Sejak kejadian malam
itu, dimana kamar saya kedatangan “tamu tak diundang”, saya agak was-was
alias takut kalau sendirian di kamar. Pikiran waktu itu, kamar saya kan
ukurannya imut-imut, sekali koprol dijamin kepala mencium tembok, kalau
ada “tamu” tiba-tiba nongol lagi pasti langsung berhadapan muka dengan
saya. Hiii…
Solusinya, pintu kamar tidak pernah saya kunci supaya mudah melarikan diri. Kemudian lampu selalu menyala terang kalau malam bahkan saat tidur. Gantungan baju di pintu pun tidak saya fungsikan untuk menggantung baju atau celana, hanya ikat pinggang dan tas. Semi paranoid bukan? Hehe..
Belum lagi, diperparah kejadian yang menimpa si Gogon yang pernah saya ceritakan sebelumnya.
Tapi anehnya, tidak pernah terpikir untuk pindah atau mencari tempat kos lain. Mungkin utamanya sih faktor U, karena harga sewanya paling murah diantara tempat kos lain yang selokasi strategis dan dekat dengan kampus.
Solusinya, pintu kamar tidak pernah saya kunci supaya mudah melarikan diri. Kemudian lampu selalu menyala terang kalau malam bahkan saat tidur. Gantungan baju di pintu pun tidak saya fungsikan untuk menggantung baju atau celana, hanya ikat pinggang dan tas. Semi paranoid bukan? Hehe..
Belum lagi, diperparah kejadian yang menimpa si Gogon yang pernah saya ceritakan sebelumnya.
Tapi anehnya, tidak pernah terpikir untuk pindah atau mencari tempat kos lain. Mungkin utamanya sih faktor U, karena harga sewanya paling murah diantara tempat kos lain yang selokasi strategis dan dekat dengan kampus.
Seiring dengan kesibukan
di kampus dan juga tidak ada kejadian lanjutan di tempat kos kami, saya
pun tidak atau tidak sempat memikirkan lagi kejadian tersebut.
Sampai beberapa waktu kemudian…
Seharian itu saya
berpanas-panas dan berdebu mengikuti praktikum pengukuran di lapangan,
karena dalam tim saya hanya saya yang laki-laki, dua lainnya perempuan,
maka saya kebagian tugas memegang bak ukur dimana lokasi tempat
pengukuran tersebut berupa padang rumput yang konturnya agak berbukit
dan masih banyak pohon besar. Dulu tempat itu biasa menjadi tempat
perkemahan atau latihan pecinta alam.
Dua rekan saya, si Vi mengoperasikan alat ukur theodolith dan si Ar mencatat hasil yang terbaca pada theodolith tersebut, sedangkan saya mesti menembus rumput yang kadang tingginya sedada untuk memegang bak ukur agar dapat terbaca oleh si Vi. Bahkan di beberapa titik saya tidak terlihat oleh si Vi, tenggelam di bawah gundukan tanah atau rerumputan, hanya bak ukur yang saya pegang nampak menjulur.
Selain tim kami, ada dua tim lain yang juga melakukan pengukuran di tempat yang sama tapi agak berjauhan lokasi yang diukur.
Menjelang sore, sampailah saya di sebuah bangunan semacam ruang pertemuan di tengah padang rumput itu. Selintas saya menengok kedalam melalui jendela kaca berdebu yang berderet keliling bangunan, nampak kosong dan terkunci, di dalam hanya terlihat kursi dan meja kayu yang ditumpuk di salah satu sisi. Suasana sepi membuat perasaan menjadi kurang enak, buru-buru saya beranjak menjauh ke halaman bangunan itu.
Dua rekan saya, si Vi mengoperasikan alat ukur theodolith dan si Ar mencatat hasil yang terbaca pada theodolith tersebut, sedangkan saya mesti menembus rumput yang kadang tingginya sedada untuk memegang bak ukur agar dapat terbaca oleh si Vi. Bahkan di beberapa titik saya tidak terlihat oleh si Vi, tenggelam di bawah gundukan tanah atau rerumputan, hanya bak ukur yang saya pegang nampak menjulur.
Selain tim kami, ada dua tim lain yang juga melakukan pengukuran di tempat yang sama tapi agak berjauhan lokasi yang diukur.
Menjelang sore, sampailah saya di sebuah bangunan semacam ruang pertemuan di tengah padang rumput itu. Selintas saya menengok kedalam melalui jendela kaca berdebu yang berderet keliling bangunan, nampak kosong dan terkunci, di dalam hanya terlihat kursi dan meja kayu yang ditumpuk di salah satu sisi. Suasana sepi membuat perasaan menjadi kurang enak, buru-buru saya beranjak menjauh ke halaman bangunan itu.
“Yooss..!! Yooss..!! Kamu dimana?” terdengar teriakan si Vi dan si Ar beberapa kali.
Saya melambaikan bak ukur yang saya pegang, memberikan tanda pada mereka di kejauhan, yang tidak terlihat juga oleh saya tertutup rimbunnya rumput.
“Pindahin alatnya dong. Udah susah nih ngga keliatan” teriak saya membalas.
Saya melambaikan bak ukur yang saya pegang, memberikan tanda pada mereka di kejauhan, yang tidak terlihat juga oleh saya tertutup rimbunnya rumput.
“Pindahin alatnya dong. Udah susah nih ngga keliatan” teriak saya membalas.
Tiba-tiba ada suara
orang berjalan di belakang saya, dari arah halaman bangunan tadi.
Spontan saya menengok. Sekitar dua puluh meter dari tempat saya berdiri
terlihat seorang pria berdiri di samping bangunan, di dekat pohon besar
yang tadi saya lewati juga. Ternyata si To, rekan sekelas yang bergabung
di tim lain, sedang berdiri menghadap ke samping.
Oh, si To, kok dia ikut ngukur di sini? Bentrok dong ntar, saya membatin.
Tapi niat untuk menyapa si To saya urungkan mengingat masih banyak titik yang harus diukur tim kami, dan saya berlalu dari tempat itu.
Oh, si To, kok dia ikut ngukur di sini? Bentrok dong ntar, saya membatin.
Tapi niat untuk menyapa si To saya urungkan mengingat masih banyak titik yang harus diukur tim kami, dan saya berlalu dari tempat itu.
Akhirnya menjelang senja
selesailah tugas pengukuran kami dan kami bertiga bergegas ke gerbang
utama, titik kumpul awal dimana tadi pagi seluruh tim diberikan briefing
oleh Asisten Dosen yang mengawasi tugas pengukuran itu.
Saat tiba disitu, sudah ada dua tim lainnya, dan saya lihat si To sedang merapikan alat-alat pengukuran timnya. Langsung saya menyapa dia.
“Eh To, wis suwi rampung?”
“Eh kowe Yos, sepuluh menitan lah” jawabnya.
“Kowe ngopo mau kok neng mburiku?”
“Mburimu? Mburi ngendi?” dia balik bertanya.
“Lha, kowe kan mau ngadeg neng sampinge gedung sing mau kae lho, neng wilayahku. Wis meh ta celuk mau, tapi kowe ketoke lagi ndelok opo ngono, yo wis ra sido”
Dan dia memandang bingung.
“Gedung sing endi? Aku ora ndelok ono gedung malah” masih dengan ekspresi bingung.
“Aku ket mau iki nyekel teodolith, ora mlaku-mlaku, sing nyekel bak ukur si R kae” tambahnya.
“Halah, ora ndagel lho kowe, jelas aku ndelok kowe kok ngadeg mburiku”
“Kandani ra percoyo, jal takono si R kae” sambil memanggil si R.
Dan dari penjelasan si R, benar bahwa selama pengukuran itu si R lah yang seperti saya beredar memegang bak ukur. Dan si To sepanjang hari mengoperasikan teodolith.
“Lha, terus kae mau sopo?” tanya saya.
“Ngelindur mungkin kowe. Hahaha” balas mereka tertawa.
Iya kali, salah liat, kepanasan soalnya, batin saya menghibur diri.
Dan akhirnya kami pun beranjak pulang ke tempat masing-masing.
Dan akhirnya kami pun beranjak pulang ke tempat masing-masing.
Sampai di kos sudah
hampir jam sembilan malam, setelah melemparkan tas ke kamar sambil
langsung meraih gayung yang berisi peralatan mandi, kemudian berlari ke
kamar mandi yang terletak di sudut belakang kos. Saya masuk ke kamar
mandi sebelah kiri, favorit saya, yang lebih lancar aliran air kerannya.
Baru saja hendak menyiramkan air ke badan, tiba tiba..
Baru saja hendak menyiramkan air ke badan, tiba tiba..
Dueeng !!
Terdengar suara kencang dari kamar mandi sebelah. Suara keras dari daun pintu kayu berlapis seng yang beradu dengan kusen kamar mandi saat ditutup dengan tergesa-gesa.
Siapa sih nutup pintu kenceng amat? Ngga bisa dibuka tau rasa, gerutu saya.
Selesai mandi yang singkat, tidak sampai lima menit, sambil mengeringkan badan dengan handuk saya tajamkan telinga ke arah kamar mandi sebelah.
Kok dari tadi gak ada suara jebar jebur? Oh, paling lagi pup, batin saya.
Terdengar suara kencang dari kamar mandi sebelah. Suara keras dari daun pintu kayu berlapis seng yang beradu dengan kusen kamar mandi saat ditutup dengan tergesa-gesa.
Siapa sih nutup pintu kenceng amat? Ngga bisa dibuka tau rasa, gerutu saya.
Selesai mandi yang singkat, tidak sampai lima menit, sambil mengeringkan badan dengan handuk saya tajamkan telinga ke arah kamar mandi sebelah.
Kok dari tadi gak ada suara jebar jebur? Oh, paling lagi pup, batin saya.
Begitu keluar kamar
mandi, saya tengok kamar mandi sebelah itu, ternyata pintu dalam kondisi
masih terbuka sama seperti saat sebelum saya mandi.
Dan…lantainya dalam keadaan kering sama sekali.
Langsung merinding seketika.
Dan…lantainya dalam keadaan kering sama sekali.
Langsung merinding seketika.
Setengah berlari, masih
dengan setengah telanjang hanya tertutup handuk dari pinggang kebawah,
saya bertanya pada si D yang saat itu sedang duduk merokok di depan
kamarnya, sebelum lorong menuju kamar mandi.
“D, kamu liat ngga siapa yang barusan make kamar mandi?”
“Ya kamu yang mandi kan?” jawabnya
“Bukan, maksudnya ada yang lain ngga?”
“Engga ada sih, emang kenapa?”
“Aku barusan mandi, terus ada yang masuk di sebelah, nutup pintunya kenceng banget lagi” jelas saya cepat.
“Lha, bukannya kamu tadi yang nutup pintu kenceng banget?” dia balik bertanya.
“D, kamu liat ngga siapa yang barusan make kamar mandi?”
“Ya kamu yang mandi kan?” jawabnya
“Bukan, maksudnya ada yang lain ngga?”
“Engga ada sih, emang kenapa?”
“Aku barusan mandi, terus ada yang masuk di sebelah, nutup pintunya kenceng banget lagi” jelas saya cepat.
“Lha, bukannya kamu tadi yang nutup pintu kenceng banget?” dia balik bertanya.
Dueeng !!
Kembali suara itu terdengar lagi….
Kembali suara itu terdengar lagi….
Kami berdua berpandangan sejenak, kemudian buru-buru lari…
Tragisnya, ikatan handuk tidak berkompromi…
Tragisnya, ikatan handuk tidak berkompromi…
Setaaaannnn…!!!!
#bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar