Kamis, 25 Oktober 2018

Japan Ghost Story - HANAKO


#HorrorHitters

#CermisLM

#YSH2

(Japan Ghost Story)



Selamat malam jumat sobat Hitters, kali ini supaya sobat semua nggak boring nyimak cerita yang bersumber dari pengalaman saya, perkenankan saya cuplik sedikit kisah hantu dari negara seberang yaitu Jepang. Biarpun negara kaya dan modern begitu, di kalangan masyarakatnya masih banyak yang mempercayai hal-hal perhantuan, makhluk halus dan sejenisnya. Mirip lah seperti kita di sini.

Coba siapa sobat di sini yang suka atau minimal pernah nonton film hantu bikinan Jepang? Serem yaa..

Meskipun buat saya masih lebih sereman film hantu kita, apalagi Suzana, waktu kecil sampai nggak berani pipis sendiri. Hehehe…



Ok, kita mulai yaa…



~ HANAKO ~



HANAKO merupakan salah satu hantu legendaris dan sangat terkenal di Jepang, khususnya kalangan anak sekolah. Dan kisahnya sudah diangkat kedalam beberapa judul film di sana. Coba saja cari di youtube, ngeri-ngeri sedap nontonnya…



Pada awal kisahnya dulu sekitar masa Perang Dunia II, disebutkan ia menghantui toilet sekolah setingkat SD namun belakangan pada tahun 80-an disebut-sebut menampakkan diri juga di sekolah tingkat SMP maupun SMA di sana.

Dari beberapa artikel yang saya baca, kisah itu awet sampai masa modern sekarang walaupun ada beberapa versi berkenaan asal mula hantu Hanako dan juga bagaimana perilakunya ketika menampakkan diri atau menghantui para murid di sekolah.  



Salah satunya menurut miyamotorakko.blogspot.com, legenda hantu Hanako bermula pada tahun 1950-an dimana saat itu tengah heboh penampakan anak kecil di toilet sekolah dengan rok merah, berambut bob pendek, dan bisa muncul di kamar mandi sekolah-sekolah SD di Jepang.

Urban legend mengatakan, bahwa saat itu ada seorang anak kecil yang tengah bersembunyi di toilet sekolah dari kejaran ibunya yang gila, namun malang ia berhasil ditemukan dan dibunuh oleh sang ibu. Versi lainnya menyebutkan bahwa Hanako adalah anak kecil yang tewas karena serangan udara Perang Dunia II, saat ia sedang bermain petak umpet bersama temannya dan bersembunyi di toilet.

Ada legenda lain pula yang mengatakan, Hanako adalah siswa yang selalu di-bully dan dia memutuskan untuk gantung diri di toilet. Satu sekolah di wilayah Fukushima punya rumor yang berbeda mengenai Hanako, konon ia adalah seorang siswi yang terjatuh dari jendela perpustakaan dan rohnya menetap serta bersembunyi di toilet sekolah.



Pada umumnya, dikisahkan bahwa Hanako menghuni toilet wanita di bilik nomor tiga, di lantai tiga pula. Biasanya Hanako juga menampakan diri di toilet perempuan. Kalaupun dia bisa terlihat oleh anak laki-laki, kemungkinan toilet yang disemayami Hanako adalah toilet unisex.

Untuk memanggil Hanako, seseorang harus mengetuk pintu toilet bilik nomor tiga selama tiga kali dan bertanya, "Hanako-San, apakah kau ada di dalam?"

Jika dalam bilik itu ada Hanako, maka dia akan menjawab, "Ya, aku ada di dalam".



Mirip seperti Urban Legend “Bloody Mary” atau “Candy Man” di Amerika, keberadaan hantu Hanako seringkali dijadikan ajang uji nyali bagi anak-anak SD di Jepang.

Untuk memanggilnya setiap anak harus masuk kedalam ruang toilet lalu memanggil nama “Hanako” sebanyak tiga kali. Jika ia merespon, maka akan terdengar suara “Ya, aku ada di sini”. Atau secara tiba-tiba akan muncul sesosok anak perempuan memakai rok merah dan rambut bob berponi.

Versi lainnya, Hanako akan berdiri di atas toilet dengan tatapan kosong lalu ia akan menarik siswa itu masuk bersamanya kedalam bilik dan mengunci pintunya. Beberapa menyatakan, Hanako akan keluar dari bilik untuk mengejar siswa itu dan menyakiti mereka. Bahkan cerita di daerah Yamagata, konon Hanako ini punya penampilan seperti kadal berkepala tiga yang akan memakan anak-anak.

Celakanya, bagi para “pembully” legenda ini sering disalahgunakan dengan mengunci anak yang dibully di dalam toilet agar ia panik, sebab konon Hanako akan muncul di saat seseorang tengah ketakutan. Jangan ditiru yaa…



Dipercaya, saat bertemu Hanako, berlari merupakan pilihan yang paling tepat.

Namun, ada juga yang bilang, ia takut melihat nilai rapor yang bagus.

Ini karena dulu semasa hidup Hanako di-bully selalu mendapat nilai jelek.

Jadi, bawalah selalu kertas hasil ujianmu yang bernilai sempurna ke mana saja untuk mengusir Hanako !



Untungnya, ada juga yang menyebutkan bahwa hantu Hanako sama sekali tidak berbahaya dan tidak meneror karena dendam.

Ia hanya makhluk halus yang hanya sekedar muncul untuk menunjukan eksistensinya dan menjadi ‘maskot’ hantu masa kini yang ditakuti anak-anak. Orang yang melihatnya, paling hanya akan lari terbirit-birit dan Hanako tidak akan mengejar.

Tidak ada cara khusus untuk menangkal Hanako. Bahkan ada yang menyebutkan jika hantu Hanako pada aslinya adalah sosok yang baik bahkan mau menolong siapa saja yang tengah dalam masalah dan disebut-sebut kerap membawa keberuntungan.

.

.

.

Jadi, sobat berani sendiri ke toilet kan…?



(sumber :  miyamotorakko.blogspot.com ; wikipedia.org ; travel.tribunnews.com ; jpninfo.com)

Senin, 24 September 2018

Telepon Tengah Malam - PROMO

Selamat pagi sobat semua,
menjawab pertanyaan dan minat dari sobat-sobat tercinta yang menginginkan versi digital dari buku perdana saya,

Puji Tuhan,
dengan senang hati saya informasikan mulai saat ini buku digital "Telepon Tengah Malam" bisa didapatkan di Google Play Store atau Google Play Books.

Untuk mencarinya, cukup ketik kata kunci :

"Telepon Tengah Malam" atau "Bieliv Felixia"

kemudian ikuti langkah-langkah selanjutnya pada aplikasi tersebut, dan buku Telepon Tengah Malam sudah dapat anda nikmati.

Terima kasih sobat semuanya...selamat beraktivitas dan belanja bukunya.

God Bless you all.

Minggu, 05 Agustus 2018

Kisah Misteri : PENGHUNI GUDANG KOS

Cerita misteri kali ini saya ambil dari salah satu kejadian yang saya alami sewaktu nge-kos semasa awal kuliah, sekitar tahun 96-an.
Kos2-an yang saya tinggali itu berusia cukup tua, terdiri dari satu rumah tempat keluarga empunya kos tinggal dimana tingkat duanya dipakai sebagai 2 kamar kos, kemudian membentuk “letter L” (jika dilihat dari atas) berdiri dua bangunan lain yang juga bertingkat dua dimana terdapat deretan kamar-kamar kos. Kalau tidak salah ingat seluruhnya berjumlah 17 kamar, di tengah bangunan-bangunan ini terdapat halaman dimana terdapat kolam ikan berukuran kecil dan beberapa pohon jambu biji dan tanaman hias.
Di lantai dua bangunan tersebut, sederet dengan kamar kos paling depan (di samping pintu gerbang) terdapat gudang yang jika dilihat dari luar memiliki ukuran ruang yang cukup luas, berdinding papan kayu dikombinasikan dengan bilik bambu, cat luar warna-warni yang kondisinya sudah pudar, dengan tangga melingkar terbuat dari kayu kelapa di ujung depannya menjulur kebawah di samping pintu gerbang. Konon dulu difungsikan sebagai semacam galeri seni.
Di bulan-bulan awal saya masuk di kos-an tersebut, pintu ruangan tersebut hampir selalu terkunci, hanya sesekali saya melihat Pak R, penjaga kos merangkap pengurus rumah keluarga pemilik kos, memasukkan dan mengeluarkan barang dan kembali menguncinya.

Ohya, kos2-an yang saya ceritakan ini adalah kos-an pria, penghuninya mayoritas mahasiswa senior yang telah bertahun-tahun menuntut ilmu, waktu itu hanya saya dan teman sekelas SMA saya, si Ahong, yang masih mahasiswa baru. Tapi mereka menyambut kami dengan baik dan hubungan antar penghuni kos sangat akrab, sehingga kami berdua tidak merasa seperti anak baru di situ.
Singkat kata, beberapa bulan kemudian ada penghuni baru di kos2-an kami, sebut aja Gogon, dia juga mahasiswa baru di kampus yang sama dengan saya namun berbeda fakultas.
Si Gogon ini humoris dan sangat supel, juga sangat suka bergadang sehingga cocok sekali dengan para senior di kos-an kami, sedangkan saya dan si Ahong hanya bergadang jika ada perlunya..seperti kata Om Rhoma Irama, hehehe.
Dia juga tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis atau horror, jadi saat anak-anak kos sedang ngobrol hal tersebut dia tidak pernah mau bergabung.
Dan kisah misteri ini pun bermula.

Baru sekitar sebulan si Gogon menempati kamar kos di lantai bawah (persis di sebelah kamar saya), tiba-tiba dia minta pindah ke kamar lantai dua yang terletak di sudut depan, persis bersebelahan dengan gudang yang saya ceritakan sebelumnya.
Sejak saya masuk di kos-an, kamar itu memang kosong tidak ada yang menempati, mungkin karena posisinya tersebut.
Saya sempat bertanya kenapa dia pindah ke kamar itu, jawabannya supaya lebih konsentrasi belajar karena tidak ada yang melewati kamar itu, berbeda dengan kamar sebelumya yang di depan kamar menjadi akses keluar masuk orang.
Sekitar seminggu kemudian, saat itu kamis malam mendekati pukul 24, anak-anak kos sedang ramai bermain karambol di ruang serbaguna di lantai bawah, termasuk saya yang menonton sambil merokok.
Si Gogon tidak ikut bergabung, dengan alasan mau bermain komputer saja di kamarnya. Praktis, deretan kamar di lantai dua dalam keadaan kosong, hanya dia sendirian.
Tiba-tiba,
“Braaakk..bruukkk...braaakkk..!!!” terdengar suara kencang sekali seperti ada barang yang berjatuhan.
Spontan, dengan terkejut kami keluar dari ruangan tempat main karambol dan mencari sumber suara gaduh tersebut. Dan jelas sekali suara berasal dari lantai dua.
Kemudian terdengar si Gogon berteriak-teriak dari atas. Beberapa anak kos senior berlari keatas dan saat membuka pintu kamarnya dalam keadaan kosong. Saya sendiri ragu-ragu akan naik atau tidak, dan hanya berdiri terpaku di halaman melihat kearah kamar Gogon dan sekitarnya.
Kemudian pandangan saya berhenti pada jendela gudang yang rasanya bertahun-tahun penuh debu tidak pernah dibersihkan. Samar saya melihat sosok bayangan di balik kaca nako itu.
Setelah mendapati kamar si Gogon kosong sementara suara gaduh itu masih keras terdengar, Mas S dan Mas B berpindah membuka pintu gudang, dan ternyata benar.
Si Gogon terlihat sedang berdiri di tengah ruangan sambil melemparkan meja, kursi, dan barang-barang apapun yang ada di sekitarnya kearah satu posisi dimana terdapat sebuah lukisan perempuan dengan pandangan yang sangat dingin.
Belakangan saya tahu kalau lukisan itu sudah bertahun-tahun disimpan di gudang karena anak-anak kos yang lama merasa tidak nyaman jika melihat atau berdekatan dengan lukisan tersebut.

Kembali ke Gogon, Mas S dan Mas B segera membekuk dia sebelum keadaan semakin kacau dalam gudang itu dan menyeretnya turun. Mas B yang memang kami tuakan di kos, segera kembali kedalam gudang dan sepertinya terlibat “pembicaraan” dengan nada yang keras dengan “seseorang” di dalam gudang itu. Setelah beberapa menit yang menegangkan bagi kami yang melihat, kemudian mas B keluar dari gudang dan menutup pintu gudang itu.
Saya dan beberapa teman yang tidak ikut keatas (berkerumun di pertengahan tangga) hanya berdiri terpaku menyaksikan kejadian tersebut.
Dan yang membuat bulu kuduk saya merinding saat itu (saat ini juga), saya sekilas melihat samar sesosok "wanita" di jendela gudang dan sosok itu ikut menghilang bersamaan mas B menutup pintu gudang.
Singkat kata, si Gogon ditenangkan di lantai bawah oleh mas B dan rekan-rekan yang lain. Saya tidak berani terlalu dekat karena terdengar dia mengeluarkan suara geraman seperti harimau ditingkahi suara Mas B membaca doa dan berteriak mengusir “sesuatu” yang merasuki Gogon.
Setelah beberapa saat kemudian dia pun tenang dan ditidurkan di kamar mas B, kemudian mas B menyuruh kami bubar dan meminta kami untuk tidak membahas kejadian tadi dan ia pun meminta kami bersikap seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.
Dengan rasa ketakutan bercampur penasaran kami pun membubarkan diri, dan karena takut tidur di kamar sendiri saya pun bergabung dengan beberapa anak kos lain di kamar salah satu senior, Mas A, sampai pagi. Dan keesokan paginya karena mengingat pesan mas B tersebut, aktivitas kami berlangsung seperti biasa.

Namun beberapa hari kemudian, saat hampir semua anak kos sedang berkumpul termasuk si Gogon, tanpa dapat menahan diri lagi kami membahas kejadian malam itu. Sedangkan mas B hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Awas lho yaa..udah aku ingetin ngga usah bahas lagi. Tanggung sendiri pokoknya” lanjutnya masih dengan senyum.
“Wah, tanggung mas, udah kadung nanya” jawab yang lainnya.
Si Gogon semula tidak mau menjawab namun setelah didesak sana sini maka ia pun menceritakan kejadian malam itu.
“Ah, bosen juga main komputer sendirian. Ngerokok dulu ah” Gogon mengambil rokoknya dan beranjak keluar kamar. Sekilas diliriknya jam di meja, “udah hampir jam duabelas” gumamnya. Keluar kamar, digesernya kursi mendekati railing pembatas teras lantai dua dan dihisapnya rokok sambil menyandarkan tangan di railing tersebut. Dari bawah terdengar riuh suara anak-anak kos yang sedang bermain karambol.
“Wah, seru karambolnya. Turun ah..” benaknya berkata. Ia bangkit dari duduknya hendak berjalan ke tangga turun.
Namun tiba-tiba…
“Tok..tok..”
“Tok ..tok..”
terdengar suara ketukan beberapa kali.
Ia menengok ke kanan, kearah kamar-kamar sebelahnya mencari sumber suara. Yang nampak hanya teras yang kosong dan deretan empat kamar yang tertutup rapat.
“Ah, suara dari kamar bawah kali” pikirnya sambil mengangkat bahu.
“Tok..tok..”
“Tok ..tok..”
Terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
Dan jelas sekali berasal dari sebelah kiri ia berdiri. Pintu Gudang.
Setengah tidak percaya ditatapnya pintu itu. Didekatkannya telinga ke arah pintu, memastikan sumber suara tadi.
Lalu karena penasaran, ia mencoba menekan gagang pintu kebawah dan mendorong daun pintu gudang tersebut. Tenyata dalam kondisi tidak terkunci.

Saat melangkahkan kaki masuk, terlihat olehnya ruangan gudang yang diterangi sinar redup lampu kecil. Meja, kursi, bagian-bagian ranjang tampak tertumpuk memenuhi sebagian ruangan.
Disebarnya pandangan ke sekeliling, dan matanya terpaku di salah satu sudut ruangan. Di situ tersandar di dinding sebuah lukisan yang berukuran cukup besar. Lukisan setengah badan seorang wanita dalam kondisi dilapisi debu dan sarang laba-laba, pertanda lukisan tersebut sudah lama berada di tempat itu.
Gogon mendekati lukisan wanita itu, diraba dan diusapnya debu yang melapisi bagian wajah wanita tersebut. Kemudian terlihat wajah cantik namun dingin dengan pandangan mata yang tajam.
“Woow..boleh nih lukisan aku pasang di kamar.” cetusnya kegirangan.
Dipegangnya pigura lukisan sambil memandangi bagian wajah cantik dalam lukisan.
Dan…mata wanita itu bergerak melotot.
Dilanjutkan bibirnya menyunggingkan senyum.
Sontak, Gogon melepaskan lukisan itu dan bergerak mundur.
Badannya terasa kaku dan kakinya terkunci tak bisa bergerak dari posisinya.
Dan…perlahan sosok wanita dalam lukisan itu bergerak keluar dari kanvas tempat dia berada. Sosok wanita dengan wajah pucat dan senyum menyeringai, berjalan mendekati si Gogon yang hanya bisa terpaku ketakutan.
Beberapa detik kemudian, dengan susah payah Gogon meraih sebuah kursi di dekatnya dan dengan sekuat tenaga melemparkannya kearah sosok wanita tersebut, yang ternyata tidak berpengaruh apapun. Sosok wanita itu tetap melangkah mendekatinya.

Dan kejadian selanjutnya seperti apa yang saya dan anak kos yang lain saksikan pada malam itu.
Sejak malam itu sampai beberapa bulan berikutnya, si Gogon tidak berani tidur sendirian di kamarnya, seringkali ia menginap di tempat temannya di tempat lain atau tidur berpindah-pindah di kamar kos kami rekan-rekannya.
Dari penjelasan yang kami terima dari mas B dan mas S yang memiliki “kelebihan”, pemilik lama bangunan kos kami (jauh sebelum pemilik yang sekarang membelinya) memasang “penjaga” di empat sudut bangunan, salah satunya tepat di gudang itu. Posisi lainnya adalah di rumah pemilik kos, di ruang mencuci dan di kamar mandi, dimana posisi-posisi tersebut ada di sudut-sudut kos2-an kami.
Jika waktu mengijinkan, akan saya ceritakan kejadian-kejadian mistis yang kami alami di kos2-an kami ini, yang sampai sekarang jika mengingatnya masih terasa merinding di badan.
Demikian cerita misteri ini saya sampaikan, terima kasih atas perhatian sobat Hitters semuanya.
Ohya, buat sobat Hitters yang punya pengalaman serem di kos2-an, silahkan share disini yaa...biar seru.
Salam Cermis....

Kisah Misteri : SAMBUTAN MESRA (Part 3)

Sejak kejadian malam itu, dimana kamar saya kedatangan “tamu tak diundang”, saya agak was-was alias takut kalau sendirian di kamar. Pikiran waktu itu, kamar saya kan ukurannya imut-imut, sekali koprol dijamin kepala mencium tembok, kalau ada “tamu” tiba-tiba nongol lagi pasti langsung berhadapan muka dengan saya. Hiii…
Solusinya, pintu kamar tidak pernah saya kunci supaya mudah melarikan diri. Kemudian lampu selalu menyala terang kalau malam bahkan saat tidur. Gantungan baju di pintu pun tidak saya fungsikan untuk menggantung baju atau celana, hanya ikat pinggang dan tas. Semi paranoid bukan? Hehe..
Belum lagi, diperparah kejadian yang menimpa si Gogon yang pernah saya ceritakan sebelumnya.
Tapi anehnya, tidak pernah terpikir untuk pindah atau mencari tempat kos lain. Mungkin utamanya sih faktor U, karena harga sewanya paling murah diantara tempat kos lain yang selokasi strategis dan dekat dengan kampus.
Seiring dengan kesibukan di kampus dan juga tidak ada kejadian lanjutan di tempat kos kami, saya pun tidak atau tidak sempat memikirkan lagi kejadian tersebut.
Sampai beberapa waktu kemudian…

Seharian itu saya berpanas-panas dan berdebu mengikuti praktikum pengukuran di lapangan, karena dalam tim saya hanya saya yang laki-laki, dua lainnya perempuan, maka saya kebagian tugas memegang bak ukur dimana lokasi tempat pengukuran tersebut berupa padang rumput yang konturnya agak berbukit dan masih banyak pohon besar. Dulu tempat itu biasa menjadi tempat perkemahan atau latihan pecinta alam.
Dua rekan saya, si Vi mengoperasikan alat ukur theodolith dan si Ar mencatat hasil yang terbaca pada theodolith tersebut, sedangkan saya mesti menembus rumput yang kadang tingginya sedada untuk memegang bak ukur agar dapat terbaca oleh si Vi. Bahkan di beberapa titik saya tidak terlihat oleh si Vi, tenggelam di bawah gundukan tanah atau rerumputan, hanya bak ukur yang saya pegang nampak menjulur.
Selain tim kami, ada dua tim lain yang juga melakukan pengukuran di tempat yang sama tapi agak berjauhan lokasi yang diukur.
Menjelang sore, sampailah saya di sebuah bangunan semacam ruang pertemuan di tengah padang rumput itu. Selintas saya menengok kedalam melalui jendela kaca berdebu yang berderet keliling bangunan, nampak kosong dan terkunci, di dalam hanya terlihat kursi dan meja kayu yang ditumpuk di salah satu sisi. Suasana sepi membuat perasaan menjadi kurang enak, buru-buru saya beranjak menjauh ke halaman bangunan itu.
“Yooss..!! Yooss..!! Kamu dimana?” terdengar teriakan si Vi dan si Ar beberapa kali.
Saya melambaikan bak ukur yang saya pegang, memberikan tanda pada mereka di kejauhan, yang tidak terlihat juga oleh saya tertutup rimbunnya rumput.
“Pindahin alatnya dong. Udah susah nih ngga keliatan” teriak saya membalas.
Tiba-tiba ada suara orang berjalan di belakang saya, dari arah halaman bangunan tadi. Spontan saya menengok. Sekitar dua puluh meter dari tempat saya berdiri terlihat seorang pria berdiri di samping bangunan, di dekat pohon besar yang tadi saya lewati juga. Ternyata si To, rekan sekelas yang bergabung di tim lain, sedang berdiri menghadap ke samping.
Oh, si To, kok dia ikut ngukur di sini? Bentrok dong ntar, saya membatin.
Tapi niat untuk menyapa si To saya urungkan mengingat masih banyak titik yang harus diukur tim kami, dan saya berlalu dari tempat itu.
Akhirnya menjelang senja selesailah tugas pengukuran kami dan kami bertiga bergegas ke gerbang utama, titik kumpul awal dimana tadi pagi seluruh tim diberikan briefing oleh Asisten Dosen yang mengawasi tugas pengukuran itu.

Saat tiba disitu, sudah ada dua tim lainnya, dan saya lihat si To sedang merapikan alat-alat pengukuran timnya. Langsung saya menyapa dia.
“Eh To, wis suwi rampung?”
“Eh kowe Yos, sepuluh menitan lah” jawabnya.
“Kowe ngopo mau kok neng mburiku?”
“Mburimu? Mburi ngendi?” dia balik bertanya.
“Lha, kowe kan mau ngadeg neng sampinge gedung sing mau kae lho, neng wilayahku. Wis meh ta celuk mau, tapi kowe ketoke lagi ndelok opo ngono, yo wis ra sido”
Dan dia memandang bingung.
“Gedung sing endi? Aku ora ndelok ono gedung malah” masih dengan ekspresi bingung.
“Aku ket mau iki nyekel teodolith, ora mlaku-mlaku, sing nyekel bak ukur si R kae” tambahnya.
“Halah, ora ndagel lho kowe, jelas aku ndelok kowe kok ngadeg mburiku”
“Kandani ra percoyo, jal takono si R kae” sambil memanggil si R.
Dan dari penjelasan si R, benar bahwa selama pengukuran itu si R lah yang seperti saya beredar memegang bak ukur. Dan si To sepanjang hari mengoperasikan teodolith.
“Lha, terus kae mau sopo?” tanya saya.
“Ngelindur mungkin kowe. Hahaha” balas mereka tertawa.
Iya kali, salah liat, kepanasan soalnya, batin saya menghibur diri.
Dan akhirnya kami pun beranjak pulang ke tempat masing-masing.

Sampai di kos sudah hampir jam sembilan malam, setelah melemparkan tas ke kamar sambil langsung meraih gayung yang berisi peralatan mandi, kemudian berlari ke kamar mandi yang terletak di sudut belakang kos. Saya masuk ke kamar mandi sebelah kiri, favorit saya, yang lebih lancar aliran air kerannya.
Baru saja hendak menyiramkan air ke badan, tiba tiba..
Dueeng !!
Terdengar suara kencang dari kamar mandi sebelah. Suara keras dari daun pintu kayu berlapis seng yang beradu dengan kusen kamar mandi saat ditutup dengan tergesa-gesa.
Siapa sih nutup pintu kenceng amat? Ngga bisa dibuka tau rasa, gerutu saya.
Selesai mandi yang singkat, tidak sampai lima menit, sambil mengeringkan badan dengan handuk saya tajamkan telinga ke arah kamar mandi sebelah.
Kok dari tadi gak ada suara jebar jebur? Oh, paling lagi pup, batin saya.
Begitu keluar kamar mandi, saya tengok kamar mandi sebelah itu, ternyata pintu dalam kondisi masih terbuka sama seperti saat sebelum saya mandi.
Dan…lantainya dalam keadaan kering sama sekali.
Langsung merinding seketika.
Setengah berlari, masih dengan setengah telanjang hanya tertutup handuk dari pinggang kebawah, saya bertanya pada si D yang saat itu sedang duduk merokok di depan kamarnya, sebelum lorong menuju kamar mandi.
“D, kamu liat ngga siapa yang barusan make kamar mandi?”
“Ya kamu yang mandi kan?” jawabnya
“Bukan, maksudnya ada yang lain ngga?”
“Engga ada sih, emang kenapa?”
“Aku barusan mandi, terus ada yang masuk di sebelah, nutup pintunya kenceng banget lagi” jelas saya cepat.
“Lha, bukannya kamu tadi yang nutup pintu kenceng banget?” dia balik bertanya.
Dueeng !!
Kembali suara itu terdengar lagi….
Kami berdua berpandangan sejenak, kemudian buru-buru lari…
Tragisnya, ikatan handuk tidak berkompromi…
Setaaaannnn…!!!!
#bersambung

Kisah Misteri : SAMBUTAN MESRA (Part 2)


“Kamu selama disini belum pernah ngalamin hal aneh-aneh kan, selain sambutan dari drum band kemaren itu?”
“Maksud Mas S gimana?” jawab saya balik bertanya.
Dia tersenyum penuh arti.
“Ya udah kalo ngga pernah”
Saya mulai curiga namun tidak mau memperpanjang lagi bahasan itu.
Dan kemudian hari, saya baru benar-benar mengerti apa yang dimaksud Mas S.
Saya ingat betul malam itu malam jumat, namun saya tidak ingat apakah kliwon atau bukan. Saya baru sampai di kos sekitar jam sembilan malam, hari kuliah yang sibuk dan melelahkan diberondong tugas dan ini itu di kampus.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan beberapa rekan kos yang sedang bermain gitar di selasar sebelah kamar, saya minta diri untuk beristirahat, masuk kamar, memasang lampu tidur dan langsung merebahkan diri di kasur.
“Duuugg..!!” tiba-tiba terdengar suara keras mengagetkan lelap tidur saya. Suara itu berasal dari atas kamar, seperti ada orang yang melompat di selasar atau dalam kamar lantai atas.
Siapa tuh lompat malem-malem, pikir saya heran. Namun tetap berbaring dan tidak bermaksud untuk bangkit mencaritahu sumber suara itu. Badan serasa lemas lunglai akibat kelelahan. Saya melirik jam yang menunjukkan pukul satu lebih dan sebentar kemudian kembali terlelap.

Tidak berapa lama, tiba-tiba saya kembali terjaga.
Mata yang masih samar seperti diarahkan untuk melihat kearah pintu kamar yang berada sekitar satu meter dari ujung kaki saya.
Di pandangan yang masih samar itu dan dalam keremangan sinar lampu tidur, terlihat warna putih tergantung di posisi paling kanan dekat dengan jendela kaca nako yang menempel dengan kusen pintu, berbatasan dengan gorden lusuh berwarna coklat yang menutupi jendela nako tersebut.
Otak saya langsung menandai warna putih itu adalah jins putih yang seingat saya sudah beberapa minggu tergantung di pintu.
Anehnya, jins putih itu menjulur panjang sampai menyentuh lantai kamar.
Saya mengerjap-ngerjapkan mata, mengarahkan pandangan lebih jelas ke pintu. 
Hasilnya, lebih aneh lagi, ternyata bukan hanya menjulur ke lantai tapi juga menjulang melebihi tinggi pintu, bahkan sampai ke dak kamar. Seiring pandangan saya yang semakin jelas, terlihatlah suatu bentuk sosok putih tinggi menjulang.
Sosok itu berdiri menempel menghadap pintu, membelakangi saya yang terpaku, tak bisa bergerak apalagi bangkit. Takut, ngeri, takjub, bercampur jadi satu. Rasanya ingin berteriak dan berlari tapi badan tidak bisa digerakkan dan mulut pun seolah tak dapat bersuara.
Dan sosok itu tetap berdiri diam disitu.
“Adegan” itu mungkin hanya berlangsung tidak sampai satu menit, namun kengerian yang saya alami itu masih bisa dirasakan sampai saat saya menulis cerita ini, lebih dari dua puluh tahun kemudian.
Mungkin saat itu saya pingsan atau kembali tertidur. Saat membuka mata kembali ternyata sudah pagi, menjelang siang malahan.

Reflek saya langsung melihat kearah pintu.
Hanya ada kaos dan celana pendek disitu, berwarna biru dan hitam.
Sementara jins putih yang jadi “tersangka”, ternyata sudah masuk dalam rendaman di ember di ruang cuci.
Tanpa menunggu lama, saya langsung mencari Mas B, senior di kos yang memiliki “kelebihan”, ke kamarnya. Di dalam, dia sedang mengobrol dengan Mas S, Mas A dan Mas An, sepertinya sedang membicarakan hal yang serius, terlihat dari raut wajah mereka.
“Nah, ini si Yos. Kenapa? Pasti mau cerita semalem ya?” tanya Mas B.
“Heh? Kok tau mas kalo aku mau cerita kejadian semalem?” jawab saya terkejut.
Mereka tertawa berbarengan.
“Coba kamu cerita. Kenapa semalem?” sambung Mas A.
“Mmm, gini mas, semalem pas lagi tidur tau-tau kebangun gara-gara suara Duug gitu dari lantai atas. Aku pikir ada yang lompat di kamar atas. Terus aku tidur lagi, kecapean.”
“Pas jam satuan gitu tiba-tiba kebangun lagi, terus kok aku kaya ngelihat ada putih-putih gitu di pintu. Pertama kupikir celana jins putihku, tapi kok lama-lama jadi panjang gitu..terus jadi tinggi sampe dak kamar. Terus…”
“Wah, kamu ngeliat juga ternyata yaa…Hahaha..” potong Mas B sambil tertawa lagi.

Kemudian mereka bercerita, semalam Mas A dan Mas An yang kamarnya bersebelahan di lantai atas kamar saya, juga terbangun kaget mendengar suara itu.
Dan dari dalam kamar Mas A, melihat dari sela-sela gorden yang tidak tertutup rapat, sesosok putih melintas di depan kamarnya ke arah kamar Mas An.
Mas An yang sedang membuka pintu setelah dikagetkan suara tadi, sekilas melihat juga sosok putih melintas kemudian menghilang di ujung selasar lantai atas.
Sementara Mas B yang sedang melakukan ritual membersihkan keris di kamarnya, tidak berapa lama setelah kejadian Mas A dan Mas An tersebut, tiba-tiba dikagetkan dengan sosok putih yang berbentuk P*cong muncul di depannya. Mas B yang merasa terganggu kemudian membentak sosok itu sampai bersimpuh di depan Mas B.
Singkat kata, dari cerita Mas B dan senior lainnya di kos, sosok tersebut adalah salah satu dari beberapa “penjaga” kos-kosan yang dipasang oleh pemilik sebelumnya.
Dan “mereka” terkadang menampakkan diri pada penghuni kos baru, entah bermaksud iseng atau ingin berkenalan. Sedangkan kenapa “dia” menampakkan diri ke Mas B karena “mereka” tertarik pada kegiatan yang dilakukan Mas B, membersihkan keris.
“Komplit kamu Yos, dah sah jadi anak sini..” celetuk Mas S.
“Maksudnya..?”
“Lha, kamu kan tempo hari itu dah disambut sama drum band. Nah, sekarang kamu disambut mesra juga sama penjaga sini. Pake dicium juga ngga?”
“Haahh..?!?!”
(bersambung)

Kisah Misteri : SAMBUTAN MESRA


Kali ini saya akan berkisah flashback ke masa awal saya nge-kos, tahun 96, sebelum kejadian yang menimpa si Gogon yang saya ceritakan minggu lalu.

Malam itu, di bulan pertama semester awal kuliah, saya sedang berjibaku mengerjakan tugas kuliah yang pasti dialami semua mahasiswa Teknik yaitu menggambar teknik, dalam hal ini struktur bangunan sesuai jurusan yang saya ambil.
Sejak sore hari sepulang kuliah saya sibuk dengan pensil, Rotring, mistar dan kertas kalkir, mengejar deadline pengumpulan tugas dimana kalau terlambat dijamin akan diganjar nilai E alias tidak lulus mata kuliah tersebut.
Tak terasa jarum pendek jam beker di atas TV sudah bertengger melewati angka satu, obrolan rekan kos di selasar lantai dua diatas deretan kamar yang saya tempati di lantai dasar pun sudah tidak terdengar. Hanya musik dari radio ditingkahi suara jangkrik yang menemani perjuangan saya saat itu.
Ketika berhenti sebentar untuk menyalakan sebatang rokok, sayup-sayup telinga mendengar bunyi musik semacam drum band di kejauhan.
Drum band? Malem-malem gini? pikir saya heran.
Kemudian saya mengecilkan volume radio dan menajamkan telinga mencoba mencari asal suara tersebut, namun suara itu menghilang.
Ah, salah denger kali ya, batin saya sambil menghisap rokok dan beranjak membuka pintu kamar.
Keluar kamar, saya menengok ke kamar si Ahong yang persis bersebelahan dengan kamar saya.  Tampak gelap pertanda si empunya kamar sudah terlelap atau malah sedang tidak ada di kamar. Di seberang, terpisahkan oleh halaman dan kolam ikan, nampak teras rumah ibu kos yang tertutup rapat. Deretan kamar di sebelah kanan kamar saya juga tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan.
Suasana tengah malam yang sepi, sinar lampu selasar yang remang dan bangunan kos yang cukup tua, perpaduan yang membuat hati merasa kurang nyaman sendirian di luar kamar.
Buru-buru saya habiskan rokok dan kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan tugas yang terhenti.

Baru saja mulai menggambar, tiba-tiba kembali terdengar suara musik drum band itu, lebih jelas dari yang pertama, “Dung dung…Treteteett…Ting ting..” suara genderang, terompet dan perkusi yang biasa dimainkan drum band.
Mungkin ada yang latihan, benak saya.
Dan suara itu terdengar bergerak menjauh, kemudian menghilang.
Kali ini saya tidak beranjak dari meja gambar dan berkonsentrasi sampai tak terasa pagi pun tiba.

“Hong, kamu denger ngga semalem ada drum band?” tanya saya pada Ahong sore harinya sepulang kuliah.
“Drum band? Dimana?” dia balik bertanya sambil mengerutkan kening.
“Ngga tau, tapi suaranya kayanya ngga jauh”
“Emang jam berapa malemnya?”
“Jam-jam satuan gitu deh..”
“Wah, aku dah tidur dari habis makan. Ga denger”
“Kamu ngimpi kali..” sambungnya.
“Engga lah, lha lagi nggambar kok. Ada taruna AU latihan kali ya” jawab saya.

Karena masih penasaran, saya tanyakan ke Mas S saat malamnya membeli makan bersama,
“Mas, Mas S semalem denger ngga ada suara drum band?”
“Suara drum band? Kapan?” dia balik bertanya.
“Tengah malem kemaren mas. Jam satuan”
“Kamu yakin, ga salah denger?”
“Engga mas. Sampe dua kali kok. Tapi sebentar doang terus hilang suaranya.”
Dan dia terkekeh. Saya bingung apa artinya.
“Selamat yaa. Brarti kamu udah diterima di Jogja” tersenyum dia berkata.
“Eh, maksudnya?”
“Artinya kamu udah disambut..hehehe..” kembali dia terkekeh.
Saya makin bingung.
“Gini, boleh percaya boleh engga, katanya nih kalau pendatang baru masuk ke Jogja, suara musik seperti drum band yang kamu denger itu tanda kalau si pendatang diterima atau disambut di sini. Ada juga yang dengernya bukan suara drum band tapi suara gamelan, ada juga yang dengernya suara orang baris berbaris. Tapi kejadiannya rata-rata sama, tengah malam hampir dini hari gitu.” ia menjelaskan.
“Oh gitu, emang Mas S dulu ngalamin juga?” tanya saya sambil berpikir mencoba mencerna penjelasan tadi. 
“Iya, saya juga bukan asli sini. Saya ngalamin juga waktu pertama-tama disini. Coba aja kamu tanya mas-mas lain di kos, rata-rata pernah ngalamin juga. Ngga semua memang, tapi banyak yang gitu”
“Malah pernah saya dan Mas B nekat coba cari sumber suara itu. Waktu itu dah tengah malem, Mas C tau-tau lari ke kamar cerita dia denger suara drum band jelas banget, sementara saya sama Mas B engga denger apa-apa. Ya udah, kita bertiga penasaran nguber sumbernya dari mana” ia menambahkan.
“Terus ketemu mas?” tanya saya penasaran.
“Engga ada. Saya sama Mas B ngikutin Mas C nelusurin jalan J*nti depan itu sampe ngelewatin Amb*r*kmo, kata mas C suaranya jelas banget ngarah kesitu, tapi sepanjang jalan kita liat ngga ada rombongan atau orang yang main drum band. Yah, percaya ngga percaya deh.” jawabnya serius.
“Oh gitu…tapi ngga nyeremin kan mas?”
“Engga, anggep aja sambutan mesra dari Jogja. Buktinya saya dan mas-mas yang lain di kos aman-aman aja kan, betah banget malah di Jogja..mas B aja sampe delapan tahun belum lulus-lulus. Hahahaha…”
Waduh…
(End of Part 1)

Kisah Misteri : MALAM MINGGU MISTERI

Teringat kisah teman waktu SMA, saat ngapel ke rumah ceweknya.
Malam minggu tepat jam tujuh malam dia udah di depan gerbang rumah si cewek.
Nampak lampu teras dan dalam rumah terang menyala. Namun sepi.
Setelah membuka gerendel gerbang yang seperti biasa tidak digembok dia melangkah menuju pintu depan dan mengetuk.
Tok..tok
Tok..tok..Beberapa kali diketuknya pintu itu.

Lalu terlihat gorden di balik jendela samping pintu sedikit tersingkap, seseorang mengintip dari dalam.
Teman saya menggeser posisinya menghadap ke jendela, menyapa yang di dalam melalui bahasa tubuhnya.
Dan gorden tertutup kembali.
Teman saya pun lega, berharap pintu segera terbuka.
Dirapihkannya plastik pembungkus martabak yang dibawanya.
Namun...tunggu punya tunggu, pintu tidak kunjung terbuka. Dan tak terdengar suara apapun dari dalam.
Kembali ia berusaha mengetuk dan mengetuk kemudian duduk menunggu di kursi teras. Diulangnya beberapa kali, tanpa hasil.
Setelah setengah jam, dia pun menyerah. Lalu pulang dengan hati kesal.

Besok paginya, dia menelpon si cewek dari telepon umum.
Di seberang terdengar suara lembut pacarnya itu "Mas, maaf kemaren siang kakaknya Papa masuk rumah sakit, jadi sekeluarga ke Purw*kert*, nih baru balik rumah. Ngga sempet ngasihtau kamu Mas."
"Oh gitu, trus siapa yang ditinggal di rumah? Aku ketok-ketok ngga dibukain" jawabnya.
"Kosong mas. Semua ikut." kata si cewek dengan nada heran
"Lagian, gerbang kan digembok Mas, mana bisa Mas ngetok pintu? Emang lompat pager?" tambahnya.
Teman saya pun keselek martabak sisa semalam.

Kisah Misteri : RUMAH MASA KECILKU

Cerita ini tentang rumah masa kecil saya di kampung. Rumah itu, seperti tipikal rumah kampung di masa itu, sebagian dinding berupa dinding bata dan sebagiannya berdinding gedeg atau bilik bambu. Pada ruang depan terpasang berderet jendela kaca (kaca mati dan hidup) di sepanjang dindingnya, jika digambarkan pada denah berbentuk letter L. Lantainya masih berupa lantai semen, belum memakai tegel apalagi keramik.
Di belakang rumah terdapat tempat mencuci dimana sumber air adalah pompa “Dragon” yang juga melayani sumber air mandi, dan berbatasan dinding dengan kamar mandi (ada lubang di dinding untuk akses mengisi air ke bak mandi).
Di kanan rumah kami berderet beberapa rumah tetangga yang dibatasi jarak gang sekitar 2 meter-an, sedangkan di sisi kiri rumah ada kebun milik tetangga yang juga ditumbuhi pohon2 petai besar yang usianya sudah tua, konon jauh sebelum kampung kami ada.
Sisi belakang pagar rumah kami (hanya pagar bambu) adalah lahan kosong yang ditanami pohon pisang oleh warga dan setelah lahan itu adalah bagian belakang rumah tetangga yang memiliki sumur timba, dengan bunyi mencericitnya yang khas.
Persis di depan rumah kami, ada lapangan yang dipakai bersama dengan sekolah dasar yang berada di seberang kelompok rumah kami dan tetangga.
Bagaimana, apakah sudah terbayang kondisinya?
Nah, bayangkan kalau malam tiba...ditambah dengan tidak adanya lampu jalan atau lingkungan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu2 teras rumah yang hampir tidak berarti untuk menerangi sekitar.
Kami menempati rumah itu sejak saya balita, kalau kata teman saya (anak tetangga) rumah itu sudah beberapa waktu tidak berpenghuni, mungkin orang tua saya membelinya karena harganya murah.
Pemilik sebelumnya juga bertempat tinggal tidak jauh dari rumah kami itu, sepasang kakek nenek yang tampilannya cukup menyeramkan bagi saya yang masih balita. Kesukaan mereka duduk2 di teras rumah sambil "nginang" atau "nyirih". Saya lupa istilah dalam bahasa Indonesia untuk kegiatan mengunyah sirih dan meludahkannya ke tanah.
Suatu malam saya (kelas 1 SD) dan adik yang masih batita, karena suatu hal penting dan mendesak terpaksa ditinggal di rumah berdua oleh orangtua kami. Mereka pergi sekitar pukul 20-an dan berjanji akan kembali pukul 22.
Waktu itu kami ada ART, tapi dia tinggal tidak begitu jauh dari rumah kami sehingga sehari-hari tidak menginap.
Walaupun takut, namun sedari kecil saya telah dididik untuk mematuhi apapun perintah orangtua, terutama Papa yang kalau sudah marah besar tidak segan mendaratkan "maygeri"-nya (saya lupa tulisannya benar begitu atau tidak).
Kemudian setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, mereka pun pergi, saya dan adik pun masuk ke kamar untuk tidur.
Tempat tidur kami berupa ranjang kayu bertingkat dan terletak di dalam kamar utama. Biasanya saya tidur di ranjang atas dan adik di bawah, namun karena takut ditinggal berdua malam2 maka kami tidur berdua di ranjang bawah.
Suasana malam yang hening, ditingkahi suara jangkrik dan sesekali terdengar suara burung malam, semakin membuat kami berdua (terutama saya) meringkuk kedalam selimut hingga kepala kami pun ikut tersembunyi didalamnya. Dan kami pun terlelap.
Tiba2 terdengar suara lirih membangunkan saya dari tidur "Heeeehh...hheeehhh...ssstt...sssttt..."
"Ah, syukurlah Papa Mama pulang" batin saya lega.
Bangkit dan tengok kanan kiri, mencari asal suara tadi. Namun tdk ada Papa atau Mama di dalam kamar. Saya lihat pintu kamar pun masih tertutup.
"Ah, mungkin mimpi" dan kembali menarik selimut dan tidur.
"Heeeehhh...hheeehhh...sstttt...sssttt.." kembali suara itu terdengar. Kali ini lebih jelas daripada yang pertama.
Penasaran, perlahan saya bangkit dan turun dari ranjang. Melirik ke sebelah, adik masih tertidur lelap.
Setengah berjingkat, saya melangkah ke pintu kamar, memutar anak kunci dan membuka pintu berharap melihat orangtua kami.
Namun, yang terlihat hanya ruang tamu yang remang2, tanpa seorang pun disana. Sedikit melangkah ke arah kamar sebelah, kamar orangtua kami, gelap juga terlihat dari angin2 diatas pintu. Melirik ke jam dinding, menunjukkan hampir jam 22.30.
"Oh, mungkin mereka sudah di kamar" pikir saya kemudian.
Lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.
Sebelum naik ke ranjang, saya teringat sesuatu.
"Kalau mereka sudah pulang, motornya pasti ada di garasi" pikir saya.
Posisi garasi persis di sisi kamar kami tidur dan ada jendela kamar ada yang berbatasan dengan garasi tersebut, jendela kayu 2 daun dengan "louver" atau kisi2 di sebagian atas jendela tersebut (tipikal jendela masa itu).
Saya naik ke kursi dan mengintip di sela2 kisi2 tadi.
Nampak samar garasi dalam keadaan kosong, hanya diterangi bola lampu 10 watt.
"Waduh...berarti Papa Mama belum pulang."
Bulu kuduk langsung merinding ( dan saat saya mengetik cerita ini pun saya merinding, terkenang saat itu) dan tanpa ba bi bu langsung meringkuk di bawah selimut. Adik saya masih tetap tidur dengan tenang, tidak terganggu sama sekali.
Dan malam horor itu pun dimulai.
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki di luar kamar, seperti ada orang berjalan di ruang tamu.
"Duk duk duk" mondar mandir di depan kamar kami.
Saya tidak berani membuka mata dan tetap meringkuk di bawah selimut sambil menempelkan tubuh ke adik saya yang berada di sebelah tembok kamar. Bahkan mengintip pun tidak berani .
Kemudian suara langkah itu lenyap.
Baru saja saya hendak menarik nafas lega, tiba2 terdengar suara gorden ruang tamu digeser.."sreeekkk..sreekkk"
Persis suaranya seperti ada orang membuka atau menutup gorden.
Dan....suara itu muncul lagi...
"Hheeehhh...hheeeehhh..sssstttt....ssstttt..." jelas sekali terdengar dan kali ini berasal dari jendela yang berbatasan dengan garasi tadi.
Dan (mungkin) saya pingsan.

BAGIAN DUA
Keesokan paginya, saya ceritakan semua kejadian malam itu pada Mama, yang hanya disambut dengan senyuman meledek tanda tidak percaya pada cerita anaknya.
“Kamu mimpi kali ?! Ngga berdoa ya semalem? Makanya minpi buruk tuh”jawabnya bijak.
“Dah sana mandi, sekolah, dah siang” tambahnya cepat.
Waktu pun berlalu dan saya pun sudah melupakan kejadian aneh tersebut.
Lalu pada suatu senja, saya sedang bermain sepeda dengan teman2 di lapangan depan rumah. Seingat saya waktu itu sudah lewat waktu Maghrib. Kami berkejaran dengan mengendarai sepeda melewati gang2 diantara rumah. Suatu saat saya tidak bisa mengejar teman saya si Luki yang menghilang berbelok di gang sebelah rumah tetangga. Lalu saya menghentikan sepeda dan menanti di mulut gang itu.
Memandang kearah gang itu agak remang2, pergantian antara terang sore ke gelap malam. Anak2 lain masih kedengaran berlarian dan bermain di lapangan namun tak ada seorangpun yang terlihat di gang itu.
Kemudian saya melihat bayangan hitam di bawah pohon petai sekitar 20 meter jauhnya dari tempat saya berdiri. Seperti ada wanita muncul dari balik pohon dan kemudian diam berdiri.
“Siapa tuh? Kok ada yang berdiri di bawah pohon? Apa Mba Sari ya..?” benak saya bertanya menerka tetangga dekat rumah.
Saya diam mengamati, dan bayangan hitam itu tetap berdiri diam di tempatnya.
Tiba-tiba…
(dialog diterjemahkan dari bahasa Ngapak)
“Heeehh…ngapain kamu berdiri disitu?” tanya teman saya yang lain, Eno panggilannya.
“Eh kamu..ini nungguin si Luki, sepedaan ngilang di gang situ” sambil menunjuk kearah gang.
“No, itu siapa ya berdiri di bawah pohon petai?” sambung saya. Eno memalingkan wajah kearah jari saya menunjuk. Kemudian berbalik memandang saya lagi.
“Emang ada siapa di situ? Ngga ada apa2 kok?” jawabnya keheranan.
Saya kembali memicingkan mata kearah pohon itu. Dan sosok bayangan itu masih ada, masih berdiri diam.
“Itu lho No, itu…di bawah pohon itu..masa ngga liat sih?”
“Pohon yang mana sih? Yang paling gede itu kan? Apa sebelahnya? Ngga ada apa2..”
“Iya, yang gede itu. Coba liat tuh, ada orang berdiri disitu.” ngotot saya menjelaskan sambil terus menunjuk.
“Ngga ada kok…” jawabnya putus asa.
“Haa..masa sih kamu ngga liat..?!”
Dan kami berpandangan sejenak.
Lalu…..
“Huuaaa…lariiiiiiiii…..” teriak kami bersamaan sambil memacu sepeda kearah lapangan.
Dengan ketakutan, kami ceritakan kejadian tadi pada teman2 yang masih ada di lapangan. Kemudian beramai2 kami kembali ke tempat tadi.
Dan sosok tadi sudah menghilang.
“Aah, bisa2nya si Yossi nih. Ngerjain si Eno kamu ya..?” kata teman yang lain.
“Engga, beneran kok. Tadi ada bayangan disitu” jawab saya
“Ya udah, bubar yuuk. Mungkin Yossi beneran ngeliat tuh..” kata teman yang lain lagi.
Dan kami pun bubar pulang ke rumah masing2.
Selang beberapa hari kemudian, saat itu sore hari. Saya, adik saya dan ART kami Mba I sedang bermain2 di dapur, mengasuh adik saya. Orang tua kami belum pulang dari kantor, jadi di rumah saat itu hanya kami bertiga.
Saat sedang asyik mengasuh adik saya, tiba2 “sreeeekkk…sreeeekkk…sreekkk” terdengar jelas suara gorden di ruang tamu digeser2.
Mba I dan saya berpandangan, bertanya2 siapa yang masuk ke rumah dan menggeser gorden, padahal pintu depan terkunci dan akses masuk hanya dari dapur tempat kami bertiga sedang berkumpul.
Mba I langsung berjalan menuju ruang tamu, diikuti saya dan adik saya. Sampai di ruang tamu, tampak jelas gorden masih terbuka, tidak berubah dari posisi semula.
“Siapa Mba yang mainan gorden?” tanya saya.
“Ah ngga ada, mungkin tadi ada cicak lewat” jawabnya. Namun raut mukanya menunjukkan sedikit kecemasan, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari saya.

BAGIAN TIGA - HABIS
Malam itu hujan turun deras disertai badai yang cukup hebat. Petir tak mau kalah turut menyambar dengan bunyi menggelegar yang mengikutinya.
Para warga kampung terpaksa meringkuk berlindung di dalam rumah masing-masing, walaupun ada beberapa juga yang harus berjibaku dengan ember dan kain pel karena atap rumahnya tak kuasa menahan derasnya hujan.
Aliran listrik pun turut serta tidak mau berkompromi dengan warga kampung itu. Akhirnya cahaya lilin dan lampu teplok memberikan sedikit kecerahan untuk mereka.
Di satu rumah, L, anak lelaki berusia sepuluh tahun, mengintip keluar dari balik kaca jendela kamarnya. Yang ia lihat hanya derai air hujan yang melumuri kaca dan kegelapan di luar. Kembali ditutupnya tirai jendela dan direbahkannya tubuh ke tempat tidur dimana adiknya, C telah terlebih dahulu terlelap.
Sementara di luar kamarnya, di ruang tamu merangkap ruang keluarga, Pak H dan Ibu L, orangtua A, sedang duduk mengobrol bersama dengan Kakek O.
Dengan hanya diterangi cahaya dua lampu teplok di meja tengah dan ujung ruangan, Pak H duduk bersandar membelakangi jendela ruang tamu berhadapan dengan istrinya dan mertuanya. Derasnya hujan dan gelegar petir yang sambar menyambar seperti tidak mengganggu asyiknya obrolan mereka. Mungkin membahas topik demi topik yang hangat pada masa itu.
Seiring obrolan mereka, tanpa terasa jarum jam hampir menunjuk waktu pukul sepuluh malam. Mungkin terbuai hawa dingin yang menerpa karena hujan yang tak kunjung reda, Kakek O hampir tertidur bersandar di kursinya demikian juga Pak H. Ibu L melirik mereka, kemudian berpindah ke gelas-gelas kopi di meja yang tinggal menyisakan ampas kopi.
“Pak, kopinya mau tambah lagi?” tanyanya pada Pak H.
“Iya Bu, boleh deh tambah lagi. Tanggung ngobrolnya belum selesai.” jawab Pak H yang diamini oleh Kakek O.
Ibu L bangkit dari duduk, mengambil lampu teplok di meja sampingnya dan berjalan menuju ke dapur di belakang untuk kembali menyeduh kopi.
Tiba-tiba, petir kembali menyambar dengan suara yang sangat kencang hingga lantai rumah pun bergetar. Ibu L terkejut bukan main, hampir saja ia menumpahkan air panas dalam termos yang baru saja dibuka. Untung ia bisa mengendalikan diri dan kembali meneruskan seduhan kopi untuk suami dan ayahnya.
Di saat yang sama, Kakek O hampir terlempar keatas dari kursinya. Petir tadi seakan begitu dekat dengan mereka. Diliriknya ke seberang, samar terlihat Pak H masih bersandar memejamkan mata.
“Wah, ini orang, petir segitu kencang ngga kebangun” batinnya.
Beberapa saat kemudian, Ibu L muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi 2 gelas kopi panas.
“Ini Pak, Mbah, kopinya.” ucapnya sambil meletakkan gelas di meja. Kakek O mengangguk ke putrinya tersebut dan menggeser tubuh ke depan untuk mengambil segelas kopi yang telah terhidang itu.
“Han,…ini lho kopinya. Tadi katanya mau nambah.” ucapnya sebelum menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap tersebut.
“Iya nih, Pak, kopinya diminum, nanti dingin ngga enak” tambah Ibu L.
Pak H tidak bergeming, masih tetap duduk bersandar dengan mata terpejam. Ibu L berjalan mendekati Pak H dan menepuk-nepuk tangan suaminya itu. Dan tidak ada reaksi apapun.
Mereka terkesiap, Kakek O spontan bangkit dari duduknya dan mereka berdua mengguncang-guncang tubuh Pak H, berharap ia bangun dari tidurnya.
“Pak..paaakk…bangun paaak..” Ibu L setengah berteriak diterpa kepanikan.
“Han..Haaan…bangun..” Kakek O ikut panik.
Dan Pak H tetap tidak bergerak. Terlihat dadanya diam, tidak bergerak naik turun seperti normalnya paru-paru mengambil udara.
Kakek O tanpa pikir panjang langsung membuka pintu depan dan berlari menembus hujan ke rumah Pak A, tetangga terdekat yang hanya dipisahkan halaman samping.
“Tok..tok..tok..” diketuknya berkali-kali dengan keras pintu tetangganya itu.
Pintu terbuka sedikit, nampak Pak A dengan sarung melingkari tubuhnya disela pintu yang terbuka itu. Ia terkejut melihat Kakek O basah kuyup di depan pintu rumah.
“Lho, si Mbah. Saya pikir siapa..” serunya sambil membuka lebar pintu dan mempersilahkan masuk tamunya.
“Tolong nak A..tolong si H..toloong..” Kakek O berseru sambil menarik tangan Pak A menuju rumah Pak H.
Pak A menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan tanpa pikir panjang ikut berlari menembus hujan.
Sesampainya di dalam rumah Pak H, terlihat Ibu L sedang menangis sambil memeluk tubuh Pak H yang masih terduduk diam di posisinya, kemudian Ibu L jatuh pingsan di pelukan ayahnya.
Pak A segera mencoba membantu, diperiksanya nafas kemudian dirabanya nadi Pak H, dan memang tidak ada tanda kehidupan saat itu, namun ia sadar ia bukan dokter yang dapat memvonis seseorang telah meninggal atau masih hidup.
Singkat cerita, setelah diberitahu oleh Pak A, para tetangga terdekat rumah segera berdatangan di tengah derasnya hujan. Salah satu dari mereka memiliki telepon di rumahnya dan atas kesepakatan warga saat itu, ia menghubungi Rumah Sakit untuk meminta pertolongan.
Tidak berapa lama kemudian, terdengar sirene ambulans di jalan yang menuju ke lapangan depan rumah Pak H. Para tetangga bergegas melihat ke depan rumah.
Namun, saat mobil ambulans berbelok ke lapangan itu, terdengar raungan mesinnya seperti sedang mengerahkan tenaga untuk melewati tanjakan. Raungan mesin terdengar berulang-ulang tanpa disertai gerakan mobil ambulans tersebut. Ambulans itu terdiam di posisinya. Petugas medis lalu turun dari ambulans dan berjalan menuju rumah Pak H untuk memeriksa kondisinya.
Beberapa tetangga mencoba mendekati ambulans tersebut untuk mencaritahu kendala yang terjadi. Dan si sopir berkata bahwa mobil seperti tertahan sesuatu, mungkin ada batu besar yang menghalangi dan tidak terlihat didalam genangan air hujan. Spontan mereka mencoba meraba mengais di depan keempat ban mobil itu untuk menyingkirkan halangan tersebut, dan mereka tidak menemukan apapun.
Lalu seseorang memberi komando untuk bersama-sama mendorong ambulans.
“Satu..dua..tigaaa…” dengan aba-aba itu mereka bersama-sama mendorong dan mendorong, si sopir pun menginjak gasnya. Berkali-kali upaya itu dicoba dan gagal. Seperti ada halangan yang tak terlihat di depan.
Di saat yang sama, saat petugas medis sedang memeriksa kondisi Pak H, ada seorang tetangga yang memiliki “kelebihan” ikut membantu di rumah itu.
Melihat keganjilan yang terjadi, ia mengajak tetangga yang ada di rumah itu untuk bersama memanjatkan doa supaya ambulans itu dapat sampai di depan rumah.
Singkat cerita, “halangan” tersebut pun terlampaui dan mobil ambulans dapat menuju ke lokasi yang diharapkan. Dan sesuai pemeriksaan petugas, Pak H sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Yang mengejutkan, ada luka seperti terbakar di belakang kepalanya, konon kata seorang tetangga yang ikut menyaksikan jenasahnya, mungkin karena tersambar petir.
Kisah di atas (BAGIAN TIGA – HABIS) terjadi di rumah masa kecil saya bertahun-tahun sebelum kami menempati rumah itu, namun saya sedikit memodifikasi dari kisah sebenarnya yang saya dengar dari ART kami dan beberapa tetangga rumah saya.
Semoga “Pak H” dapat beristirahat dengan tenang. Amin.
Dan foto yang saya pajang adalah foto saya dan adik di ruang tamu pada rumah tersebut.
Ohya, tidak semua hal dapat saya ceritakan karena satu dan lain hal. Mungkin di waktu mendatang akan saya ceritakan kejadian aneh lainnya yang saya alami di masa itu.
Demikianlah pemirsa, kisah Rumah Masa Kecil ini saya akhiri sampai disini.

Jumat, 04 Mei 2018

Kisah Misteri : TELEPON TENGAH MALAM


Bagian 1
Telepon Tengah Malam


Jogja, menjelang akhir 90-an.
Aku sebenarnya ragu dengan rumah kos ini, biarpun besar dan dekat dengan kampus.
Kesan pertama, muram dan kurang terawat.
Mungkin karena pohon besar itu, yang meninggalkan daun-daunnya berserakan di halaman bangunan yang luas. Lapisan cat berwarna krem pada sebagian dinding bangunan telah berlumut, sebagian lagi mengelupas. Angka empat pada penanda nomor rumah di pilar pintu gerbang terhuyung miring.
Tapi apa daya, bisnis Papa mengalami kesulitan sejak enam bulan lalu membuatku kini harus meninggalkan nyamannya kamar mewah di asrama putri yang sebelumnya kutempati. Mama sudah tak sanggup meneruskan membayar sewanya. Bahkan, aku masih cukup beruntung tetap bisa meneruskan kuliah. Dengan berhemat sana sini tentunya.
Dan sampailah aku disini.

"Cari siapa, Mbak?"
Seorang nenek tua tiba-tiba menyapa mengejutkanku. Perawakannya pendek dan gempal, dengan rambut beruban yang digelung. Sinar matanya teduh bersahabat. Mengingatkanku pada Mbok Dar, pembantu di rumah yang sudah ikut keluarga kami sejak Papa masih remaja.

"Mbak, cari sia-?"
Aku tergagap menjawab, "Ma-maaf, Bu. Apa betul ini kos-kosan Bu Santi?"
"Iya. Betul, Mbak. Ada apa ya?" jawabnya sopan lalu terbungkuk-bungkuk membuka kunci gerbang.
"Saya anak temannya Bu Santi. Kemaren ibu saya sudah nelpon kalau saya mau kesini"
"Oh. Ayo mari masuk, Mbak. Kebetulan Bu Santi ada"
"Mbak, siapa namanya? Biar Mbok kasih tau ke Ibu." lanjutnya setelah mengunci gerbang kembali.

"Saya Feli, kalau Nenek..?" kuulurkan tangan hendak menjabatnya. Dia menatap tanganku, kemudian beralih ke wajahku. Sekilas kulihat keraguan di dirinya.
"Eh. Maaf, Mbak. Tangan Mbok Jum kotor. Ayo, mari Mbok antar ke dalam". Dia menampik halus jabatan tanganku.
Kusampirkan tasku di bahu, melangkah memasuki halaman mengikuti Mbok Jum melewati pohon besar tadi. Beberapa helai daun kering berjatuhan di rambut dan bajuku.

Dan dari dekat, penampilan rumah ini semakin membuatku ragu. Bangunan rumah dua lantai bergaya klasik, atau mungkin memang sudah berumur. Balkon besar di lantai dua menjorok ke depan ditopang dua pilar dengan profil garis-garis vertikal diakhiri lengkungan melingkar di ujungnya, bewarna kusam.
Di lantai dasar, jendela kaca besar berornamen mengapit pintu depan berdaun ganda yang tak kalah besarnya. Langit-langit teras terkelupas dan berlubang di beberapa tempat, tanda tak terawat.
Mama kok punya temen yang rumahnya serem gini ya?

Mbok Jum membuka salah satu daun pintu depan dan mempersilahkanku masuk "Silahkan, Mbak"
Wooww...gilaa..
Berbeda sekali dengan kondisi bagian luar rumah, di dalam tampak bersih dan cukup mewah. Lantai terasso berwarna krem kekuningan mendominasi luas ruangan yang menurutku ruang utama, ditambah perpaduan meja besar dan kursi kayu dengan guci-guci berukuran setinggi pinggang, menghilangkan kesan burukku tadi.
Ada satu benda yang membuatku tertegun, jam lonceng besar di sudut ruangan, mirip seperti di rumah Opa.

"Ada siapa, Mbok?" suara seorang wanita setengah baya mengejutkanku, diikuti langkahnya menuruni tangga  oval di sisi ruangan utama.
"Ini, Bu. Yang kemaren Ibu pesen mau ada tamu yang dateng" jawab Mbok Jum.
Wanita itu merapihkan kimono tidurnya, melihatku dan tersenyum. Dia menatapku beberapa saat, membuatku salah tingkah.
"Kamu Feli ya..? Inget nggak sama Tante?" Ia melangkah menjabat tanganku erat.
"Eh..iya, Tante. Saya Feli"
"Dulu sekali, kamu pernah kesini sama Mama Papamu. Waktu kamu masih kecil. Masa nggak inget?"

Kucoba mengingat-ingat, tapi tak menemukan sedikit pun memori itu. "Mmm..maaf, Tante. Aku nggak inget" jawabku kemudian.
Dia kembali tersenyum. Digamitnya lenganku dan menyeretku duduk di sofa.
 "Ya udah, nggak papa. Gimana Mamamu, sehat?"
"Sehat, Tante"
"Kalau Papa?"
"Baik juga"
"Syukurlah semua baik. Papa masih usaha kontraktor?" lanjutnya.
"Mmm..masih, Tante. Tapi kantornya udah tutup, sekarang Papa ngantor di rumah" jawabku muram.

Kekacauan politik dan tragedi bulan Mei lalu benar-benar memukul usaha yang telah dirintis Papa sejak muda. Satu demi satu asetnya harus dijual untuk menutupi kerugian beberapa proyeknya yang ikut terkena imbas kerusuhan.
Bagaimana tidak, para pemilik perusahaan klien Papa banyak yang lari keluar negeri bahkan ada yang menjadi korban kerusuhan, sedangkan upah tukang dan hutang Bank tetap harus dilunasi.
Dia menghela nafas sejenak, mungkin tahu kekurangnyamananku menjawab. Aku yakin Mama juga sudah menceritakan keadaan kami kepadanya.

# # #

Tak terasa satu minggu sudah aku tinggal di sini.
Tak kusangka, di dalam rumah ini ada sepuluh kamar yang dikoskan, terletak di belakang bangunan rumah utama terpisahkan oleh dapur. Dan semua kamar kosnya terisi penuh. Karena pertemanannya dengan Mama, Tante Santi memberikan potongan harga khusus buatku untuk tinggal di kos itu.
Beruntungnya lagi, kamar yang kutempati terletak paling dekat dengan dapur atau bangunan utama. Penghuni kamar sebelah, berurutan ke kanan, Lia, Devi, Mita dan Maria. Sedangkan di deretan seberang, ada Fay dan Rita yang kukenal, tiga lainnya jarang pulang ke kos.

Dari kesemuanya, Lia dan Fay yang paling akrab denganku karena kami sepantaran. Mereka yang membantuku merapikan barang-barang di kamar saat hari pindahan, sehari setelah kedatanganku pertama kali di rumah Tante Santi ini.
Melalui cerita mereka, kutahu Tante Santi tinggal dan mengelola kos ini dibantu Mbok Jum yang sudah lama bekerja padanya. Untuk urusan mencuci pakaian, ada tukang cuci yang setiap hari datang pagi dan pulang setelah lewat tengah hari.
"Tante Santi tuh udah lama ditinggal mati suaminya, anaknya ada dua. Sudah berkeluarga semua, tinggal di Surabaya dan Medan" cerita Lia suatu saat.
"Tapi dia udah tenang hidupnya, warisan suaminya banyak. Makanya dia bisa punya banyak kos-kosan. Ada empat lagi selain di sini, belum lagi ruko yang dikontrakin"

"Wah, hebat ya" jawabku.
"Memangnya Mama kamu nggak pernah cerita tentang Tante Santi?" Fay ikut nimbrung.
"Enggak tuh, Mama cuma bilang ada temen Mama yang punya kos-kosan" jawabku, tak ingin mereka bertanya lebih jauh hubungan Mama dengan Tante Santi, apalagi alasanku sebenarnya pindah kesini.
"Pokoknya kamu bakal betah deh disini. Tante orangnya nggak bawel, yang penting jam sepuluh malem udah nggak boleh ada tamu. Jam sebelas kalau malem minggu" lanjut Fay.
"Iya, Fel, ini aja kita dikasih duplikat kunci gerbang sama pintu depan kan. Biar kalau kita pulang pacaran kemaleman masih bisa masuk, kaya si Fay tuh. Iya kan, Fay. Hahahaha...". Lia tertawa terbahak-bahak.
"Enak aja. Kamu tuh yang suka nyelundupin Mas-mu ke kamar" tangkis Fay bengis.

Bantal melayang ke mukanya dilanjutkan gulingku yang innocent jadi korban lemparan. "Sssstt...Gila Lu ya. Ngomong pake Toa sekalian". Lia sewot.
Sakit nih bocah berdua.

"Oh ya, ada satu yang perlu kamu tau. Kamu liat di meja deket pintu dapur ada telepon kan? Nah, udah jadi tugas yang kamarnya terdekat yang menjawab kalo ada telepon.". Lia dan Fay tersenyum penuh arti.
"Lho, emang ada aturan gitu ya?"
"Ada, dong. Apalagi kamu anak baru. Hihihi.."
"Nggak gitu juga, sih. Maksudnya kalau telepon bunyi, kamarmu kan paling deket, jadi paling keberisikan. Mau nggak mau kamu mesti angkat" jelas Fay lagi.
Aku hanya bisa manggut-manggut pasrah.

# # #

Malam itu.

Kriing...
Kriiing...
Kriing…

Aku hampir terjatuh dari kasurku, saking kencangnya bunyi telepon itu. Kulirik jam di dinding.
Busyet, jam duabelas, siapa sih malem malem gini telpon..?

Kriing...
Kriiing...
Kriing…

Kututup kepalaku memakai bantal, berharap Lia atau Fay atau siapa saja anak kos yang lain mau mengangkat telepon itu. Setelah beberapa deringan, kemudian  hening.
Fiuuuhhh...bobo lagi, aah.

Belum sempat menarik selimut untuk meneruskan tidur,

Kriing...
Kriiing…
Kriing…

Damn! Bunyi lagi…

 Dengan malas-malasan aku turun dari kasur, membuka kunci pintu dan melangkah keluar kamar.

Suasana sepi sekali diluar.
Kriing…

Langsung kuangkat telepon itu.
"Halo..."
Hanya hening yang terdengar.


To be continue.....