Minggu, 01 Desember 2019

Kisah Misteri - HAUNTED IN GAME CENTER

(Haunted in Game Center )
 
Selamat malam jumat sobat tercinta. Masih belum bosan kan baca cerita saya? Kalau bosan bilang-bilang ya..Hehehe.
Malam ini saya ingin membagikan pengalaman yang sedikit horor sewaktu saya bekerja part-time menjadi Operator Game Center di Jogja. Sobat2 pasti pernah ngerasain main gamedi warnet atau game center kan?
Nah, dulu sekitar tahun 2001-an sewaktu sempat menganggur setelah kontrak saya di suatu proyek selesai, saya ditawari teman untuk kerja part-time menjadi penjaga atau kerennya Operator (panggilannya “OP”) sebuah game center di kota Jogja.
Seingat saya tempat itu khusus untuk game Counter Strike, karena selama saya di situ 100% melayani para konsumen yang bermain game itu secara LAN (Local Area Network).
Oh ya, jumlah OP ada tiga orang yang bekerja bergantian delapan jam satu shift-nya, melayani sekitar 30 unit komputer yang dipakai para pemain game CS itu. Sehari-hari tempat itu buka jam tujuh pagi dan tutup jam sebelas malam, kecuali di hari Jumat dan Sabtu yang beroperasi tiga shift alias dua puluh empat jam. Dan karena salah satu OP adalah wanita (mahasiswi), maka saya dan seorang OP pria lainnya yang mendapat jatah shift malam sampai pagi di hari Jumat dan Sabtu itu.
Pada awal-awal bekerja tidak ada masalah berarti dalam menjalankan tugas sebagai OP gamesitu. Paling-paling hanya mendapat celotehan kesal dari konsumen saat jaringan ngadat atau aliran listrik PLN padam, atau berdebat kecil soal kelebihan menit permainan yang tertagih. Selebihnya cukup menyenangkan lah buat anak muda dua puluhan tahun waktu itu, bisa ikut bermain gamesepuasnya dan mendapat bayaran meski pas-pasan. Daripada nganggur.
Hehehe.
Namun pada suatu malam terjadi sesuatu yang aneh saat giliran shift saya.

Waktu itu hari Sabtu sekitar pukul dua dini hari.
Sebelum shiftsaya mulai, pada buku catatan OP terdata meja komputer terisi separuhnya, berarti ada lima belasan konsumen yang sedang bermain. Setelah melakukan serah terima uang pembayaran games dan minuman/snack dengan OP yang saya gantikan, saya segera disibukkan dengan tugas rutin menjadi admin games.
Malam pun berlalu. Para konsumen masih datang dan pergi silih berganti hingga tanpa terasa waktu menunjukkan pukul dua dini hari.. Di layar OP yang saya hadapi, terdata beberapa pemain masih hidup dan saling berperang di games tersebut sementara sisanya mengamati dan memberi semangat atau cemoohan.
Saya mengangkat kepala mengintip dari balik layar ke arah mereka, terlihat beberapa kepala konsumen menyembul tertutup layar komputer yang mereka mainkan. Mereka mengelompok di barisan meja tengah.
Dan mata saya tertumbuk pada meja komputer paling ujung belakang. Terlihat seperti rambut panjang seorang gadis menyendiri terpisah dari kerumunan pemain yang lain. Saya agak heran melihat pemandangan tersebut. Saya kembali melirik ke arah gadis itu dan dia masih duduk diam di sana. Penasaran, saya melihat ke daftar komputer yang aktif di layar dan meraih buku catatan OP dan memeriksa nomer meja itu untuk memastikan.
Lho?
Terdata konsumen meja itu telah selesai jam dua belas malam dan seharusnya meja itu kosong. Kemudian saya berpikir mungkin saja salah seorang pemain berpindah meja yang seharusnya ia melapor pada OP terlebih dahulu. Atau bisa juga gadis itu pacar salah seorang pemain di situ yang masih menemani sang pacar.
Saya pun beranjak dari meja saya bermaksud menanyakan kepada si gadis itu. Tetapi…
Ketika saya berdiri, meja sudut itu dalam keadaan kosong.
Dan saat saya memutar pandangan ke seluruh pemain di situ, semuanya pria.
Di kursi tunggu yang ada di deretan paling belakang di dekat pintu keluar pun kosong tidak ada seorang pun di sana.
Ah, mungkin saya salah lihat, pikir saya kemudian.
Dan sampai akhir shift saya jam tujuh paginya tidak ada kejadian yang aneh lagi. Demikian juga keesokan harinya.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat shift malam di hari biasa. Sedikit melewati jam sebelas malam, setelah mematikan seluruh komputer dan membereskan lemari pendingin minuman, saya memeriksa pembukuan dan jumlah uang hasil shift saya malam itu untuk kemudian akan dimasukkan ke dalam brankas kecil yang tersembunyi di ruangan itu.
Oh ya, saya ceritakan sedikit gambaran ruangannya ya.
Pintu masuk sekaligus keluar yang saya tulis sebagai di belakang itu sebenarnya adalah bagian depan game center dimana di dalam ruangan ada empat deret barisan meja komputer, dan meja OP tempat saya duduk itu sebenarnya bagian belakang ruangan. Sudah terbayang kan?
Saya benar-benar sendirian di tengah ruangan game center yang cukup luas itu.
Tiba-tiba, dari sudut mata saya, ada seseorang yang berjalan melintas dari toilet ke arah pintu keluar.
Lho? Siapa itu?
Saya langsung berpaling dari buku melihat ke arah orang itu.
Namun baik pintu toilet maupun pintu keluar, dalam keadaan tertutup.
Tidak ada seorang pun di sana!
Saya merinding seketika.
Secepat kilat saya membereskan buku dan menyimpan uang pada tempat yang semestinya kemudian setengah berlari saya mematikan lampu dan mengunci pintu dari luar dengan nafas memburu.
Bayangkan kalau sobat jadi saya. Kos-kosan tempat saya tinggal itu tempatnya jurig (sudah baca cerita-cerita saya sebelumnya kan?)
Nah, di tempat kerja juga sepertinya begitu. Tetapi kepalang tanggung, daripada menganggur saya teruskan pekerjaan saya di tempat itu.

Beberapa malam kemudian, kembali di suatu sabtu dini hari. Saat itu cukup sepi, hanya ada sekitar lima atau enam konsumen langganan yang sudah cukup akrab dengan saya.
Setelah bermain selama dua jam, mereka putuskan menyelesaikan permainan dan berpamitan setelah membayar sewa games dan minuman mereka. Saya sudah mencoba merayu supaya mereka bermain terus sampai pagi bahkan saya tawarkan dua jam gratis, yang penting saya tidak sendirian di tempat itu.
Tetapi mereka bersikeras. “Ngantuk, Mas” ucap mereka.
Waduh!
Dan benar saja…
Jam dinding menunjukkan waktu pukul setengah empat dini hari saat “ia” kembali hadir di sana.
Di meja ujung belakang itu.
Duduk diam tanpa menunjukkan wajah.
Hanya rambut panjang hitamnya yang mengintip dari balik layar komputer di sana.
Saya hanya bisa duduk terpaku.
Mungkin “dia” juga begitu.
Sebab tidak ada seorang pun dari kami yang bergerak.
Apakah ini cinta..?
Eh…
Tiba-tiba pintu terbuka.
Saya sudah hampir pingsan ketika seseorang melongokkan kepalanya melalui celah pintu yang belum terbuka sempurna.
“Masih buka, Mas?” teriaknya.
Fiuuhh….
Dan “gadis” itu pun menghilang seketika.

Hari-hari berikutnya, untungnya setiap mendapat shift malam konsumen selalu ramai tanpa henti sehingga saya tidak memikirkan kejadian menakutkan itu.
Kalau tidak salah ingat, saat itu banyak konsumen yang sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi Counter Strike tingkat nasional.
Saya baru tahu ada grup-grup pemain CS yang hebat-hebat sewaktu mereka bermain di tempat saya itu. Saya mengamati lewat layar monitor OP bagaimana kekompakan dan keahlian mereka bermain saling mengalahkan grup lawannya.
Suatu malam minggu, lewat tengah malam, saya sedang asyik mengamati dua grup (sepuluh orang) sedang mengadakan “sparing partner”. Seru sekali permainan mereka hingga saya terlarut, mata saya tidak lepas dari monitor mengikuti pergerakan mereka dalam games itu.
Hingga…
Di suatu adegan games dimana memperlihatkan suasana gelap, layar komputer menampilkan citra hampir gelap sempurna. Akibat pantulan sinar lampu di atas ruangan, wajah saya turut terpantul terlihat di layar.
Saya memicingkan mata mencoba mencari dimana pemain yang bersembunyi dalam kegelapan itu.
Saat itulah, terlihat bayangan seseorang di layar.
Bayangan seorang wanita..!
Berdiri tepat di sebelah saya.
Ia tersenyum.
“Aaaa..!!”
Saya berteriak seketika dan refleks menoleh ke samping kanan.
Kosong.
Dan saya menjadi salah tingkah saat para pemain itu mendongakkan kepala dan melihat saya dengan wajah heran. “Kenapa Mas?” tanya salah seorang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin dia jadi kalah gara-gara terkejut mendengar teriakan saya.

Singkat cerita, setelah berulang kali mengalami perjumpaan dan mulai “akrab” dengan “dia”, beberapa minggu kemudian akhirnya saya resign dari game center tersebut. Bukan karena ketakutan tetapi karena mendapat panggilan kerja di proyek.
Oh ya, mungkin ada yang bertanya dimana tepatnya lokasi game center tersebut berada?
Saya hanya bisa sebutkan terletak di salah satu lokasi di sepanjang jalan raya Solo-Jogja, tidak terlalu jauh dari eks bioskop yang terbakar akhir tahun 90-an dimana banyak menelan korban jiwa.

Dan apakah ada hubungannya dengan kejadian yang saya alami?
Entahlah.
Saya tidak pernah menanyakannya pada “dia".

--- The End ---

(sumber foto : hipwee.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar