kau kok malah diam?"
"Tap-tapi, Pak. Hotel D udah kebakar habis, Pak.." Ia menjawab histeris.
"Kalian jangan aneh-aneh deh! Ini aku ada di Hotel D, lagi sarapan!"
"Ng-nggak mungkin, Pak."
"Nggak mungkin gimana?"
"Saya sekarang ada di depan hotel, Pak."
"Bener kebakar semua, Pak," lanjutnya.
Whaat..?!
Berarti...?!
Bulu kudukku meremang seketika.
"Mas, kopinya belum diminum?"
Entah sejak kapan Ayu sudah berdiri di sampingku. Tubuhnya setengah menunduk berucap pelan di samping telingaku.
"I-iya, se-sebentar la-gi," jawabku gugup.
Ia menyentuhkan jemarinya di lenganku.
Lalu menatapku.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berbalik dan melangkah pergi.
Saat kepalaku menoleh ke belakang mengikutinya, tubuh Ayu menghilang begitu saja di koridor antar meja restoran. Lenyap bagai menguap di udara.
Kali ini sekujur tubuhku merinding tidak terkira.
Tiba-tiba kata-kata Mbah Sarno, supervisor lapangan seniorku, terngiang di telingaku.
"Terkadang mereka tidak menyadari keberadaannya sebagai hantu. Mereka masih merasa, berpikir dan berlaku seperti manusia selagi hidup."
Mbah Sarno merupakan "living legend" andalan perusahaan setiap kali membuka lahan proyek di pelosok terpencil ataupun di tengah hutan yang jarang terjamah manusia. Banyak sekali kisah misteri yang ia ceritakan pada kami para yuniornya.
"Kalau kamu bertemu yang seperti itu, bersikaplah tenang seolah tak ada apa-apa. Jangan tunjukkan rasa takut kita karena energi yang kita pancarkan selagi takut akan memicu kesadaran mereka," jelasnya suatu waktu padaku.
"Dan segeralah pergi, tinggalkan mereka atau tempat dimana kamu berada. Atau kamu akan turut terjebak bersama kenyataan semu yang tercipta."
🌀🌀🌀
Kutatap layar teleponku. Mati.
Pasti baterainya kehabisan daya.
Aku melihat ke arah mereka lagi.
Para tamu lain di sekitarku.
Mereka masih duduk diam di kursinya.
Walaupun lututku gemetar, aku putuskan harus segera keluar dari tempat ini.
Aku tak mau terjebak di sini.
Aku berdiri perlahan tanpa suara.
Mereka masih tetap pada posisinya.
Hanya Pak Ngatno yang menoleh memandang ke arahku.
Aku melangkah sebiasa mungkin menyusuri koridor di antara deretan meja dan kursi dimana mereka duduk.
"Mari, Pak. Saya duluan." Aku melambai pada Pak Ngatno.
Entah ia membalas lambaianku atau tidak, aku tak perduli.
Aku tetap melangkah.
Pintu utama.
Ya.
Aku memusatkan konsentrasi menuju pintu itu.
Langkahku semakin cepat.
Tetapi...
"Mas, buru-buru sekali?"
Yanto, petugas hotel semalam, telah berdiri di hadapanku.
Tatapannya penuh selidik.
"I-iya, Mas. I-itu, ada perlu," jawabku gugup.
Aku sadar kini bahwa yang kuhadapi sedari semalam bukanlah manusia.
Hantu.
Lalu ia terkekeh.
"Mas sudah tahu ya? Hehehe..."
Ia melangkah mendekat..!
"Tahu? Ta-tahu apa, Mas?"
"Ini.."
Ia menjulurkan tangan kanannya meraihku.
Kulit tangannya gosong menghitam. Bau rambut dan daging terbakar seketika menyeruak.
Dan bukan hanya tangan, tetapi kini sekujur tubuhnya..!
Kulit hangus itu terkelupas di beberapa bagian menunjukkan sisa daging dan darah berwarna merah.
"Aaaaaa,,,!!"
Aku berteriak sejadi-jadinya.
Secepat kilat aku berlari keluar lobi hotel nahas itu.
"Mas Sam, tunggu, Mas.." Kudengar suara merdu Ayu memburu di belakangku.
Aku menutup erat kedua telingaku.
Aku terus berlari.
Halaman hotel ini terasa jauh sekali.
Rasanya aku telah berusaha berlari sekuat tenaga secepat-cepatnya.
Tetapi aku masih berada di teras hotel.
Belum keluar ke halamannya.
Aku beranikan diri menengok ke belakang.
Mereka, sekumpulan makhluk yang hangus terbakar, melangkah tertatih mengejarku.
Salah satunya Ayu.
Wajahnya tidak terbakar seluruhnya.
Ia memanggil-manggilku dengan separuh bibirnya yang meleleh, satu bola mata yang terlepas dari rongganya.
"Mas Sam..Mas..."
Aku mempercepat lariku dan menatap lurus keluar.
Dapat kurasakan jemari tangan seseorang atau lebih, meraih bagian belakang bajuku. Berusaha menarik, merenggutku.
"Sedikit lagi..!" teriakku.
Wuusss...
Kurasakan tubuhku bagaikan menembus sebuah tabir yang tak terlihat.
Kini ringan sekali langkahku.
Aku terus berlari menuju mobilku.
Tetapi...
🌀🌀🌀
Kriing..kriiing...
"Halo, selamat pagi."
"Selamat pagi. Apakah saya berbicara dengan Bapak Simon?"
"Iya betul, Pak. Saya Simon. Maaf, dengan siapa saya bicara?"
"Kami dari kepolisian, Pak. Maaf mengganggu pagi buta begini."
"Polisi..Mmm, ada yang bisa dibantu, Pak?"
"Begini, Pak. Kami ingin menginformasikan..mmm.."
"Ada apa ya, Pak?"
"Maaf, bisakah Bapak datang ke kantor kami di Purworejo?"
"Lho, mengenai apa ya, Pak? Kok mendadak sekali?"
"Mmm, ini mengenai rekan anda."
"Oh, siapa ya, Pak?"
"Bapak Samuel Hasiholan."
"Kenapa dengan dia, Pak? Kebetulan saya juga sedang mencari dia."
"Beliau mengalami kecelakaan mobil kemarin sore. Lebih lanjutnya silahkan Bapak ke kantor atau bisa juga ke Rumah Sakit X. Ini nomor kami yang dapat dihubungi..."
"Tu-tunggu, Pak. Maksud Bapak, Bapak Sam kecelakaan? Kemarin sore?"
"Benar, Pak."
"Ta-tapi, Pak...Saya semalam bicara dengan dia.."
"Maaf, Pak. Saya rasa tidak mungkin karena...mmm.."
"Karena apa, Pak?"
"Beliau..mmm...menjadi salah satu korban tabrakan beruntun. Dan saat ini..mmm..maaf, jenazahnya telah dibawa ke rumah sakit."
"Apaa...?!!"
~~ Rest In Peace, Sam ~~
(The End)
Kisah Misteri - BERMALAM DI KOS TEMAN
(BERMALAM DI KOS TEMAN)
Jogja, end 90's
Ketika itu sekitar semester enam (kalau tidak salah ingat) dimana kami anak-anak teknik sipil disibukkan dengan tugas dan praktikum yang menggunung di kampus.
Di salah satu mata tugas, saya bergabung di kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang mahasiswa termasuk saya.
Suatu malam, kami bertiga menyusun materi tugas tersebut di kos teman kelompok saya, sebut saja Ayu.
Saking sibuknya (sebenarnya lebih banyak mengobrol dan bercanda) tanpa terasa waktu telah larut malam. Si Beauty, rekan kelompok saya yang lain, pamit pulang ke kosnya yang terletak tidak jauh dari kos si Ayu. Kemudian si Ayu menawarkan saya untuk menginap di kosnya, kebetulan ada kamar kosong milik temannya yang sedang pulang kampung (saya juga kenal dengan temannya itu, si Charming).
Oh ya, saya lupa bilang, kos2an si Ayu boleh dibilang agak "bebas" waktu itu dan memang kos campur pria dan wanita.
Tapi tolong jangan ngeres ya. Nothing happened. Hehe.
Singkat kata, saya masuk ke kamar si Charming itu.
Kamarnya terletak agak di sudut belakang, tidak terlalu jauh dengan kamar mandi, sedangkan kamar si Ayu tadi selisih dua kamar lebih ke deretan tengah.
Setelah memindahkan beberapa baju perempuan milik si Charming yang berantakan di kasur, saya pun merebahkan diri dan tidak berapa lama pun terlelap.
"Duk..duk.."
Entah berapa lama saya tertidur, telinga saya samar-samar mendengar suara mirip seperti orang memukul lemari kayu.
"Duk..duk.."
Saya membuka mata dan melihat ke sekeliling. Menajamkan pendengaran namun tidak terdengar suara apa-apa, hanya bunyi jangkrik di luar kamar.
Saya pun kembali tidur.
"Duk..duk.."
Suara itu kembali terdengar.
Kali ini lebih keras.
Saya pun bangkit dari posisi berbaring, duduk di kasur sembari mencari asal suara.
Tepat di arah kaki saya, di ujung kasur terdapat sebuah lemari kayu tinggi dengan ukiran di sekeliling bingkai pintunya, seperti lemari kuno.
Dalam hati saya berpikir apakah dari lemari itu sumber suara tadi.
Karena beberapa kali mengalami kejadian memyeramkan di kos saya sendiri, dengan perasaan kurang enak alias merinding, saya memberanikan diri berdiri dan membuka lemari itu.
Ternyata dalam keadaan terkunci. Pasti si Charming mengunci lemari itu sebelum pulang kampung.
Ah, mungkin salah dengar. Begitu pikir saya kemudian.
Saya pun kembali tidur.
"Ssstt..."
"Sssstt.."
Kali ini suara orang berdesis yang membangunkan tidur saya.
Ketika membuka mata, pandangan saya tepat mengarah ke lemari kayu itu.
Ke arah sumber suara.
"Duk..duk..."
Di mana sesosok wanita berbaju putih duduk di atas lemari itu.
Rambutnya hitam panjang menutupi wajahnya yang menunduk.
Kakinya bergoyang-goyang membentur pintu lemari.
"Duk..duk..."
Saya terpaku beberapa saat.
Sekejap kemudian hanya satu yang ada di pikiran saya. Lariii...
Tetapi jangankan lari, untuk bangkit dari tempat tidur pun saya tak berdaya sama sekali.
Otak memerintahkan untuk bangkit dan lari namun sekujur tubuh saya tak dapat digerakkan. Dan mata saya terus menatap hantu wanita di atas lemari itu, tak bisa menoleh atau memejamkan mata, walaupun ingin.
Perlahan, kepala hantu wanita itu mendongak dari semula menunduk, terlihat dari rambut panjangnya yang bergerak ke atas.
Perlahan.
Kemudian...
Tepat sebelum wajahnya tersingkap dari balik rambut panjangnya...plaass...
Ia lenyap.
Yang terlihat hanya ruang kosong di antara bagian atas lemari dan plafon kamar.
Ia lenyap.
Yang terlihat hanya ruang kosong di antara bagian atas lemari dan plafon kamar.
Secepat kilat saya bangkit dari tempat tidur dengan nafas tersengal-sengal ketakutan.
Lalu tergopoh-gopoh menjangkau kunci pintu bermaksud keluar dari kamar menyeramkan itu.
"Damn..!"
Anak kunci macet tidak bisa diputar.
Saya coba dan coba lagi. Tetap macet.
Setengah putus asa saya menggoyang-goyang handel memaksa untuk membuka pintu.
Sia-sia.
"Duk..Duk.."
"Duk..Duk.."
Bulu kuduk saya meremang kembali.
Kaos di tubuh terasa dingin oleh keringat
Suara lemari itu lagi..!
"Duk..Duk.."
Bulu kuduk saya meremang kembali.
Kaos di tubuh terasa dingin oleh keringat
Suara lemari itu lagi..!
Saya semakin panik.
Sementara kunci terkutuk itu tetap tak mau terbuka.
Sementara kunci terkutuk itu tetap tak mau terbuka.
"Hhhhhh...Hhhhh..."
Tiba-tiba terdengar jelas sekali suara seseorang mendesah.
Hawa dingin merayapi punggung saya yang membelakangi ruangan kamar.
Saya memfokuskan pandangan ke arah pintu, tak berani menoleh ke asal suara desahan itu.
"Hhhhh..Hhhhh..."
Tiba-tiba terdengar jelas sekali suara seseorang mendesah.
Hawa dingin merayapi punggung saya yang membelakangi ruangan kamar.
Saya memfokuskan pandangan ke arah pintu, tak berani menoleh ke asal suara desahan itu.
"Hhhhh..Hhhhh..."
Detik berikutnya, ia telah berdiri di sebelah saya.
Terlihat dari sudut mata, mungkin ia hanya berjarak dua atau tiga langkah di sebelah kanan saya.
Terlihat dari sudut mata, mungkin ia hanya berjarak dua atau tiga langkah di sebelah kanan saya.
Kini saya tersudut oleh dinding kamar di sisi kiri, sosok hantu wanita itu di sisi lain dan pintu di depan saya.
Tubuh saya kembali terpaku.
Gemetaran sembari memejamkan mata tanpa berani sedikitpun menoleh ke arahnya.
Tubuh saya kembali terpaku.
Gemetaran sembari memejamkan mata tanpa berani sedikitpun menoleh ke arahnya.
"Hhhhh...Hhhhh..."
Terdengar desahannya kembali.
Semakin dekat.
Hawa dingin semakin menyerbu tubuh saya.
Astaga..!
Semakin dekat.
Terdengar desahannya kembali.
Semakin dekat.
Hawa dingin semakin menyerbu tubuh saya.
Astaga..!
Semakin dekat.
"Hhhhh...Hhhhh..."
Dan kini ia meraih lengan kanan saya yang tertekuk keatas menutupi wajah saya.
Ia menggenggamnya.
Dingin.
"Aaaaaaaa..!!!"
Dan kini ia meraih lengan kanan saya yang tertekuk keatas menutupi wajah saya.
Ia menggenggamnya.
Dingin.
"Aaaaaaaa..!!!"
Kisah Misteri - ROMANTIKA CUCIAN
(Romantika Cucian)
Selamat malam jumat sobat tercinta. Malam ini saya ingin membagikan cerita misteri yang terjadi di kos-kosan saya semasa kuliah dulu. Mungkin sebagian sobat pernah membaca cerita saya sebelumnya tentang betapa horornya kos itu?
Baiklah, saya rewind sedikit ya adegan terakhir yang terjadi :
👻👻👻
Sampai di kos sudah hampir jam sembilan malam, setelah melemparkan tas ke kamar sambil langsung meraih gayung yang berisi peralatan mandi, kemudian berlari ke kamar mandi yang terletak di sudut belakang kos. Saya masuk ke kamar mandi sebelah kiri, favorit saya, yang lebih lancar aliran air kerannya.
Baru saja hendak menyiramkan air ke badan, tiba tiba..
Dueeng !!
Terdengar suara kencang dari kamar mandi sebelah. Suara keras dari daun pintu kayu berlapis seng yang beradu dengan kusen kamar mandi saat ditutup dengan tergesa-gesa.
Siapa sih nutup pintu kenceng amat? Ngga bisa dibuka tau rasa, gerutu saya.
Selesai mandi yang singkat, tidak sampai lima menit, sambil mengeringkan badan dengan handuk saya tajamkan telinga ke arah kamar mandi sebelah.
Kok dari tadi gak ada suara jebar jebur? Oh, paling lagi pup, batin saya.
Begitu keluar kamar mandi, saya tengok kamar mandi sebelah itu, ternyata pintu dalam kondisi masih terbuka sama seperti saat sebelum saya mandi.
Dan…lantainya dalam keadaan kering sama sekali.
Langsung merinding seketika.
Setengah berlari, masih dengan setengah telanjang hanya tertutup handuk dari pinggang kebawah, saya bertanya pada si D yang saat itu sedang duduk merokok di depan kamarnya, sebelum lorong menuju kamar mandi.
“D, kamu liat ngga siapa yang barusan make kamar mandi?”
“Ya kamu yang mandi kan?” jawabnya
“Bukan, maksudnya ada yang lain ngga?”
“Engga ada sih, emang kenapa?”
“Aku barusan mandi, terus ada yang masuk di sebelah, nutup pintunya kenceng banget lagi” jelas saya cepat.
“Lha, bukannya kamu tadi yang nutup pintu kenceng banget?” dia balik bertanya.
Dueeng !!
Kembali suara itu terdengar lagi….
Kami berdua berpandangan sejenak, kemudian buru-buru lari…
Tragisnya, ikatan handuk tidak berkompromi…
Setaaaannnn…!!!!
* * * * * *
Nah, adegan di atas itu terjadi di pojok belakang sisi utara kos kami. Belakangan saya tahu dari rekan senior kalau yang menghuni “wilayah” itu adalah hantu yang berbentuk pocong, dan amazingnya tidak hanya satu..!!
Selanjutnya di kisah sekarang saya akan menceritakan salah satu kejadian yang terjadi di wilayah seberangnya yaitu pojok belakang sisi selatan kos kami, dimana di situlah terletak sebidang ruang terbuka yang menjadi tempat mencuci pakaian.
Suatu malam, rekan saya sebut saja si Ab, sedang mencuci pakaian di tempat tersebut. Dia terpaksa mencuci malam-malam (sekitar jam 21-an) karena stok pakaiannya telah menipis dan beberapa hari sebelumnya ia tidak sempat mencuci karena kesibukan kuliah.
“Ab, kok nyuci malam-malam?” sapa saya saat berjalan melewati koridor yang berbatasan dengan ruang cuci tersebut.
“Iya nih, daleman habis” Ia menoleh sambil nyengir. Ia berjongkok di depan papan penggilasan dan ember berisi rendaman cucian yang aromanya dapat tercium sampai taman di tengah kos. Wueekk.
“Oh, itu cucian kamu, Ab? Berapa hari direndemnya tuh?”
“Hehe. Baru seminggu..” kembali ia nyengir memamerkan barisan giginya yang berkilau disinari rembulan. Haiyah.
“Memang kelihatan remang-remang gini?”
“Yah, lumayan lah, daripada besok nggak pake si-di”
Saya meraih batang rokok terakhir dari saku lalu menyulut dan menghisapnya untuk mengatasi aroma memabukkan itu seraya duduk di dinding pendek yang membatasi ruang cucian itu. “Yang lain pada kemana, Ab? Kok sepi?”
“Ngga tau, Yos. Lagi pada makan di Babarsari kali” jawabnya.
Sebentar kemudian saya dan Ab terlibat obrolan ringan sembari ia tetap menyikat dan mengucek pakaiannya dalam posisi membelakangi saya.
Tidak berapa lama rokok yang saya hisap telah habis kemudian saya meninggalkan si Ab untuk mengambil rokok di kamar. Bikin kopi sekalian ah, pikir saya saat di kamar. Akhirnya, saya memanaskan air di heater berbentuk teko plastik andalan anak kos dan menyeduh segelas kopi.
Saat kembali ke ruang cuci itu lagi sekitar sepuluh menit kemudian sambil membawa kopi yang saya buat, di tengah taman saya mendapati si Ab tergopoh-gopoh menyongsong saya dengan tangan dan wajah belepotan busa sabun. Celana pendek jins yang menutupi tubuh bagian bawahnya basah kuyup.
“Kamu ngapain, Ab?” tanya saya heran.
“Yos, sialan kamu ninggalin” umpatnya dengan wajah pucat.
“Lha, kan tadi aku bilang mau ngambil rokok”
“Ah, ngga. Kamu ngga bilang gitu”
“Bilang kok, kamu aja ngga denger. Memang kenapa sih?” tanya saya keheranan.
“Aku dari tadi nyuci sambil ngobrol sama kamu kan. Tapi aku heran kok lama-lama kamu njawabnya cuma bilang Iya atau Hmm-hmm gitu” jawabnya.
“Oh ya?”
“Nah, barusan aku kesel kan sama jawabanmu. Aku noleh ke belakang…” jelasnya terputus.
Saya merinding mendengar ceritanya. “Heh..terus..?”
Si Ab cepat menggandeng lengan saya dan berjalan ke depan kamar saya. “Ternyata, bukan kamu..tapi bayangan hitam besar berdiri di deket tembok yang kamu duduk itu..Aku langsung nyusruk ke cucian depanku, ketakutan. Terus lari kesini…”
“Ojo guyon ah, Ab” tegur saya merinding.
“Tenan iki. Masa aku mau basah-basahan gini bercandain kamu..” jawabnya ngotot.
Kemudian
"Byuuurr...”
Terdengar suara air dituang atau lebih tepatnya dibalikkan dari embernya.
“Setaaaaannn…..!!!”
Dan esok harinya, dengan terpaksa saya pinjami si Ab si-di saya.
Hiks….
* disclaimer : foto memang nggak nyambung sama cerita. Cuma mau pamer kaos aja.
Selamat malam jumat sobat tercinta. Malam ini saya ingin membagikan cerita misteri yang terjadi di kos-kosan saya semasa kuliah dulu. Mungkin sebagian sobat pernah membaca cerita saya sebelumnya tentang betapa horornya kos itu?
Baiklah, saya rewind sedikit ya adegan terakhir yang terjadi :
👻👻👻
Sampai di kos sudah hampir jam sembilan malam, setelah melemparkan tas ke kamar sambil langsung meraih gayung yang berisi peralatan mandi, kemudian berlari ke kamar mandi yang terletak di sudut belakang kos. Saya masuk ke kamar mandi sebelah kiri, favorit saya, yang lebih lancar aliran air kerannya.
Baru saja hendak menyiramkan air ke badan, tiba tiba..
Dueeng !!
Terdengar suara kencang dari kamar mandi sebelah. Suara keras dari daun pintu kayu berlapis seng yang beradu dengan kusen kamar mandi saat ditutup dengan tergesa-gesa.
Siapa sih nutup pintu kenceng amat? Ngga bisa dibuka tau rasa, gerutu saya.
Selesai mandi yang singkat, tidak sampai lima menit, sambil mengeringkan badan dengan handuk saya tajamkan telinga ke arah kamar mandi sebelah.
Kok dari tadi gak ada suara jebar jebur? Oh, paling lagi pup, batin saya.
Begitu keluar kamar mandi, saya tengok kamar mandi sebelah itu, ternyata pintu dalam kondisi masih terbuka sama seperti saat sebelum saya mandi.
Dan…lantainya dalam keadaan kering sama sekali.
Langsung merinding seketika.
Setengah berlari, masih dengan setengah telanjang hanya tertutup handuk dari pinggang kebawah, saya bertanya pada si D yang saat itu sedang duduk merokok di depan kamarnya, sebelum lorong menuju kamar mandi.
“D, kamu liat ngga siapa yang barusan make kamar mandi?”
“Ya kamu yang mandi kan?” jawabnya
“Bukan, maksudnya ada yang lain ngga?”
“Engga ada sih, emang kenapa?”
“Aku barusan mandi, terus ada yang masuk di sebelah, nutup pintunya kenceng banget lagi” jelas saya cepat.
“Lha, bukannya kamu tadi yang nutup pintu kenceng banget?” dia balik bertanya.
Dueeng !!
Kembali suara itu terdengar lagi….
Kami berdua berpandangan sejenak, kemudian buru-buru lari…
Tragisnya, ikatan handuk tidak berkompromi…
Setaaaannnn…!!!!
* * * * * *
Nah, adegan di atas itu terjadi di pojok belakang sisi utara kos kami. Belakangan saya tahu dari rekan senior kalau yang menghuni “wilayah” itu adalah hantu yang berbentuk pocong, dan amazingnya tidak hanya satu..!!
Selanjutnya di kisah sekarang saya akan menceritakan salah satu kejadian yang terjadi di wilayah seberangnya yaitu pojok belakang sisi selatan kos kami, dimana di situlah terletak sebidang ruang terbuka yang menjadi tempat mencuci pakaian.
Suatu malam, rekan saya sebut saja si Ab, sedang mencuci pakaian di tempat tersebut. Dia terpaksa mencuci malam-malam (sekitar jam 21-an) karena stok pakaiannya telah menipis dan beberapa hari sebelumnya ia tidak sempat mencuci karena kesibukan kuliah.
“Ab, kok nyuci malam-malam?” sapa saya saat berjalan melewati koridor yang berbatasan dengan ruang cuci tersebut.
“Iya nih, daleman habis” Ia menoleh sambil nyengir. Ia berjongkok di depan papan penggilasan dan ember berisi rendaman cucian yang aromanya dapat tercium sampai taman di tengah kos. Wueekk.
“Oh, itu cucian kamu, Ab? Berapa hari direndemnya tuh?”
“Hehe. Baru seminggu..” kembali ia nyengir memamerkan barisan giginya yang berkilau disinari rembulan. Haiyah.
“Memang kelihatan remang-remang gini?”
“Yah, lumayan lah, daripada besok nggak pake si-di”
Saya meraih batang rokok terakhir dari saku lalu menyulut dan menghisapnya untuk mengatasi aroma memabukkan itu seraya duduk di dinding pendek yang membatasi ruang cucian itu. “Yang lain pada kemana, Ab? Kok sepi?”
“Ngga tau, Yos. Lagi pada makan di Babarsari kali” jawabnya.
Sebentar kemudian saya dan Ab terlibat obrolan ringan sembari ia tetap menyikat dan mengucek pakaiannya dalam posisi membelakangi saya.
Tidak berapa lama rokok yang saya hisap telah habis kemudian saya meninggalkan si Ab untuk mengambil rokok di kamar. Bikin kopi sekalian ah, pikir saya saat di kamar. Akhirnya, saya memanaskan air di heater berbentuk teko plastik andalan anak kos dan menyeduh segelas kopi.
Saat kembali ke ruang cuci itu lagi sekitar sepuluh menit kemudian sambil membawa kopi yang saya buat, di tengah taman saya mendapati si Ab tergopoh-gopoh menyongsong saya dengan tangan dan wajah belepotan busa sabun. Celana pendek jins yang menutupi tubuh bagian bawahnya basah kuyup.
“Kamu ngapain, Ab?” tanya saya heran.
“Yos, sialan kamu ninggalin” umpatnya dengan wajah pucat.
“Lha, kan tadi aku bilang mau ngambil rokok”
“Ah, ngga. Kamu ngga bilang gitu”
“Bilang kok, kamu aja ngga denger. Memang kenapa sih?” tanya saya keheranan.
“Aku dari tadi nyuci sambil ngobrol sama kamu kan. Tapi aku heran kok lama-lama kamu njawabnya cuma bilang Iya atau Hmm-hmm gitu” jawabnya.
“Oh ya?”
“Nah, barusan aku kesel kan sama jawabanmu. Aku noleh ke belakang…” jelasnya terputus.
Saya merinding mendengar ceritanya. “Heh..terus..?”
Si Ab cepat menggandeng lengan saya dan berjalan ke depan kamar saya. “Ternyata, bukan kamu..tapi bayangan hitam besar berdiri di deket tembok yang kamu duduk itu..Aku langsung nyusruk ke cucian depanku, ketakutan. Terus lari kesini…”
“Ojo guyon ah, Ab” tegur saya merinding.
“Tenan iki. Masa aku mau basah-basahan gini bercandain kamu..” jawabnya ngotot.
Kemudian
"Byuuurr...”
Terdengar suara air dituang atau lebih tepatnya dibalikkan dari embernya.
“Setaaaaannn…..!!!”
Dan esok harinya, dengan terpaksa saya pinjami si Ab si-di saya.
Hiks….
* disclaimer : foto memang nggak nyambung sama cerita. Cuma mau pamer kaos aja.
Kisah Misteri - HAUNTED IN GAME CENTER
(Haunted in Game Center )
Selamat malam jumat sobat tercinta. Masih belum bosan kan baca cerita saya? Kalau bosan bilang-bilang ya..Hehehe.
Malam ini saya ingin membagikan pengalaman yang sedikit horor sewaktu saya bekerja part-time menjadi Operator Game Center di Jogja. Sobat2 pasti pernah ngerasain main gamedi warnet atau game center kan?
Nah, dulu sekitar tahun 2001-an sewaktu sempat menganggur setelah kontrak saya di suatu proyek selesai, saya ditawari teman untuk kerja part-time menjadi penjaga atau kerennya Operator (panggilannya “OP”) sebuah game center di kota Jogja.
Seingat saya tempat itu khusus untuk game Counter Strike, karena selama saya di situ 100% melayani para konsumen yang bermain game itu secara LAN (Local Area Network).
Oh ya, jumlah OP ada tiga orang yang bekerja bergantian delapan jam satu shift-nya, melayani sekitar 30 unit komputer yang dipakai para pemain game CS itu. Sehari-hari tempat itu buka jam tujuh pagi dan tutup jam sebelas malam, kecuali di hari Jumat dan Sabtu yang beroperasi tiga shift alias dua puluh empat jam. Dan karena salah satu OP adalah wanita (mahasiswi), maka saya dan seorang OP pria lainnya yang mendapat jatah shift malam sampai pagi di hari Jumat dan Sabtu itu.
Pada awal-awal bekerja tidak ada masalah berarti dalam menjalankan tugas sebagai OP gamesitu. Paling-paling hanya mendapat celotehan kesal dari konsumen saat jaringan ngadat atau aliran listrik PLN padam, atau berdebat kecil soal kelebihan menit permainan yang tertagih. Selebihnya cukup menyenangkan lah buat anak muda dua puluhan tahun waktu itu, bisa ikut bermain gamesepuasnya dan mendapat bayaran meski pas-pasan. Daripada nganggur.
Hehehe.
Namun pada suatu malam terjadi sesuatu yang aneh saat giliran shift saya.
Waktu itu hari Sabtu sekitar pukul dua dini hari.
Sebelum shiftsaya mulai, pada buku catatan OP terdata meja komputer terisi separuhnya, berarti ada lima belasan konsumen yang sedang bermain. Setelah melakukan serah terima uang pembayaran games dan minuman/snack dengan OP yang saya gantikan, saya segera disibukkan dengan tugas rutin menjadi admin games.
Malam pun berlalu. Para konsumen masih datang dan pergi silih berganti hingga tanpa terasa waktu menunjukkan pukul dua dini hari.. Di layar OP yang saya hadapi, terdata beberapa pemain masih hidup dan saling berperang di games tersebut sementara sisanya mengamati dan memberi semangat atau cemoohan.
Saya mengangkat kepala mengintip dari balik layar ke arah mereka, terlihat beberapa kepala konsumen menyembul tertutup layar komputer yang mereka mainkan. Mereka mengelompok di barisan meja tengah.
Dan mata saya tertumbuk pada meja komputer paling ujung belakang. Terlihat seperti rambut panjang seorang gadis menyendiri terpisah dari kerumunan pemain yang lain. Saya agak heran melihat pemandangan tersebut. Saya kembali melirik ke arah gadis itu dan dia masih duduk diam di sana. Penasaran, saya melihat ke daftar komputer yang aktif di layar dan meraih buku catatan OP dan memeriksa nomer meja itu untuk memastikan.
Lho?
Terdata konsumen meja itu telah selesai jam dua belas malam dan seharusnya meja itu kosong. Kemudian saya berpikir mungkin saja salah seorang pemain berpindah meja yang seharusnya ia melapor pada OP terlebih dahulu. Atau bisa juga gadis itu pacar salah seorang pemain di situ yang masih menemani sang pacar.
Saya pun beranjak dari meja saya bermaksud menanyakan kepada si gadis itu. Tetapi…
Ketika saya berdiri, meja sudut itu dalam keadaan kosong.
Dan saat saya memutar pandangan ke seluruh pemain di situ, semuanya pria.
Di kursi tunggu yang ada di deretan paling belakang di dekat pintu keluar pun kosong tidak ada seorang pun di sana.
Ah, mungkin saya salah lihat, pikir saya kemudian.
Dan sampai akhir shift saya jam tujuh paginya tidak ada kejadian yang aneh lagi. Demikian juga keesokan harinya.
Beberapa hari kemudian, saya mendapat shift malam di hari biasa. Sedikit melewati jam sebelas malam, setelah mematikan seluruh komputer dan membereskan lemari pendingin minuman, saya memeriksa pembukuan dan jumlah uang hasil shift saya malam itu untuk kemudian akan dimasukkan ke dalam brankas kecil yang tersembunyi di ruangan itu.
Oh ya, saya ceritakan sedikit gambaran ruangannya ya.
Pintu masuk sekaligus keluar yang saya tulis sebagai di belakang itu sebenarnya adalah bagian depan game center dimana di dalam ruangan ada empat deret barisan meja komputer, dan meja OP tempat saya duduk itu sebenarnya bagian belakang ruangan. Sudah terbayang kan?
Saya benar-benar sendirian di tengah ruangan game center yang cukup luas itu.
Tiba-tiba, dari sudut mata saya, ada seseorang yang berjalan melintas dari toilet ke arah pintu keluar.
Lho? Siapa itu?
Saya langsung berpaling dari buku melihat ke arah orang itu.
Namun baik pintu toilet maupun pintu keluar, dalam keadaan tertutup.
Tidak ada seorang pun di sana!
Saya merinding seketika.
Secepat kilat saya membereskan buku dan menyimpan uang pada tempat yang semestinya kemudian setengah berlari saya mematikan lampu dan mengunci pintu dari luar dengan nafas memburu.
Bayangkan kalau sobat jadi saya. Kos-kosan tempat saya tinggal itu tempatnya jurig (sudah baca cerita-cerita saya sebelumnya kan?)
Nah, di tempat kerja juga sepertinya begitu. Tetapi kepalang tanggung, daripada menganggur saya teruskan pekerjaan saya di tempat itu.
Beberapa malam kemudian, kembali di suatu sabtu dini hari. Saat itu cukup sepi, hanya ada sekitar lima atau enam konsumen langganan yang sudah cukup akrab dengan saya.
Setelah bermain selama dua jam, mereka putuskan menyelesaikan permainan dan berpamitan setelah membayar sewa games dan minuman mereka. Saya sudah mencoba merayu supaya mereka bermain terus sampai pagi bahkan saya tawarkan dua jam gratis, yang penting saya tidak sendirian di tempat itu.
Tetapi mereka bersikeras. “Ngantuk, Mas” ucap mereka.
Waduh!
Dan benar saja…
Jam dinding menunjukkan waktu pukul setengah empat dini hari saat “ia” kembali hadir di sana.
Di meja ujung belakang itu.
Duduk diam tanpa menunjukkan wajah.
Hanya rambut panjang hitamnya yang mengintip dari balik layar komputer di sana.
Saya hanya bisa duduk terpaku.
Mungkin “dia” juga begitu.
Sebab tidak ada seorang pun dari kami yang bergerak.
Apakah ini cinta..?
Eh…
Tiba-tiba pintu terbuka.
Saya sudah hampir pingsan ketika seseorang melongokkan kepalanya melalui celah pintu yang belum terbuka sempurna.
“Masih buka, Mas?” teriaknya.
Fiuuhh….
Dan “gadis” itu pun menghilang seketika.
Hari-hari berikutnya, untungnya setiap mendapat shift malam konsumen selalu ramai tanpa henti sehingga saya tidak memikirkan kejadian menakutkan itu.
Kalau tidak salah ingat, saat itu banyak konsumen yang sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi Counter Strike tingkat nasional.
Saya baru tahu ada grup-grup pemain CS yang hebat-hebat sewaktu mereka bermain di tempat saya itu. Saya mengamati lewat layar monitor OP bagaimana kekompakan dan keahlian mereka bermain saling mengalahkan grup lawannya.
Suatu malam minggu, lewat tengah malam, saya sedang asyik mengamati dua grup (sepuluh orang) sedang mengadakan “sparing partner”. Seru sekali permainan mereka hingga saya terlarut, mata saya tidak lepas dari monitor mengikuti pergerakan mereka dalam games itu.
Hingga…
Di suatu adegan games dimana memperlihatkan suasana gelap, layar komputer menampilkan citra hampir gelap sempurna. Akibat pantulan sinar lampu di atas ruangan, wajah saya turut terpantul terlihat di layar.
Saya memicingkan mata mencoba mencari dimana pemain yang bersembunyi dalam kegelapan itu.
Saat itulah, terlihat bayangan seseorang di layar.
Bayangan seorang wanita..!
Berdiri tepat di sebelah saya.
Ia tersenyum.
“Aaaa..!!”
Saya berteriak seketika dan refleks menoleh ke samping kanan.
Kosong.
Dan saya menjadi salah tingkah saat para pemain itu mendongakkan kepala dan melihat saya dengan wajah heran. “Kenapa Mas?” tanya salah seorang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin dia jadi kalah gara-gara terkejut mendengar teriakan saya.
Singkat cerita, setelah berulang kali mengalami perjumpaan dan mulai “akrab” dengan “dia”, beberapa minggu kemudian akhirnya saya resign dari game center tersebut. Bukan karena ketakutan tetapi karena mendapat panggilan kerja di proyek.
Oh ya, mungkin ada yang bertanya dimana tepatnya lokasi game center tersebut berada?
Saya hanya bisa sebutkan terletak di salah satu lokasi di sepanjang jalan raya Solo-Jogja, tidak terlalu jauh dari eks bioskop yang terbakar akhir tahun 90-an dimana banyak menelan korban jiwa.
Dan apakah ada hubungannya dengan kejadian yang saya alami?
Entahlah.
Saya tidak pernah menanyakannya pada “dia".
--- The End ---
(sumber foto : hipwee.com)
Kisah Misteri - KEMBARAN BOS
Hmm, bicara kantor, sebagian sobat mungkin pernah mengalami hal-hal yg aneh atau bahkan menakutkan di kantor kamu. Nah, saya mau sharing satu di antara sekian banyak kejadian yg saya alami di kantor yaa.
Nanti saya persilahkan sobat yg punya kisah jika ingin berbagi di kolom comment di bawah ini.
Begini ceritanya...
(KEMBARAN BOS)
Suatu malam di kantor, tepatnya di ruangan departemen saya, hanya tersisa saya dan bos yg masih di ruangannya yg merupakan ruangan tersendiri di dalam ruang departemen. Selain kami berdua, juga ada OB yg sedang menyapu. Sementara rekan-rekan lain sudah pulang.
Karena posisi meja ruang kubikal yg saya tempati menghadap ke arah ruang Si Bos dan hanya dibatasi dinding kubikal yg tidak begitu tinggi, sehingga jika beliau keluar masuk ruangan saya bisa melihat beliau berlalu lalang.
Nah, saat itu saya melihat beliau keluar berjalan sambil membawa gelas hendak mengambil air minum di dispenser yg ada di luar ruangan departemen kami.
Nah, saat itu saya melihat beliau keluar berjalan sambil membawa gelas hendak mengambil air minum di dispenser yg ada di luar ruangan departemen kami.
Dan dia lewat sambil tersenyum kecil kepada saya.
Tidak berapa lama, beliau masuk kembali dan langsung masuk ke ruangannya sedangkan saya masih asyik dengan pekerjaan di komputer.
Tidak berapa lama, beliau masuk kembali dan langsung masuk ke ruangannya sedangkan saya masih asyik dengan pekerjaan di komputer.
Tapi, tiba-tiba...
Pintu ruangan departemen terbuka kembali...dan saya melihat Si Bos masuk !!!
Saya langsung terkaget-kaget.
Saya langsung terkaget-kaget.
Kemudian saya bertanya, "Lho Bu, Ibu barusan keluar lagi? Kok saya nggak lihat?"
Beliau dengan muka terheran menjawab, "Hee..?! Ini saya baru masuk habis ambil air...emang kenapa?"
Bulu kuduk saya langsung merinding waktu itu.
Kemudian saya bilang, "Barusan sy lihat Ibu sudah masuk ke ruangan Ibu..."
Dan Si Bos yg pada dasarnya tidak suka sama sekali alias takut dengan hal-hal yg mistis begitu langsung menghardik, "Ah, kamu ada-ada aja. Itu si Ujang kali...(si OB)"
Dan beliau tidak beranjak dari depan saya. Sepertinya takut untuk masuk ke ruangannya.
Detik itu juga pintu ruang departemen kami kembali terbuka,
Dan muncullah si Ujang dari balik pintu membawa alat pel di tangannya...
Saya dan Si Bos saling berpandangan.
"Lho, Bu...Jadi siapa yg tadi masuk ruangan Ibu..???"
"Yoshuaaaa...!!!"
Si Ujang bengong. Saya juga.
Langganan:
Komentar (Atom)
