Cerita ini tentang rumah
masa kecil saya di kampung. Rumah itu, seperti tipikal rumah kampung di
masa itu, sebagian dinding berupa dinding bata dan sebagiannya
berdinding gedeg atau bilik bambu. Pada ruang depan terpasang berderet
jendela kaca (kaca mati dan hidup) di sepanjang dindingnya, jika
digambarkan pada denah berbentuk letter L. Lantainya masih berupa lantai
semen, belum memakai tegel apalagi keramik.
Di belakang rumah
terdapat tempat mencuci dimana sumber air adalah pompa “Dragon” yang
juga melayani sumber air mandi, dan berbatasan dinding dengan kamar
mandi (ada lubang di dinding untuk akses mengisi air ke bak mandi).
Di kanan rumah kami berderet beberapa rumah tetangga yang dibatasi jarak gang sekitar 2 meter-an, sedangkan di sisi kiri rumah ada kebun milik tetangga yang juga ditumbuhi pohon2 petai besar yang usianya sudah tua, konon jauh sebelum kampung kami ada.
Sisi belakang pagar rumah kami (hanya pagar bambu) adalah lahan kosong yang ditanami pohon pisang oleh warga dan setelah lahan itu adalah bagian belakang rumah tetangga yang memiliki sumur timba, dengan bunyi mencericitnya yang khas.
Persis di depan rumah kami, ada lapangan yang dipakai bersama dengan sekolah dasar yang berada di seberang kelompok rumah kami dan tetangga.
Di kanan rumah kami berderet beberapa rumah tetangga yang dibatasi jarak gang sekitar 2 meter-an, sedangkan di sisi kiri rumah ada kebun milik tetangga yang juga ditumbuhi pohon2 petai besar yang usianya sudah tua, konon jauh sebelum kampung kami ada.
Sisi belakang pagar rumah kami (hanya pagar bambu) adalah lahan kosong yang ditanami pohon pisang oleh warga dan setelah lahan itu adalah bagian belakang rumah tetangga yang memiliki sumur timba, dengan bunyi mencericitnya yang khas.
Persis di depan rumah kami, ada lapangan yang dipakai bersama dengan sekolah dasar yang berada di seberang kelompok rumah kami dan tetangga.
Bagaimana, apakah sudah terbayang kondisinya?
Nah, bayangkan kalau malam tiba...ditambah dengan tidak adanya lampu jalan atau lingkungan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu2 teras rumah yang hampir tidak berarti untuk menerangi sekitar.
Kami menempati rumah itu sejak saya balita, kalau kata teman saya (anak tetangga) rumah itu sudah beberapa waktu tidak berpenghuni, mungkin orang tua saya membelinya karena harganya murah.
Pemilik sebelumnya juga bertempat tinggal tidak jauh dari rumah kami itu, sepasang kakek nenek yang tampilannya cukup menyeramkan bagi saya yang masih balita. Kesukaan mereka duduk2 di teras rumah sambil "nginang" atau "nyirih". Saya lupa istilah dalam bahasa Indonesia untuk kegiatan mengunyah sirih dan meludahkannya ke tanah.
Nah, bayangkan kalau malam tiba...ditambah dengan tidak adanya lampu jalan atau lingkungan. Sumber cahaya hanya berasal dari lampu2 teras rumah yang hampir tidak berarti untuk menerangi sekitar.
Kami menempati rumah itu sejak saya balita, kalau kata teman saya (anak tetangga) rumah itu sudah beberapa waktu tidak berpenghuni, mungkin orang tua saya membelinya karena harganya murah.
Pemilik sebelumnya juga bertempat tinggal tidak jauh dari rumah kami itu, sepasang kakek nenek yang tampilannya cukup menyeramkan bagi saya yang masih balita. Kesukaan mereka duduk2 di teras rumah sambil "nginang" atau "nyirih". Saya lupa istilah dalam bahasa Indonesia untuk kegiatan mengunyah sirih dan meludahkannya ke tanah.
Suatu malam saya (kelas 1
SD) dan adik yang masih batita, karena suatu hal penting dan mendesak
terpaksa ditinggal di rumah berdua oleh orangtua kami. Mereka pergi
sekitar pukul 20-an dan berjanji akan kembali pukul 22.
Waktu itu kami ada ART, tapi dia tinggal tidak begitu jauh dari rumah kami sehingga sehari-hari tidak menginap.
Waktu itu kami ada ART, tapi dia tinggal tidak begitu jauh dari rumah kami sehingga sehari-hari tidak menginap.
Walaupun takut, namun
sedari kecil saya telah dididik untuk mematuhi apapun perintah orangtua,
terutama Papa yang kalau sudah marah besar tidak segan mendaratkan
"maygeri"-nya (saya lupa tulisannya benar begitu atau tidak).
Kemudian setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, mereka pun pergi, saya dan adik pun masuk ke kamar untuk tidur.
Tempat tidur kami berupa ranjang kayu bertingkat dan terletak di dalam kamar utama. Biasanya saya tidur di ranjang atas dan adik di bawah, namun karena takut ditinggal berdua malam2 maka kami tidur berdua di ranjang bawah.
Suasana malam yang hening, ditingkahi suara jangkrik dan sesekali terdengar suara burung malam, semakin membuat kami berdua (terutama saya) meringkuk kedalam selimut hingga kepala kami pun ikut tersembunyi didalamnya. Dan kami pun terlelap.
Kemudian setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, mereka pun pergi, saya dan adik pun masuk ke kamar untuk tidur.
Tempat tidur kami berupa ranjang kayu bertingkat dan terletak di dalam kamar utama. Biasanya saya tidur di ranjang atas dan adik di bawah, namun karena takut ditinggal berdua malam2 maka kami tidur berdua di ranjang bawah.
Suasana malam yang hening, ditingkahi suara jangkrik dan sesekali terdengar suara burung malam, semakin membuat kami berdua (terutama saya) meringkuk kedalam selimut hingga kepala kami pun ikut tersembunyi didalamnya. Dan kami pun terlelap.
Tiba2 terdengar suara lirih membangunkan saya dari tidur "Heeeehh...hheeehhh...ssstt...sssttt..."
"Ah, syukurlah Papa Mama pulang" batin saya lega.
Bangkit dan tengok kanan kiri, mencari asal suara tadi. Namun tdk ada Papa atau Mama di dalam kamar. Saya lihat pintu kamar pun masih tertutup.
"Ah, mungkin mimpi" dan kembali menarik selimut dan tidur.
"Heeeehhh...hheeehhh...sstttt...sssttt.." kembali suara itu terdengar. Kali ini lebih jelas daripada yang pertama.
Penasaran, perlahan saya bangkit dan turun dari ranjang. Melirik ke sebelah, adik masih tertidur lelap.
Setengah berjingkat, saya melangkah ke pintu kamar, memutar anak kunci dan membuka pintu berharap melihat orangtua kami.
"Ah, syukurlah Papa Mama pulang" batin saya lega.
Bangkit dan tengok kanan kiri, mencari asal suara tadi. Namun tdk ada Papa atau Mama di dalam kamar. Saya lihat pintu kamar pun masih tertutup.
"Ah, mungkin mimpi" dan kembali menarik selimut dan tidur.
"Heeeehhh...hheeehhh...sstttt...sssttt.." kembali suara itu terdengar. Kali ini lebih jelas daripada yang pertama.
Penasaran, perlahan saya bangkit dan turun dari ranjang. Melirik ke sebelah, adik masih tertidur lelap.
Setengah berjingkat, saya melangkah ke pintu kamar, memutar anak kunci dan membuka pintu berharap melihat orangtua kami.
Namun, yang terlihat
hanya ruang tamu yang remang2, tanpa seorang pun disana. Sedikit
melangkah ke arah kamar sebelah, kamar orangtua kami, gelap juga
terlihat dari angin2 diatas pintu. Melirik ke jam dinding, menunjukkan
hampir jam 22.30.
"Oh, mungkin mereka sudah di kamar" pikir saya kemudian.
Lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.
Sebelum naik ke ranjang, saya teringat sesuatu.
"Kalau mereka sudah pulang, motornya pasti ada di garasi" pikir saya.
Posisi garasi persis di sisi kamar kami tidur dan ada jendela kamar ada yang berbatasan dengan garasi tersebut, jendela kayu 2 daun dengan "louver" atau kisi2 di sebagian atas jendela tersebut (tipikal jendela masa itu).
Saya naik ke kursi dan mengintip di sela2 kisi2 tadi.
Nampak samar garasi dalam keadaan kosong, hanya diterangi bola lampu 10 watt.
"Waduh...berarti Papa Mama belum pulang."
"Oh, mungkin mereka sudah di kamar" pikir saya kemudian.
Lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.
Sebelum naik ke ranjang, saya teringat sesuatu.
"Kalau mereka sudah pulang, motornya pasti ada di garasi" pikir saya.
Posisi garasi persis di sisi kamar kami tidur dan ada jendela kamar ada yang berbatasan dengan garasi tersebut, jendela kayu 2 daun dengan "louver" atau kisi2 di sebagian atas jendela tersebut (tipikal jendela masa itu).
Saya naik ke kursi dan mengintip di sela2 kisi2 tadi.
Nampak samar garasi dalam keadaan kosong, hanya diterangi bola lampu 10 watt.
"Waduh...berarti Papa Mama belum pulang."
Bulu kuduk langsung
merinding ( dan saat saya mengetik cerita ini pun saya merinding,
terkenang saat itu) dan tanpa ba bi bu langsung meringkuk di bawah
selimut. Adik saya masih tetap tidur dengan tenang, tidak terganggu sama
sekali.
Dan malam horor itu pun dimulai.
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki di luar kamar, seperti ada orang berjalan di ruang tamu.
"Duk duk duk" mondar mandir di depan kamar kami.
Saya tidak berani membuka mata dan tetap meringkuk di bawah selimut sambil menempelkan tubuh ke adik saya yang berada di sebelah tembok kamar. Bahkan mengintip pun tidak berani .
Kemudian suara langkah itu lenyap.
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki di luar kamar, seperti ada orang berjalan di ruang tamu.
"Duk duk duk" mondar mandir di depan kamar kami.
Saya tidak berani membuka mata dan tetap meringkuk di bawah selimut sambil menempelkan tubuh ke adik saya yang berada di sebelah tembok kamar. Bahkan mengintip pun tidak berani .
Kemudian suara langkah itu lenyap.
Baru saja saya hendak menarik nafas lega, tiba2 terdengar suara gorden ruang tamu digeser.."sreeekkk..sreekkk"
Persis suaranya seperti ada orang membuka atau menutup gorden.
Persis suaranya seperti ada orang membuka atau menutup gorden.
Dan....suara itu muncul lagi...
"Hheeehhh...hheeeehhh..sssstttt....ssstttt..."
jelas sekali terdengar dan kali ini berasal dari jendela yang
berbatasan dengan garasi tadi.
Dan (mungkin) saya pingsan.
BAGIAN DUA
Keesokan paginya, saya ceritakan semua kejadian malam itu pada Mama, yang hanya disambut dengan senyuman meledek tanda tidak percaya pada cerita anaknya.
“Kamu mimpi kali ?! Ngga berdoa ya semalem? Makanya minpi buruk tuh”jawabnya bijak.
“Dah sana mandi, sekolah, dah siang” tambahnya cepat.
Keesokan paginya, saya ceritakan semua kejadian malam itu pada Mama, yang hanya disambut dengan senyuman meledek tanda tidak percaya pada cerita anaknya.
“Kamu mimpi kali ?! Ngga berdoa ya semalem? Makanya minpi buruk tuh”jawabnya bijak.
“Dah sana mandi, sekolah, dah siang” tambahnya cepat.
Waktu pun berlalu dan saya pun sudah melupakan kejadian aneh tersebut.
Lalu pada suatu senja, saya sedang bermain sepeda dengan teman2 di lapangan depan rumah. Seingat saya waktu itu sudah lewat waktu Maghrib. Kami berkejaran dengan mengendarai sepeda melewati gang2 diantara rumah. Suatu saat saya tidak bisa mengejar teman saya si Luki yang menghilang berbelok di gang sebelah rumah tetangga. Lalu saya menghentikan sepeda dan menanti di mulut gang itu.
Memandang kearah gang itu agak remang2, pergantian antara terang sore ke gelap malam. Anak2 lain masih kedengaran berlarian dan bermain di lapangan namun tak ada seorangpun yang terlihat di gang itu.
Lalu pada suatu senja, saya sedang bermain sepeda dengan teman2 di lapangan depan rumah. Seingat saya waktu itu sudah lewat waktu Maghrib. Kami berkejaran dengan mengendarai sepeda melewati gang2 diantara rumah. Suatu saat saya tidak bisa mengejar teman saya si Luki yang menghilang berbelok di gang sebelah rumah tetangga. Lalu saya menghentikan sepeda dan menanti di mulut gang itu.
Memandang kearah gang itu agak remang2, pergantian antara terang sore ke gelap malam. Anak2 lain masih kedengaran berlarian dan bermain di lapangan namun tak ada seorangpun yang terlihat di gang itu.
Kemudian saya melihat
bayangan hitam di bawah pohon petai sekitar 20 meter jauhnya dari tempat
saya berdiri. Seperti ada wanita muncul dari balik pohon dan kemudian
diam berdiri.
“Siapa tuh? Kok ada yang berdiri di bawah pohon? Apa Mba Sari ya..?” benak saya bertanya menerka tetangga dekat rumah.
Saya diam mengamati, dan bayangan hitam itu tetap berdiri diam di tempatnya.
“Siapa tuh? Kok ada yang berdiri di bawah pohon? Apa Mba Sari ya..?” benak saya bertanya menerka tetangga dekat rumah.
Saya diam mengamati, dan bayangan hitam itu tetap berdiri diam di tempatnya.
Tiba-tiba…
(dialog diterjemahkan dari bahasa Ngapak)
“Heeehh…ngapain kamu berdiri disitu?” tanya teman saya yang lain, Eno panggilannya.
“Eh kamu..ini nungguin si Luki, sepedaan ngilang di gang situ” sambil menunjuk kearah gang.
“No, itu siapa ya berdiri di bawah pohon petai?” sambung saya. Eno memalingkan wajah kearah jari saya menunjuk. Kemudian berbalik memandang saya lagi.
“Emang ada siapa di situ? Ngga ada apa2 kok?” jawabnya keheranan.
Saya kembali memicingkan mata kearah pohon itu. Dan sosok bayangan itu masih ada, masih berdiri diam.
“Itu lho No, itu…di bawah pohon itu..masa ngga liat sih?”
“Pohon yang mana sih? Yang paling gede itu kan? Apa sebelahnya? Ngga ada apa2..”
“Iya, yang gede itu. Coba liat tuh, ada orang berdiri disitu.” ngotot saya menjelaskan sambil terus menunjuk.
“Ngga ada kok…” jawabnya putus asa.
“Haa..masa sih kamu ngga liat..?!”
Dan kami berpandangan sejenak.
Lalu…..
“Huuaaa…lariiiiiiiii…..” teriak kami bersamaan sambil memacu sepeda kearah lapangan.
Dengan ketakutan, kami ceritakan kejadian tadi pada teman2 yang masih ada di lapangan. Kemudian beramai2 kami kembali ke tempat tadi.
Dan sosok tadi sudah menghilang.
“Aah, bisa2nya si Yossi nih. Ngerjain si Eno kamu ya..?” kata teman yang lain.
“Engga, beneran kok. Tadi ada bayangan disitu” jawab saya
“Ya udah, bubar yuuk. Mungkin Yossi beneran ngeliat tuh..” kata teman yang lain lagi.
Dan kami pun bubar pulang ke rumah masing2.
(dialog diterjemahkan dari bahasa Ngapak)
“Heeehh…ngapain kamu berdiri disitu?” tanya teman saya yang lain, Eno panggilannya.
“Eh kamu..ini nungguin si Luki, sepedaan ngilang di gang situ” sambil menunjuk kearah gang.
“No, itu siapa ya berdiri di bawah pohon petai?” sambung saya. Eno memalingkan wajah kearah jari saya menunjuk. Kemudian berbalik memandang saya lagi.
“Emang ada siapa di situ? Ngga ada apa2 kok?” jawabnya keheranan.
Saya kembali memicingkan mata kearah pohon itu. Dan sosok bayangan itu masih ada, masih berdiri diam.
“Itu lho No, itu…di bawah pohon itu..masa ngga liat sih?”
“Pohon yang mana sih? Yang paling gede itu kan? Apa sebelahnya? Ngga ada apa2..”
“Iya, yang gede itu. Coba liat tuh, ada orang berdiri disitu.” ngotot saya menjelaskan sambil terus menunjuk.
“Ngga ada kok…” jawabnya putus asa.
“Haa..masa sih kamu ngga liat..?!”
Dan kami berpandangan sejenak.
Lalu…..
“Huuaaa…lariiiiiiiii…..” teriak kami bersamaan sambil memacu sepeda kearah lapangan.
Dengan ketakutan, kami ceritakan kejadian tadi pada teman2 yang masih ada di lapangan. Kemudian beramai2 kami kembali ke tempat tadi.
Dan sosok tadi sudah menghilang.
“Aah, bisa2nya si Yossi nih. Ngerjain si Eno kamu ya..?” kata teman yang lain.
“Engga, beneran kok. Tadi ada bayangan disitu” jawab saya
“Ya udah, bubar yuuk. Mungkin Yossi beneran ngeliat tuh..” kata teman yang lain lagi.
Dan kami pun bubar pulang ke rumah masing2.
Selang beberapa hari
kemudian, saat itu sore hari. Saya, adik saya dan ART kami Mba I sedang
bermain2 di dapur, mengasuh adik saya. Orang tua kami belum pulang dari
kantor, jadi di rumah saat itu hanya kami bertiga.
Saat sedang asyik mengasuh adik saya, tiba2 “sreeeekkk…sreeeekkk…sreekkk” terdengar jelas suara gorden di ruang tamu digeser2.
Mba I dan saya berpandangan, bertanya2 siapa yang masuk ke rumah dan menggeser gorden, padahal pintu depan terkunci dan akses masuk hanya dari dapur tempat kami bertiga sedang berkumpul.
Mba I langsung berjalan menuju ruang tamu, diikuti saya dan adik saya. Sampai di ruang tamu, tampak jelas gorden masih terbuka, tidak berubah dari posisi semula.
“Siapa Mba yang mainan gorden?” tanya saya.
“Ah ngga ada, mungkin tadi ada cicak lewat” jawabnya. Namun raut mukanya menunjukkan sedikit kecemasan, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari saya.
Saat sedang asyik mengasuh adik saya, tiba2 “sreeeekkk…sreeeekkk…sreekkk” terdengar jelas suara gorden di ruang tamu digeser2.
Mba I dan saya berpandangan, bertanya2 siapa yang masuk ke rumah dan menggeser gorden, padahal pintu depan terkunci dan akses masuk hanya dari dapur tempat kami bertiga sedang berkumpul.
Mba I langsung berjalan menuju ruang tamu, diikuti saya dan adik saya. Sampai di ruang tamu, tampak jelas gorden masih terbuka, tidak berubah dari posisi semula.
“Siapa Mba yang mainan gorden?” tanya saya.
“Ah ngga ada, mungkin tadi ada cicak lewat” jawabnya. Namun raut mukanya menunjukkan sedikit kecemasan, seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari saya.
BAGIAN TIGA - HABIS
Malam itu hujan turun deras disertai badai yang cukup hebat. Petir tak mau kalah turut menyambar dengan bunyi menggelegar yang mengikutinya.
Para warga kampung terpaksa meringkuk berlindung di dalam rumah masing-masing, walaupun ada beberapa juga yang harus berjibaku dengan ember dan kain pel karena atap rumahnya tak kuasa menahan derasnya hujan.
Aliran listrik pun turut serta tidak mau berkompromi dengan warga kampung itu. Akhirnya cahaya lilin dan lampu teplok memberikan sedikit kecerahan untuk mereka.
Malam itu hujan turun deras disertai badai yang cukup hebat. Petir tak mau kalah turut menyambar dengan bunyi menggelegar yang mengikutinya.
Para warga kampung terpaksa meringkuk berlindung di dalam rumah masing-masing, walaupun ada beberapa juga yang harus berjibaku dengan ember dan kain pel karena atap rumahnya tak kuasa menahan derasnya hujan.
Aliran listrik pun turut serta tidak mau berkompromi dengan warga kampung itu. Akhirnya cahaya lilin dan lampu teplok memberikan sedikit kecerahan untuk mereka.
Di satu rumah, L, anak
lelaki berusia sepuluh tahun, mengintip keluar dari balik kaca jendela
kamarnya. Yang ia lihat hanya derai air hujan yang melumuri kaca dan
kegelapan di luar. Kembali ditutupnya tirai jendela dan direbahkannya
tubuh ke tempat tidur dimana adiknya, C telah terlebih dahulu terlelap.
Sementara di luar kamarnya, di ruang tamu merangkap ruang keluarga, Pak H dan Ibu L, orangtua A, sedang duduk mengobrol bersama dengan Kakek O.
Dengan hanya diterangi cahaya dua lampu teplok di meja tengah dan ujung ruangan, Pak H duduk bersandar membelakangi jendela ruang tamu berhadapan dengan istrinya dan mertuanya. Derasnya hujan dan gelegar petir yang sambar menyambar seperti tidak mengganggu asyiknya obrolan mereka. Mungkin membahas topik demi topik yang hangat pada masa itu.
Sementara di luar kamarnya, di ruang tamu merangkap ruang keluarga, Pak H dan Ibu L, orangtua A, sedang duduk mengobrol bersama dengan Kakek O.
Dengan hanya diterangi cahaya dua lampu teplok di meja tengah dan ujung ruangan, Pak H duduk bersandar membelakangi jendela ruang tamu berhadapan dengan istrinya dan mertuanya. Derasnya hujan dan gelegar petir yang sambar menyambar seperti tidak mengganggu asyiknya obrolan mereka. Mungkin membahas topik demi topik yang hangat pada masa itu.
Seiring obrolan mereka,
tanpa terasa jarum jam hampir menunjuk waktu pukul sepuluh malam.
Mungkin terbuai hawa dingin yang menerpa karena hujan yang tak kunjung
reda, Kakek O hampir tertidur bersandar di kursinya demikian juga Pak H.
Ibu L melirik mereka, kemudian berpindah ke gelas-gelas kopi di meja
yang tinggal menyisakan ampas kopi.
“Pak, kopinya mau tambah lagi?” tanyanya pada Pak H.
“Iya Bu, boleh deh tambah lagi. Tanggung ngobrolnya belum selesai.” jawab Pak H yang diamini oleh Kakek O.
Ibu L bangkit dari duduk, mengambil lampu teplok di meja sampingnya dan berjalan menuju ke dapur di belakang untuk kembali menyeduh kopi.
“Pak, kopinya mau tambah lagi?” tanyanya pada Pak H.
“Iya Bu, boleh deh tambah lagi. Tanggung ngobrolnya belum selesai.” jawab Pak H yang diamini oleh Kakek O.
Ibu L bangkit dari duduk, mengambil lampu teplok di meja sampingnya dan berjalan menuju ke dapur di belakang untuk kembali menyeduh kopi.
Tiba-tiba, petir kembali
menyambar dengan suara yang sangat kencang hingga lantai rumah pun
bergetar. Ibu L terkejut bukan main, hampir saja ia menumpahkan air
panas dalam termos yang baru saja dibuka. Untung ia bisa mengendalikan
diri dan kembali meneruskan seduhan kopi untuk suami dan ayahnya.
Di saat yang sama, Kakek O hampir terlempar keatas dari kursinya. Petir tadi seakan begitu dekat dengan mereka. Diliriknya ke seberang, samar terlihat Pak H masih bersandar memejamkan mata.
“Wah, ini orang, petir segitu kencang ngga kebangun” batinnya.
Di saat yang sama, Kakek O hampir terlempar keatas dari kursinya. Petir tadi seakan begitu dekat dengan mereka. Diliriknya ke seberang, samar terlihat Pak H masih bersandar memejamkan mata.
“Wah, ini orang, petir segitu kencang ngga kebangun” batinnya.
Beberapa saat kemudian, Ibu L muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi 2 gelas kopi panas.
“Ini Pak, Mbah, kopinya.” ucapnya sambil meletakkan gelas di meja. Kakek O mengangguk ke putrinya tersebut dan menggeser tubuh ke depan untuk mengambil segelas kopi yang telah terhidang itu.
“Han,…ini lho kopinya. Tadi katanya mau nambah.” ucapnya sebelum menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap tersebut.
“Iya nih, Pak, kopinya diminum, nanti dingin ngga enak” tambah Ibu L.
Pak H tidak bergeming, masih tetap duduk bersandar dengan mata terpejam. Ibu L berjalan mendekati Pak H dan menepuk-nepuk tangan suaminya itu. Dan tidak ada reaksi apapun.
“Ini Pak, Mbah, kopinya.” ucapnya sambil meletakkan gelas di meja. Kakek O mengangguk ke putrinya tersebut dan menggeser tubuh ke depan untuk mengambil segelas kopi yang telah terhidang itu.
“Han,…ini lho kopinya. Tadi katanya mau nambah.” ucapnya sebelum menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap tersebut.
“Iya nih, Pak, kopinya diminum, nanti dingin ngga enak” tambah Ibu L.
Pak H tidak bergeming, masih tetap duduk bersandar dengan mata terpejam. Ibu L berjalan mendekati Pak H dan menepuk-nepuk tangan suaminya itu. Dan tidak ada reaksi apapun.
Mereka terkesiap, Kakek O
spontan bangkit dari duduknya dan mereka berdua mengguncang-guncang
tubuh Pak H, berharap ia bangun dari tidurnya.
“Pak..paaakk…bangun paaak..” Ibu L setengah berteriak diterpa kepanikan.
“Han..Haaan…bangun..” Kakek O ikut panik.
Dan Pak H tetap tidak bergerak. Terlihat dadanya diam, tidak bergerak naik turun seperti normalnya paru-paru mengambil udara.
Kakek O tanpa pikir panjang langsung membuka pintu depan dan berlari menembus hujan ke rumah Pak A, tetangga terdekat yang hanya dipisahkan halaman samping.
“Tok..tok..tok..” diketuknya berkali-kali dengan keras pintu tetangganya itu.
Pintu terbuka sedikit, nampak Pak A dengan sarung melingkari tubuhnya disela pintu yang terbuka itu. Ia terkejut melihat Kakek O basah kuyup di depan pintu rumah.
“Lho, si Mbah. Saya pikir siapa..” serunya sambil membuka lebar pintu dan mempersilahkan masuk tamunya.
“Tolong nak A..tolong si H..toloong..” Kakek O berseru sambil menarik tangan Pak A menuju rumah Pak H.
Pak A menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan tanpa pikir panjang ikut berlari menembus hujan.
“Pak..paaakk…bangun paaak..” Ibu L setengah berteriak diterpa kepanikan.
“Han..Haaan…bangun..” Kakek O ikut panik.
Dan Pak H tetap tidak bergerak. Terlihat dadanya diam, tidak bergerak naik turun seperti normalnya paru-paru mengambil udara.
Kakek O tanpa pikir panjang langsung membuka pintu depan dan berlari menembus hujan ke rumah Pak A, tetangga terdekat yang hanya dipisahkan halaman samping.
“Tok..tok..tok..” diketuknya berkali-kali dengan keras pintu tetangganya itu.
Pintu terbuka sedikit, nampak Pak A dengan sarung melingkari tubuhnya disela pintu yang terbuka itu. Ia terkejut melihat Kakek O basah kuyup di depan pintu rumah.
“Lho, si Mbah. Saya pikir siapa..” serunya sambil membuka lebar pintu dan mempersilahkan masuk tamunya.
“Tolong nak A..tolong si H..toloong..” Kakek O berseru sambil menarik tangan Pak A menuju rumah Pak H.
Pak A menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan tanpa pikir panjang ikut berlari menembus hujan.
Sesampainya di dalam
rumah Pak H, terlihat Ibu L sedang menangis sambil memeluk tubuh Pak H
yang masih terduduk diam di posisinya, kemudian Ibu L jatuh pingsan di
pelukan ayahnya.
Pak A segera mencoba membantu, diperiksanya nafas kemudian dirabanya nadi Pak H, dan memang tidak ada tanda kehidupan saat itu, namun ia sadar ia bukan dokter yang dapat memvonis seseorang telah meninggal atau masih hidup.
Singkat cerita, setelah diberitahu oleh Pak A, para tetangga terdekat rumah segera berdatangan di tengah derasnya hujan. Salah satu dari mereka memiliki telepon di rumahnya dan atas kesepakatan warga saat itu, ia menghubungi Rumah Sakit untuk meminta pertolongan.
Pak A segera mencoba membantu, diperiksanya nafas kemudian dirabanya nadi Pak H, dan memang tidak ada tanda kehidupan saat itu, namun ia sadar ia bukan dokter yang dapat memvonis seseorang telah meninggal atau masih hidup.
Singkat cerita, setelah diberitahu oleh Pak A, para tetangga terdekat rumah segera berdatangan di tengah derasnya hujan. Salah satu dari mereka memiliki telepon di rumahnya dan atas kesepakatan warga saat itu, ia menghubungi Rumah Sakit untuk meminta pertolongan.
Tidak berapa lama
kemudian, terdengar sirene ambulans di jalan yang menuju ke lapangan
depan rumah Pak H. Para tetangga bergegas melihat ke depan rumah.
Namun, saat mobil ambulans berbelok ke lapangan itu, terdengar raungan mesinnya seperti sedang mengerahkan tenaga untuk melewati tanjakan. Raungan mesin terdengar berulang-ulang tanpa disertai gerakan mobil ambulans tersebut. Ambulans itu terdiam di posisinya. Petugas medis lalu turun dari ambulans dan berjalan menuju rumah Pak H untuk memeriksa kondisinya.
Beberapa tetangga mencoba mendekati ambulans tersebut untuk mencaritahu kendala yang terjadi. Dan si sopir berkata bahwa mobil seperti tertahan sesuatu, mungkin ada batu besar yang menghalangi dan tidak terlihat didalam genangan air hujan. Spontan mereka mencoba meraba mengais di depan keempat ban mobil itu untuk menyingkirkan halangan tersebut, dan mereka tidak menemukan apapun.
Lalu seseorang memberi komando untuk bersama-sama mendorong ambulans.
“Satu..dua..tigaaa…” dengan aba-aba itu mereka bersama-sama mendorong dan mendorong, si sopir pun menginjak gasnya. Berkali-kali upaya itu dicoba dan gagal. Seperti ada halangan yang tak terlihat di depan.
Namun, saat mobil ambulans berbelok ke lapangan itu, terdengar raungan mesinnya seperti sedang mengerahkan tenaga untuk melewati tanjakan. Raungan mesin terdengar berulang-ulang tanpa disertai gerakan mobil ambulans tersebut. Ambulans itu terdiam di posisinya. Petugas medis lalu turun dari ambulans dan berjalan menuju rumah Pak H untuk memeriksa kondisinya.
Beberapa tetangga mencoba mendekati ambulans tersebut untuk mencaritahu kendala yang terjadi. Dan si sopir berkata bahwa mobil seperti tertahan sesuatu, mungkin ada batu besar yang menghalangi dan tidak terlihat didalam genangan air hujan. Spontan mereka mencoba meraba mengais di depan keempat ban mobil itu untuk menyingkirkan halangan tersebut, dan mereka tidak menemukan apapun.
Lalu seseorang memberi komando untuk bersama-sama mendorong ambulans.
“Satu..dua..tigaaa…” dengan aba-aba itu mereka bersama-sama mendorong dan mendorong, si sopir pun menginjak gasnya. Berkali-kali upaya itu dicoba dan gagal. Seperti ada halangan yang tak terlihat di depan.
Di saat yang sama, saat
petugas medis sedang memeriksa kondisi Pak H, ada seorang tetangga yang
memiliki “kelebihan” ikut membantu di rumah itu.
Melihat keganjilan yang terjadi, ia mengajak tetangga yang ada di rumah itu untuk bersama memanjatkan doa supaya ambulans itu dapat sampai di depan rumah.
Singkat cerita, “halangan” tersebut pun terlampaui dan mobil ambulans dapat menuju ke lokasi yang diharapkan. Dan sesuai pemeriksaan petugas, Pak H sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Yang mengejutkan, ada luka seperti terbakar di belakang kepalanya, konon kata seorang tetangga yang ikut menyaksikan jenasahnya, mungkin karena tersambar petir.
Melihat keganjilan yang terjadi, ia mengajak tetangga yang ada di rumah itu untuk bersama memanjatkan doa supaya ambulans itu dapat sampai di depan rumah.
Singkat cerita, “halangan” tersebut pun terlampaui dan mobil ambulans dapat menuju ke lokasi yang diharapkan. Dan sesuai pemeriksaan petugas, Pak H sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Yang mengejutkan, ada luka seperti terbakar di belakang kepalanya, konon kata seorang tetangga yang ikut menyaksikan jenasahnya, mungkin karena tersambar petir.
Kisah di atas (BAGIAN
TIGA – HABIS) terjadi di rumah masa kecil saya bertahun-tahun sebelum
kami menempati rumah itu, namun saya sedikit memodifikasi dari kisah
sebenarnya yang saya dengar dari ART kami dan beberapa tetangga rumah
saya.
Semoga “Pak H” dapat beristirahat dengan tenang. Amin.
Semoga “Pak H” dapat beristirahat dengan tenang. Amin.
Dan foto yang saya pajang adalah foto saya dan adik di ruang tamu pada rumah tersebut.
Ohya, tidak semua hal
dapat saya ceritakan karena satu dan lain hal. Mungkin di waktu
mendatang akan saya ceritakan kejadian aneh lainnya yang saya alami di
masa itu.
Demikianlah pemirsa, kisah Rumah Masa Kecil ini saya akhiri sampai disini.
Demikianlah pemirsa, kisah Rumah Masa Kecil ini saya akhiri sampai disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar