“Kamu selama disini belum pernah ngalamin hal aneh-aneh kan, selain sambutan dari drum band kemaren itu?”
“Maksud Mas S gimana?” jawab saya balik bertanya.
Dia tersenyum penuh arti.
“Ya udah kalo ngga pernah”
Saya mulai curiga namun tidak mau memperpanjang lagi bahasan itu.
Dan kemudian hari, saya baru benar-benar mengerti apa yang dimaksud Mas S.
“Maksud Mas S gimana?” jawab saya balik bertanya.
Dia tersenyum penuh arti.
“Ya udah kalo ngga pernah”
Saya mulai curiga namun tidak mau memperpanjang lagi bahasan itu.
Dan kemudian hari, saya baru benar-benar mengerti apa yang dimaksud Mas S.
Saya ingat betul malam
itu malam jumat, namun saya tidak ingat apakah kliwon atau bukan. Saya
baru sampai di kos sekitar jam sembilan malam, hari kuliah yang sibuk
dan melelahkan diberondong tugas dan ini itu di kampus.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan beberapa rekan kos yang sedang bermain gitar di selasar sebelah kamar, saya minta diri untuk beristirahat, masuk kamar, memasang lampu tidur dan langsung merebahkan diri di kasur.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan beberapa rekan kos yang sedang bermain gitar di selasar sebelah kamar, saya minta diri untuk beristirahat, masuk kamar, memasang lampu tidur dan langsung merebahkan diri di kasur.
“Duuugg..!!” tiba-tiba
terdengar suara keras mengagetkan lelap tidur saya. Suara itu berasal
dari atas kamar, seperti ada orang yang melompat di selasar atau dalam
kamar lantai atas.
Siapa tuh lompat malem-malem, pikir saya heran. Namun tetap berbaring dan tidak bermaksud untuk bangkit mencaritahu sumber suara itu. Badan serasa lemas lunglai akibat kelelahan. Saya melirik jam yang menunjukkan pukul satu lebih dan sebentar kemudian kembali terlelap.
Siapa tuh lompat malem-malem, pikir saya heran. Namun tetap berbaring dan tidak bermaksud untuk bangkit mencaritahu sumber suara itu. Badan serasa lemas lunglai akibat kelelahan. Saya melirik jam yang menunjukkan pukul satu lebih dan sebentar kemudian kembali terlelap.
Tidak berapa lama, tiba-tiba saya kembali terjaga.
Mata yang masih samar seperti diarahkan untuk melihat kearah pintu kamar yang berada sekitar satu meter dari ujung kaki saya.
Di pandangan yang masih samar itu dan dalam keremangan sinar lampu tidur, terlihat warna putih tergantung di posisi paling kanan dekat dengan jendela kaca nako yang menempel dengan kusen pintu, berbatasan dengan gorden lusuh berwarna coklat yang menutupi jendela nako tersebut.
Otak saya langsung menandai warna putih itu adalah jins putih yang seingat saya sudah beberapa minggu tergantung di pintu.
Mata yang masih samar seperti diarahkan untuk melihat kearah pintu kamar yang berada sekitar satu meter dari ujung kaki saya.
Di pandangan yang masih samar itu dan dalam keremangan sinar lampu tidur, terlihat warna putih tergantung di posisi paling kanan dekat dengan jendela kaca nako yang menempel dengan kusen pintu, berbatasan dengan gorden lusuh berwarna coklat yang menutupi jendela nako tersebut.
Otak saya langsung menandai warna putih itu adalah jins putih yang seingat saya sudah beberapa minggu tergantung di pintu.
Anehnya, jins putih itu menjulur panjang sampai menyentuh lantai kamar.
Saya mengerjap-ngerjapkan mata, mengarahkan pandangan lebih jelas ke pintu.
Hasilnya, lebih aneh lagi, ternyata bukan hanya menjulur ke lantai tapi juga menjulang melebihi tinggi pintu, bahkan sampai ke dak kamar. Seiring pandangan saya yang semakin jelas, terlihatlah suatu bentuk sosok putih tinggi menjulang.
Saya mengerjap-ngerjapkan mata, mengarahkan pandangan lebih jelas ke pintu.
Hasilnya, lebih aneh lagi, ternyata bukan hanya menjulur ke lantai tapi juga menjulang melebihi tinggi pintu, bahkan sampai ke dak kamar. Seiring pandangan saya yang semakin jelas, terlihatlah suatu bentuk sosok putih tinggi menjulang.
Sosok itu berdiri
menempel menghadap pintu, membelakangi saya yang terpaku, tak bisa
bergerak apalagi bangkit. Takut, ngeri, takjub, bercampur jadi satu.
Rasanya ingin berteriak dan berlari tapi badan tidak bisa digerakkan dan
mulut pun seolah tak dapat bersuara.
Dan sosok itu tetap berdiri diam disitu.
Dan sosok itu tetap berdiri diam disitu.
“Adegan” itu mungkin
hanya berlangsung tidak sampai satu menit, namun kengerian yang saya
alami itu masih bisa dirasakan sampai saat saya menulis cerita ini,
lebih dari dua puluh tahun kemudian.
Mungkin saat itu saya pingsan atau kembali tertidur. Saat membuka mata kembali ternyata sudah pagi, menjelang siang malahan.
Mungkin saat itu saya pingsan atau kembali tertidur. Saat membuka mata kembali ternyata sudah pagi, menjelang siang malahan.
Reflek saya langsung melihat kearah pintu.
Hanya ada kaos dan celana pendek disitu, berwarna biru dan hitam.
Sementara jins putih yang jadi “tersangka”, ternyata sudah masuk dalam rendaman di ember di ruang cuci.
Tanpa menunggu lama,
saya langsung mencari Mas B, senior di kos yang memiliki “kelebihan”, ke
kamarnya. Di dalam, dia sedang mengobrol dengan Mas S, Mas A dan Mas
An, sepertinya sedang membicarakan hal yang serius, terlihat dari raut
wajah mereka.
“Nah, ini si Yos. Kenapa? Pasti mau cerita semalem ya?” tanya Mas B.
“Heh? Kok tau mas kalo aku mau cerita kejadian semalem?” jawab saya terkejut.
Mereka tertawa berbarengan.
“Coba kamu cerita. Kenapa semalem?” sambung Mas A.
“Heh? Kok tau mas kalo aku mau cerita kejadian semalem?” jawab saya terkejut.
Mereka tertawa berbarengan.
“Coba kamu cerita. Kenapa semalem?” sambung Mas A.
“Mmm, gini mas, semalem
pas lagi tidur tau-tau kebangun gara-gara suara Duug gitu dari lantai
atas. Aku pikir ada yang lompat di kamar atas. Terus aku tidur lagi,
kecapean.”
“Pas jam satuan gitu tiba-tiba kebangun lagi, terus kok aku kaya ngelihat ada putih-putih gitu di pintu. Pertama kupikir celana jins putihku, tapi kok lama-lama jadi panjang gitu..terus jadi tinggi sampe dak kamar. Terus…”
“Wah, kamu ngeliat juga ternyata yaa…Hahaha..” potong Mas B sambil tertawa lagi.
“Pas jam satuan gitu tiba-tiba kebangun lagi, terus kok aku kaya ngelihat ada putih-putih gitu di pintu. Pertama kupikir celana jins putihku, tapi kok lama-lama jadi panjang gitu..terus jadi tinggi sampe dak kamar. Terus…”
“Wah, kamu ngeliat juga ternyata yaa…Hahaha..” potong Mas B sambil tertawa lagi.
Kemudian mereka
bercerita, semalam Mas A dan Mas An yang kamarnya bersebelahan di lantai
atas kamar saya, juga terbangun kaget mendengar suara itu.
Dan dari dalam kamar Mas A, melihat dari sela-sela gorden yang tidak tertutup rapat, sesosok putih melintas di depan kamarnya ke arah kamar Mas An.
Mas An yang sedang membuka pintu setelah dikagetkan suara tadi, sekilas melihat juga sosok putih melintas kemudian menghilang di ujung selasar lantai atas.
Dan dari dalam kamar Mas A, melihat dari sela-sela gorden yang tidak tertutup rapat, sesosok putih melintas di depan kamarnya ke arah kamar Mas An.
Mas An yang sedang membuka pintu setelah dikagetkan suara tadi, sekilas melihat juga sosok putih melintas kemudian menghilang di ujung selasar lantai atas.
Sementara Mas B yang
sedang melakukan ritual membersihkan keris di kamarnya, tidak berapa
lama setelah kejadian Mas A dan Mas An tersebut, tiba-tiba dikagetkan
dengan sosok putih yang berbentuk P*cong muncul di depannya. Mas B yang
merasa terganggu kemudian membentak sosok itu sampai bersimpuh di depan
Mas B.
Singkat kata, dari
cerita Mas B dan senior lainnya di kos, sosok tersebut adalah salah satu
dari beberapa “penjaga” kos-kosan yang dipasang oleh pemilik
sebelumnya.
Dan “mereka” terkadang menampakkan diri pada penghuni kos baru, entah bermaksud iseng atau ingin berkenalan. Sedangkan kenapa “dia” menampakkan diri ke Mas B karena “mereka” tertarik pada kegiatan yang dilakukan Mas B, membersihkan keris.
Dan “mereka” terkadang menampakkan diri pada penghuni kos baru, entah bermaksud iseng atau ingin berkenalan. Sedangkan kenapa “dia” menampakkan diri ke Mas B karena “mereka” tertarik pada kegiatan yang dilakukan Mas B, membersihkan keris.
“Komplit kamu Yos, dah sah jadi anak sini..” celetuk Mas S.
“Maksudnya..?”
“Lha, kamu kan tempo hari itu dah disambut sama drum band. Nah, sekarang kamu disambut mesra juga sama penjaga sini. Pake dicium juga ngga?”
“Haahh..?!?!”
“Maksudnya..?”
“Lha, kamu kan tempo hari itu dah disambut sama drum band. Nah, sekarang kamu disambut mesra juga sama penjaga sini. Pake dicium juga ngga?”
“Haahh..?!?!”
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar