Cerita misteri kali ini
saya ambil dari salah satu kejadian yang saya alami sewaktu nge-kos
semasa awal kuliah, sekitar tahun 96-an.
Kos2-an yang saya
tinggali itu berusia cukup tua, terdiri dari satu rumah tempat keluarga
empunya kos tinggal dimana tingkat duanya dipakai sebagai 2 kamar kos,
kemudian membentuk “letter L” (jika dilihat dari atas) berdiri dua
bangunan lain yang juga bertingkat dua dimana terdapat deretan
kamar-kamar kos. Kalau tidak salah ingat seluruhnya berjumlah 17 kamar,
di tengah bangunan-bangunan ini terdapat halaman dimana terdapat kolam
ikan berukuran kecil dan beberapa pohon jambu biji dan tanaman hias.
Di lantai dua bangunan
tersebut, sederet dengan kamar kos paling depan (di samping pintu
gerbang) terdapat gudang yang jika dilihat dari luar memiliki ukuran
ruang yang cukup luas, berdinding papan kayu dikombinasikan dengan bilik
bambu, cat luar warna-warni yang kondisinya sudah pudar, dengan tangga
melingkar terbuat dari kayu kelapa di ujung depannya menjulur kebawah di
samping pintu gerbang. Konon dulu difungsikan sebagai semacam galeri
seni.
Di bulan-bulan awal saya
masuk di kos-an tersebut, pintu ruangan tersebut hampir selalu
terkunci, hanya sesekali saya melihat Pak R, penjaga kos merangkap
pengurus rumah keluarga pemilik kos, memasukkan dan mengeluarkan barang
dan kembali menguncinya.
Ohya, kos2-an yang saya
ceritakan ini adalah kos-an pria, penghuninya mayoritas mahasiswa senior
yang telah bertahun-tahun menuntut ilmu, waktu itu hanya saya dan teman
sekelas SMA saya, si Ahong, yang masih mahasiswa baru. Tapi mereka
menyambut kami dengan baik dan hubungan antar penghuni kos sangat akrab,
sehingga kami berdua tidak merasa seperti anak baru di situ.
Singkat kata, beberapa
bulan kemudian ada penghuni baru di kos2-an kami, sebut aja Gogon, dia
juga mahasiswa baru di kampus yang sama dengan saya namun berbeda
fakultas.
Si Gogon ini humoris dan sangat supel, juga sangat suka bergadang sehingga cocok sekali dengan para senior di kos-an kami, sedangkan saya dan si Ahong hanya bergadang jika ada perlunya..seperti kata Om Rhoma Irama, hehehe.
Dia juga tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis atau horror, jadi saat anak-anak kos sedang ngobrol hal tersebut dia tidak pernah mau bergabung.
Si Gogon ini humoris dan sangat supel, juga sangat suka bergadang sehingga cocok sekali dengan para senior di kos-an kami, sedangkan saya dan si Ahong hanya bergadang jika ada perlunya..seperti kata Om Rhoma Irama, hehehe.
Dia juga tidak percaya dengan hal-hal yang berbau mistis atau horror, jadi saat anak-anak kos sedang ngobrol hal tersebut dia tidak pernah mau bergabung.
Dan kisah misteri ini pun bermula.
Baru sekitar sebulan si
Gogon menempati kamar kos di lantai bawah (persis di sebelah kamar
saya), tiba-tiba dia minta pindah ke kamar lantai dua yang terletak di
sudut depan, persis bersebelahan dengan gudang yang saya ceritakan
sebelumnya.
Sejak saya masuk di kos-an, kamar itu memang kosong tidak ada yang menempati, mungkin karena posisinya tersebut.
Saya sempat bertanya kenapa dia pindah ke kamar itu, jawabannya supaya lebih konsentrasi belajar karena tidak ada yang melewati kamar itu, berbeda dengan kamar sebelumya yang di depan kamar menjadi akses keluar masuk orang.
Sejak saya masuk di kos-an, kamar itu memang kosong tidak ada yang menempati, mungkin karena posisinya tersebut.
Saya sempat bertanya kenapa dia pindah ke kamar itu, jawabannya supaya lebih konsentrasi belajar karena tidak ada yang melewati kamar itu, berbeda dengan kamar sebelumya yang di depan kamar menjadi akses keluar masuk orang.
Sekitar seminggu
kemudian, saat itu kamis malam mendekati pukul 24, anak-anak kos sedang
ramai bermain karambol di ruang serbaguna di lantai bawah, termasuk saya
yang menonton sambil merokok.
Si Gogon tidak ikut bergabung, dengan alasan mau bermain komputer saja di kamarnya. Praktis, deretan kamar di lantai dua dalam keadaan kosong, hanya dia sendirian.
Si Gogon tidak ikut bergabung, dengan alasan mau bermain komputer saja di kamarnya. Praktis, deretan kamar di lantai dua dalam keadaan kosong, hanya dia sendirian.
Tiba-tiba,
“Braaakk..bruukkk...braaakkk..!!!” terdengar suara kencang sekali seperti ada barang yang berjatuhan.
Spontan, dengan terkejut kami keluar dari ruangan tempat main karambol dan mencari sumber suara gaduh tersebut. Dan jelas sekali suara berasal dari lantai dua.
“Braaakk..bruukkk...braaakkk..!!!” terdengar suara kencang sekali seperti ada barang yang berjatuhan.
Spontan, dengan terkejut kami keluar dari ruangan tempat main karambol dan mencari sumber suara gaduh tersebut. Dan jelas sekali suara berasal dari lantai dua.
Kemudian terdengar si
Gogon berteriak-teriak dari atas. Beberapa anak kos senior berlari
keatas dan saat membuka pintu kamarnya dalam keadaan kosong. Saya
sendiri ragu-ragu akan naik atau tidak, dan hanya berdiri terpaku di
halaman melihat kearah kamar Gogon dan sekitarnya.
Kemudian pandangan saya berhenti pada jendela gudang yang rasanya bertahun-tahun penuh debu tidak pernah dibersihkan. Samar saya melihat sosok bayangan di balik kaca nako itu.
Kemudian pandangan saya berhenti pada jendela gudang yang rasanya bertahun-tahun penuh debu tidak pernah dibersihkan. Samar saya melihat sosok bayangan di balik kaca nako itu.
Setelah mendapati kamar
si Gogon kosong sementara suara gaduh itu masih keras terdengar, Mas S
dan Mas B berpindah membuka pintu gudang, dan ternyata benar.
Si Gogon terlihat sedang berdiri di tengah ruangan sambil melemparkan meja, kursi, dan barang-barang apapun yang ada di sekitarnya kearah satu posisi dimana terdapat sebuah lukisan perempuan dengan pandangan yang sangat dingin.
Belakangan saya tahu kalau lukisan itu sudah bertahun-tahun disimpan di gudang karena anak-anak kos yang lama merasa tidak nyaman jika melihat atau berdekatan dengan lukisan tersebut.
Si Gogon terlihat sedang berdiri di tengah ruangan sambil melemparkan meja, kursi, dan barang-barang apapun yang ada di sekitarnya kearah satu posisi dimana terdapat sebuah lukisan perempuan dengan pandangan yang sangat dingin.
Belakangan saya tahu kalau lukisan itu sudah bertahun-tahun disimpan di gudang karena anak-anak kos yang lama merasa tidak nyaman jika melihat atau berdekatan dengan lukisan tersebut.
Kembali ke Gogon, Mas S
dan Mas B segera membekuk dia sebelum keadaan semakin kacau dalam gudang
itu dan menyeretnya turun. Mas B yang memang kami tuakan di kos, segera
kembali kedalam gudang dan sepertinya terlibat “pembicaraan” dengan
nada yang keras dengan “seseorang” di dalam gudang itu. Setelah beberapa
menit yang menegangkan bagi kami yang melihat, kemudian mas B keluar
dari gudang dan menutup pintu gudang itu.
Saya dan beberapa teman yang tidak ikut keatas (berkerumun di pertengahan tangga) hanya berdiri terpaku menyaksikan kejadian tersebut.
Dan yang membuat bulu kuduk saya merinding saat itu (saat ini juga), saya sekilas melihat samar sesosok "wanita" di jendela gudang dan sosok itu ikut menghilang bersamaan mas B menutup pintu gudang.
Saya dan beberapa teman yang tidak ikut keatas (berkerumun di pertengahan tangga) hanya berdiri terpaku menyaksikan kejadian tersebut.
Dan yang membuat bulu kuduk saya merinding saat itu (saat ini juga), saya sekilas melihat samar sesosok "wanita" di jendela gudang dan sosok itu ikut menghilang bersamaan mas B menutup pintu gudang.
Singkat kata, si Gogon
ditenangkan di lantai bawah oleh mas B dan rekan-rekan yang lain. Saya
tidak berani terlalu dekat karena terdengar dia mengeluarkan suara
geraman seperti harimau ditingkahi suara Mas B membaca doa dan berteriak
mengusir “sesuatu” yang merasuki Gogon.
Setelah beberapa saat kemudian dia pun tenang dan ditidurkan di kamar mas B, kemudian mas B menyuruh kami bubar dan meminta kami untuk tidak membahas kejadian tadi dan ia pun meminta kami bersikap seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.
Dengan rasa ketakutan bercampur penasaran kami pun membubarkan diri, dan karena takut tidur di kamar sendiri saya pun bergabung dengan beberapa anak kos lain di kamar salah satu senior, Mas A, sampai pagi. Dan keesokan paginya karena mengingat pesan mas B tersebut, aktivitas kami berlangsung seperti biasa.
Setelah beberapa saat kemudian dia pun tenang dan ditidurkan di kamar mas B, kemudian mas B menyuruh kami bubar dan meminta kami untuk tidak membahas kejadian tadi dan ia pun meminta kami bersikap seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.
Dengan rasa ketakutan bercampur penasaran kami pun membubarkan diri, dan karena takut tidur di kamar sendiri saya pun bergabung dengan beberapa anak kos lain di kamar salah satu senior, Mas A, sampai pagi. Dan keesokan paginya karena mengingat pesan mas B tersebut, aktivitas kami berlangsung seperti biasa.
Namun beberapa hari
kemudian, saat hampir semua anak kos sedang berkumpul termasuk si Gogon,
tanpa dapat menahan diri lagi kami membahas kejadian malam itu.
Sedangkan mas B hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Awas lho yaa..udah aku ingetin ngga usah bahas lagi. Tanggung sendiri pokoknya” lanjutnya masih dengan senyum.
“Wah, tanggung mas, udah kadung nanya” jawab yang lainnya.
Si Gogon semula tidak mau menjawab namun setelah didesak sana sini maka ia pun menceritakan kejadian malam itu.
“Awas lho yaa..udah aku ingetin ngga usah bahas lagi. Tanggung sendiri pokoknya” lanjutnya masih dengan senyum.
“Wah, tanggung mas, udah kadung nanya” jawab yang lainnya.
Si Gogon semula tidak mau menjawab namun setelah didesak sana sini maka ia pun menceritakan kejadian malam itu.
“Ah, bosen juga main
komputer sendirian. Ngerokok dulu ah” Gogon mengambil rokoknya dan
beranjak keluar kamar. Sekilas diliriknya jam di meja, “udah hampir jam
duabelas” gumamnya. Keluar kamar, digesernya kursi mendekati railing
pembatas teras lantai dua dan dihisapnya rokok sambil menyandarkan
tangan di railing tersebut. Dari bawah terdengar riuh suara anak-anak
kos yang sedang bermain karambol.
“Wah, seru karambolnya. Turun ah..” benaknya berkata. Ia bangkit dari duduknya hendak berjalan ke tangga turun.
“Wah, seru karambolnya. Turun ah..” benaknya berkata. Ia bangkit dari duduknya hendak berjalan ke tangga turun.
Namun tiba-tiba…
“Tok..tok..”
“Tok ..tok..”
terdengar suara ketukan beberapa kali.
“Tok..tok..”
“Tok ..tok..”
terdengar suara ketukan beberapa kali.
Ia menengok ke kanan,
kearah kamar-kamar sebelahnya mencari sumber suara. Yang nampak hanya
teras yang kosong dan deretan empat kamar yang tertutup rapat.
“Ah, suara dari kamar bawah kali” pikirnya sambil mengangkat bahu.
“Ah, suara dari kamar bawah kali” pikirnya sambil mengangkat bahu.
“Tok..tok..”
“Tok ..tok..”
Terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
Dan jelas sekali berasal dari sebelah kiri ia berdiri. Pintu Gudang.
Setengah tidak percaya ditatapnya pintu itu. Didekatkannya telinga ke arah pintu, memastikan sumber suara tadi.
Lalu karena penasaran, ia mencoba menekan gagang pintu kebawah dan mendorong daun pintu gudang tersebut. Tenyata dalam kondisi tidak terkunci.
“Tok ..tok..”
Terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
Dan jelas sekali berasal dari sebelah kiri ia berdiri. Pintu Gudang.
Setengah tidak percaya ditatapnya pintu itu. Didekatkannya telinga ke arah pintu, memastikan sumber suara tadi.
Lalu karena penasaran, ia mencoba menekan gagang pintu kebawah dan mendorong daun pintu gudang tersebut. Tenyata dalam kondisi tidak terkunci.
Saat melangkahkan kaki masuk, terlihat olehnya ruangan gudang yang diterangi sinar redup lampu kecil. Meja, kursi, bagian-bagian ranjang tampak tertumpuk memenuhi sebagian ruangan.
Disebarnya pandangan ke sekeliling, dan matanya terpaku di salah satu sudut ruangan. Di situ tersandar di dinding sebuah lukisan yang berukuran cukup besar. Lukisan setengah badan seorang wanita dalam kondisi dilapisi debu dan sarang laba-laba, pertanda lukisan tersebut sudah lama berada di tempat itu.
Gogon mendekati lukisan
wanita itu, diraba dan diusapnya debu yang melapisi bagian wajah wanita
tersebut. Kemudian terlihat wajah cantik namun dingin dengan pandangan
mata yang tajam.
“Woow..boleh nih lukisan aku pasang di kamar.” cetusnya kegirangan.
Dipegangnya pigura lukisan sambil memandangi bagian wajah cantik dalam lukisan.
Dan…mata wanita itu bergerak melotot.
Dilanjutkan bibirnya menyunggingkan senyum.
“Woow..boleh nih lukisan aku pasang di kamar.” cetusnya kegirangan.
Dipegangnya pigura lukisan sambil memandangi bagian wajah cantik dalam lukisan.
Dan…mata wanita itu bergerak melotot.
Dilanjutkan bibirnya menyunggingkan senyum.
Sontak, Gogon melepaskan lukisan itu dan bergerak mundur.
Badannya terasa kaku dan kakinya terkunci tak bisa bergerak dari posisinya.
Dan…perlahan sosok wanita dalam lukisan itu bergerak keluar dari kanvas tempat dia berada. Sosok wanita dengan wajah pucat dan senyum menyeringai, berjalan mendekati si Gogon yang hanya bisa terpaku ketakutan.
Beberapa detik kemudian, dengan susah payah Gogon meraih sebuah kursi di dekatnya dan dengan sekuat tenaga melemparkannya kearah sosok wanita tersebut, yang ternyata tidak berpengaruh apapun. Sosok wanita itu tetap melangkah mendekatinya.
Badannya terasa kaku dan kakinya terkunci tak bisa bergerak dari posisinya.
Dan…perlahan sosok wanita dalam lukisan itu bergerak keluar dari kanvas tempat dia berada. Sosok wanita dengan wajah pucat dan senyum menyeringai, berjalan mendekati si Gogon yang hanya bisa terpaku ketakutan.
Beberapa detik kemudian, dengan susah payah Gogon meraih sebuah kursi di dekatnya dan dengan sekuat tenaga melemparkannya kearah sosok wanita tersebut, yang ternyata tidak berpengaruh apapun. Sosok wanita itu tetap melangkah mendekatinya.
Dan kejadian selanjutnya seperti apa yang saya dan anak kos yang lain saksikan pada malam itu.
Sejak malam itu sampai
beberapa bulan berikutnya, si Gogon tidak berani tidur sendirian di
kamarnya, seringkali ia menginap di tempat temannya di tempat lain atau
tidur berpindah-pindah di kamar kos kami rekan-rekannya.
Dari penjelasan yang
kami terima dari mas B dan mas S yang memiliki “kelebihan”, pemilik lama
bangunan kos kami (jauh sebelum pemilik yang sekarang membelinya)
memasang “penjaga” di empat sudut bangunan, salah satunya tepat di
gudang itu. Posisi lainnya adalah di rumah pemilik kos, di ruang mencuci
dan di kamar mandi, dimana posisi-posisi tersebut ada di sudut-sudut
kos2-an kami.
Jika waktu mengijinkan,
akan saya ceritakan kejadian-kejadian mistis yang kami alami di kos2-an
kami ini, yang sampai sekarang jika mengingatnya masih terasa merinding
di badan.
Demikian cerita misteri ini saya sampaikan, terima kasih atas perhatian sobat Hitters semuanya.
Ohya, buat sobat Hitters yang punya pengalaman serem di kos2-an, silahkan share disini yaa...biar seru.
Salam Cermis....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar